Ia mengendarai sepeda motor matic merahnya,
membawa sebuah kantong plastik merah besar yang digantung di
dashboard motor.
Di dalam kantong itu terdapat sekitar 10 tas
sekolah. Tas-tas tersebut akan dibagikan kepada siswa-siswi di Sekolah Dasar
Katolik (SDK) Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.
“Hari ini saya mengunjungi SDK Waiara untuk
membagikan oleh-oleh bagi adik-adik di sana. Ada tas dan alat tulis. Selain itu
saya juga akan mengunjungi satu keluarga di Desa Kajowair,” kata Veronika
sebelum berangkat dari Polres Sikka.
Beli Sembako
Veronika yang tinggal di asrama di dalam
kompleks Polres Sikka itu sempat singgah di sebuah minimarket
sekitar 150 meter dari kantor polisi. Ia membeli sejumlah kebutuhan pokok
seperti beras, gula, dan mi instan.
Bahan-bahan sembako itu kemudian ia letakkan di
motornya.
Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke kawasan Taman
Monumen Tsunami. Ia memarkir motornya di depan pertokoan lalu masuk ke sebuah
toko alat tulis untuk membeli tambahan perlengkapan belajar.
Perjalanan kemudian berlanjut ke SDK Waiara. Sekolah
itu bukan tempat yang asing baginya. Di sana, Veronika pernah menempuh
pendidikan dasar pada 1991 hingga 1996.
Pulang ke
Sekolah Lama
Kedatangan Veronika disambut hangat oleh para guru
dan siswa. Ia bahkan bertemu dengan gurunya semasa sekolah yang kini menjabat
sebagai Kepala SDK Waiara, Maria Alfonsa.
Sebelum membagikan perlengkapan belajar, Veronika
menyapa para siswa dan menceritakan masa kecilnya ketika masih bersekolah di
tempat tersebut.
Ia mengisahkan bagaimana dulu membawa bekal
sederhana seperti ubi dan jagung bakar ke sekolah. Sepulang sekolah, ia juga
harus membawa jeriken untuk menimba air dari sumur dan membawanya pulang ke
rumah.
Pengalaman itu ia ceritakan untuk menyemangati para
siswa agar tetap tekun belajar dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
Di sekolah itu, Veronika membagikan tas, buku tulis,
pulpen, pensil, serta minuman ringan kepada para siswa. Bantuan tersebut
disambut dengan penuh sukacita.
Maria Alfonsa mengatakan Veronika adalah salah satu
alumni SDK Waiara yang berhasil meraih cita-cita menjadi polisi wanita.
“Dia alumni dari sekolah ini. Ia berjuang untuk
meraih mimpinya dan sampai sekarang masih peduli membantu orang-orang yang
membutuhkan,” kata Maria.
Menyambangi Anak
yang Hampir Putus Sekolah
Setelah dari SDK Waiara, Veronika melanjutkan
perjalanan menuju Dusun Wegok, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang.
Di sana ia mengunjungi seorang siswa kelas V sekolah
dasar bernama Fransiskus Alfandi Nona (10). Anak yang akrab disapa Alfa itu
sempat berhenti sekolah.
Alfa tinggal bersama kakak perempuannya yang berusia
19 tahun dan adik perempuannya yang masih PAUD. Mereka diasuh oleh kakek dan
neneknya.
Neneknya, Karolina Nurak (70), dan kakeknya, Mateus
Bero (80), merawat cucu-cucu tersebut setelah ayah mereka merantau dan ibu
mereka meninggalkan keluarga itu sejak dua tahun lalu tanpa kabar.
Menurut keluarga, Alfa sempat tidak lagi bersekolah.
Para guru telah berusaha membujuknya kembali belajar, tetapi belum berhasil.
Hingga suatu waktu, guru menyampaikan kondisi itu
kepada Bhabinkamtibmas yang bertugas di wilayah tersebut. Polisi itu kemudian
membantu memberikan perlengkapan belajar kepada Alfa.
Sejak saat itu Alfa kembali bersemangat untuk
bersekolah.
Kabar tersebut kemudian sampai kepada Veronika. Ia
memutuskan untuk mengunjungi Alfa dan keluarganya.
Sembako yang sebelumnya ia beli di minimarket
diberikan kepada keluarga tersebut. Ia juga membawa buku tulis untuk Alfa.
Saat melihat kondisi rumah keluarga itu yang kecil,
sempit, berlantai tanah dan berdinding pelepah bambu, Veronika mengaku tergerak
untuk membantu.
Ia bahkan berencana berdiskusi dengan adiknya untuk
membantu rencana pembangunan rumah keluarga tersebut.
Kerabat keluarga Alfa, Petrus Woda (89), mengatakan
kehidupan keluarga itu memang cukup berat. Sang nenek masih bekerja keras
menenun untuk memenuhi kebutuhan hidup cucu-cucunya.
Karena itu, ia berharap ada bantuan bagi keluarga
tersebut, termasuk benang tenun maupun kebutuhan lainnya.
Mengabdi Lewat
Aksi Kemanusiaan
Bagi Veronika, kegiatan membantu masyarakat seperti
ini bukan hal baru.
Ia mengaku mulai melakukan kegiatan sosial sejak
pertama kali bertugas di Polres Sikka pada 2004, setelah
sebelumnya menjalani masa magang sekitar enam bulan di Polres Kupang Kota.
Sejak saat itu, ia sering mengunjungi masyarakat
dari rumah ke rumah dan dari kampung ke kampung menggunakan sepeda motornya.
Ia tidak bekerja sendiri. Dua orang adiknya juga
kerap membantu kegiatan tersebut.
Sebagian dari gajinya ia sisihkan untuk membantu
masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Veronika, apa yang ia lakukan bukan
semata-mata karena seragam polisi yang ia kenakan, tetapi karena panggilan
kemanusiaan.
Ia memahami betul kerasnya kehidupan karena ia
sendiri tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sederhana.
Pengalaman masa kecil itulah yang membuatnya terus
berikhtiar membantu sesama hingga kini.
Atas dedikasinya dalam membantu masyarakat melalui
berbagai aksi kemanusiaan, Veronika menerima penghargaan Polisi Inspiratif
Polda NTT 2026.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk
apresiasi atas kepeduliannya terhadap masyarakat, terutama anak-anak dan
keluarga kurang mampu di Kabupaten Sikka. (Kgg) *** flores.tribunnews.com
