banner Senjakala yang Menjaga Rumah: Kisah Rindu dari Kampung Numbei

Senjakala yang Menjaga Rumah: Kisah Rindu dari Kampung Numbei

Debu laran salah satu kawasan tempat pemeliharaan ikan mujair (Naa Bulan ) oleh masyarakat kampung Numbei Desa Kateri, Kabupaten Malaka


Suara Numbei News - Senjakala turun perlahan di Kampung Numbei seperti doa panjang yang dilafalkan bumi kepada langit. Matahari merunduk di balik punggung perbukitan Malaka, memercikkan cahaya jingga yang meresap lembut ke sela daun lontar, ladang jagung, dan halaman rumah yang beralas tanah merah. Cahaya itu seperti pelukan terakhir hari kepada kampung—hangat, jujur, sekaligus menyisakan rasa haru yang sulit dijelaskan.

Di waktu seperti ini, Kampung Numbei selalu tampak lebih puitis. Asap dapur mengepul perlahan dari tungku kayu bakar, membawa aroma yang tak pernah bisa ditiru oleh dapur modern mana pun. Aroma itu adalah kenangan. Aroma itu adalah cerita tentang ibu-ibu yang menanak nasi sambil menunggu anak-anak pulang bermain. Aroma itu adalah bahasa kampung yang hanya dimengerti oleh hati yang pernah tinggal di dalamnya.

Suara anak-anak berlarian di halaman terdengar seperti tawa kehidupan yang masih polos. Mereka berlari mengejar layang-layang, mengejar bola plastik, atau sekadar mengejar bayangan senja yang memanjang di tanah. Mereka belum tahu bahwa suatu hari, kaki-kaki kecil itu akan berjalan jauh meninggalkan kampung, menapaki kota-kota besar, mengejar mimpi yang sering kali terasa lebih keras dari tanah yang mereka pijak sekarang.

Angin senja di Numbei berhembus pelan, seperti membawa pesan yang dititipkan leluhur. Ia menyusuri dedaunan, melewati pagar-pagar kayu, menyentuh wajah orang-orang tua yang duduk di beranda sambil menatap jalan kampung yang mulai lengang. Dalam keheningan itu, ada kerinduan yang tak pernah diucapkan. Kerinduan kepada anak-anak yang kini tinggal jauh di rantau, yang pulangnya sering tertunda oleh pekerjaan, tanggung jawab, dan kerasnya kehidupan kota.

Di saat seperti ini, kampung seolah memanggil. Bukan dengan suara, melainkan dengan rasa.

Bagi para perantau, senjakala di kampung sering hadir sebagai kenangan yang datang tiba-tiba di sela kesibukan kota. Ia hadir saat seseorang menatap jendela kamar kos setelah pulang kerja. Ia datang ketika hujan turun di kota, membawa aroma tanah basah yang samar mengingatkan pada halaman rumah masa kecil. Ia muncul ketika seseorang makan sendirian, lalu teringat bagaimana dulu makan malam selalu ditemani cerita keluarga.

Menjadi perantau adalah perjalanan keberanian, tetapi juga perjalanan kesepian yang jarang diceritakan. Di kota, manusia sering belajar menjadi kuat dengan cara memendam rindu. Mereka belajar tersenyum di tengah tekanan, belajar berdiri meski hati lelah, dan belajar menunda pulang karena merasa belum cukup berhasil untuk kembali.

Padahal, kampung tidak pernah menuntut keberhasilan apa pun.

Kampung hanya menunggu.

Numbei menunggu dengan cara yang sederhana. Jalan tanahnya tetap terbuka. Pohon-pohon tua tetap berdiri. Rumah-rumah tua tetap menyimpan cerita. Bahkan kursi bambu di beranda rumah masih setia menanti seseorang duduk di sana sambil menyeruput kopi pahit dan berbincang dengan orang tua yang diam-diam semakin renta.

Senjakala di Numbei selalu menyimpan kesedihan yang lembut. Ia seperti mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti. Orang tua perlahan menua. Rumah perlahan sunyi. Ladang yang dulu ramai perlahan sepi karena generasi mudanya pergi mencari penghidupan di tempat lain.

Namun, senjakala juga membawa harapan. Ia mengajarkan bahwa pulang bukanlah tanda kegagalan. Pulang adalah keberanian untuk kembali menyentuh akar kehidupan.

Sesekali, pulanglah.

Pulanglah bukan hanya ketika lebaran atau pesta adat. Pulanglah ketika hati terasa berat tanpa alasan. Pulanglah ketika kota mulai terasa terlalu bising untuk mendengar suara diri sendiri. Pulanglah meski hanya sebentar, sebab kampung tidak pernah menghitung lama atau singkatnya waktu seseorang kembali.

Di Numbei, senjakala selalu menyambut siapa pun yang pulang dengan cara yang sama—hangat, tanpa banyak pertanyaan. Kampung tidak pernah menanyakan berapa gaji seseorang di kota. Kampung tidak pernah menilai seberapa megah pakaian yang dikenakan. Kampung hanya ingin melihat anak-anaknya duduk kembali di halaman, mendengar mereka bercerita, dan melihat mereka tertawa seperti dulu.

Ada kebijaksanaan sunyi yang diajarkan senjakala kampung: bahwa manusia boleh pergi sejauh apa pun, tetapi hatinya selalu memiliki arah pulang. Sebab di tempat asal, manusia belajar arti diterima tanpa syarat.

Malam akhirnya turun di Kampung Numbei. Lampu-lampu rumah menyala seperti gugusan bintang kecil di bumi. Suara jangkrik mulai mengambil alih keheningan, menyanyikan lagu tua tentang kesabaran menunggu pagi. Dalam gelap yang hangat itu, kampung tetap berdiri, menjaga kenangan, menjaga cinta, dan menjaga harapan bahwa suatu hari, langkah-langkah yang pergi akan kembali terdengar di jalan tanah ini.

Bagi para perantau, mungkin hidup memang menuntut untuk terus berjalan. Tetapi sesekali, berhentilah sejenak. Dengarkan panggilan sunyi dari kampung halaman. Sebab ada rindu yang hanya bisa sembuh dengan pulang.

Dan di setiap senjakala di Kampung Numbei, selalu ada doa yang tak terucap—
semoga mereka yang jauh di rantau tetap kuat menjalani hidup,
dan suatu hari, menemukan jalan untuk pulang,
meski hanya untuk mengingat kembali siapa diri mereka sebenarnya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama