![]() |
| Debu laran salah satu kawasan tempat pemeliharaan ikan mujair (Naa Bulan ) oleh masyarakat kampung Numbei Desa Kateri, Kabupaten Malaka |
Di waktu seperti ini,
Kampung Numbei selalu tampak lebih puitis. Asap dapur mengepul perlahan dari
tungku kayu bakar, membawa aroma yang tak pernah bisa ditiru oleh dapur modern
mana pun. Aroma itu adalah kenangan. Aroma itu adalah cerita tentang ibu-ibu
yang menanak nasi sambil menunggu anak-anak pulang bermain. Aroma itu adalah
bahasa kampung yang hanya dimengerti oleh hati yang pernah tinggal di dalamnya.
Suara anak-anak
berlarian di halaman terdengar seperti tawa kehidupan yang masih polos. Mereka
berlari mengejar layang-layang, mengejar bola plastik, atau sekadar mengejar
bayangan senja yang memanjang di tanah. Mereka belum tahu bahwa suatu hari,
kaki-kaki kecil itu akan berjalan jauh meninggalkan kampung, menapaki kota-kota
besar, mengejar mimpi yang sering kali terasa lebih keras dari tanah yang
mereka pijak sekarang.
Angin senja di Numbei
berhembus pelan, seperti membawa pesan yang dititipkan leluhur. Ia menyusuri
dedaunan, melewati pagar-pagar kayu, menyentuh wajah orang-orang tua yang duduk
di beranda sambil menatap jalan kampung yang mulai lengang. Dalam keheningan
itu, ada kerinduan yang tak pernah diucapkan. Kerinduan kepada anak-anak yang
kini tinggal jauh di rantau, yang pulangnya sering tertunda oleh pekerjaan,
tanggung jawab, dan kerasnya kehidupan kota.
Di saat seperti ini,
kampung seolah memanggil. Bukan dengan suara, melainkan dengan rasa.
Bagi para perantau,
senjakala di kampung sering hadir sebagai kenangan yang datang tiba-tiba di
sela kesibukan kota. Ia hadir saat seseorang menatap jendela kamar kos setelah
pulang kerja. Ia datang ketika hujan turun di kota, membawa aroma tanah basah
yang samar mengingatkan pada halaman rumah masa kecil. Ia muncul ketika
seseorang makan sendirian, lalu teringat bagaimana dulu makan malam selalu
ditemani cerita keluarga.
Menjadi perantau adalah
perjalanan keberanian, tetapi juga perjalanan kesepian yang jarang diceritakan.
Di kota, manusia sering belajar menjadi kuat dengan cara memendam rindu. Mereka
belajar tersenyum di tengah tekanan, belajar berdiri meski hati lelah, dan
belajar menunda pulang karena merasa belum cukup berhasil untuk kembali.
Padahal, kampung tidak
pernah menuntut keberhasilan apa pun.
Kampung hanya menunggu.
Numbei menunggu dengan
cara yang sederhana. Jalan tanahnya tetap terbuka. Pohon-pohon tua tetap
berdiri. Rumah-rumah tua tetap menyimpan cerita. Bahkan kursi bambu di beranda
rumah masih setia menanti seseorang duduk di sana sambil menyeruput kopi pahit
dan berbincang dengan orang tua yang diam-diam semakin renta.
Senjakala di Numbei
selalu menyimpan kesedihan yang lembut. Ia seperti mengingatkan bahwa waktu
tidak pernah berhenti. Orang tua perlahan menua. Rumah perlahan sunyi. Ladang
yang dulu ramai perlahan sepi karena generasi mudanya pergi mencari penghidupan
di tempat lain.
Namun, senjakala juga
membawa harapan. Ia mengajarkan bahwa pulang bukanlah tanda kegagalan. Pulang
adalah keberanian untuk kembali menyentuh akar kehidupan.
Sesekali, pulanglah.
Pulanglah bukan hanya
ketika lebaran atau pesta adat. Pulanglah ketika hati terasa berat tanpa
alasan. Pulanglah ketika kota mulai terasa terlalu bising untuk mendengar suara
diri sendiri. Pulanglah meski hanya sebentar, sebab kampung tidak pernah
menghitung lama atau singkatnya waktu seseorang kembali.
Di Numbei, senjakala
selalu menyambut siapa pun yang pulang dengan cara yang sama—hangat, tanpa
banyak pertanyaan. Kampung tidak pernah menanyakan berapa gaji seseorang di
kota. Kampung tidak pernah menilai seberapa megah pakaian yang dikenakan.
Kampung hanya ingin melihat anak-anaknya duduk kembali di halaman, mendengar
mereka bercerita, dan melihat mereka tertawa seperti dulu.
Ada kebijaksanaan sunyi
yang diajarkan senjakala kampung: bahwa manusia boleh pergi sejauh apa pun,
tetapi hatinya selalu memiliki arah pulang. Sebab di tempat asal, manusia
belajar arti diterima tanpa syarat.
Malam akhirnya turun di
Kampung Numbei. Lampu-lampu rumah menyala seperti gugusan bintang kecil di
bumi. Suara jangkrik mulai mengambil alih keheningan, menyanyikan lagu tua
tentang kesabaran menunggu pagi. Dalam gelap yang hangat itu, kampung tetap
berdiri, menjaga kenangan, menjaga cinta, dan menjaga harapan bahwa suatu hari,
langkah-langkah yang pergi akan kembali terdengar di jalan tanah ini.
Bagi para perantau,
mungkin hidup memang menuntut untuk terus berjalan. Tetapi sesekali,
berhentilah sejenak. Dengarkan panggilan sunyi dari kampung halaman. Sebab ada
rindu yang hanya bisa sembuh dengan pulang.
Dan di setiap senjakala di Kampung Numbei, selalu
ada doa yang tak terucap—
semoga mereka yang jauh di rantau tetap kuat menjalani hidup,
dan suatu hari, menemukan jalan untuk pulang,
meski hanya untuk mengingat kembali siapa diri mereka sebenarnya.
