banner Jangan-Jangan Kita Terlalu Sibuk Membela Tuhan, Sampai Lupa Membunuh Kesombongan Diri

Jangan-Jangan Kita Terlalu Sibuk Membela Tuhan, Sampai Lupa Membunuh Kesombongan Diri


Suara Numbei News - Ada manusia yang begitu rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi begitu malas bercermin kepada dirinya sendiri. Ia hafal banyak doa, mengenal banyak ayat, rajin hadir dalam peribadatan, bahkan berdiri paling depan ketika berbicara tentang iman. Namun anehnya, semakin banyak ia berbicara tentang Tuhan, semakin mudah ia merendahkan manusia. Di titik itulah kita patut bertanya: jangan-jangan yang sedang ia bela bukan Tuhan, melainkan egonya sendiri yang sedang mengenakan pakaian agama?

Kisah tentang kejatuhan Iblis dalam iman Katolik menyimpan pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kisah tentang makhluk jahat. Gereja mengajarkan bahwa Iblis bukanlah tandingan Allah. Ia bukan kekuatan yang setara dengan Tuhan. Ia adalah makhluk ciptaan yang, melalui kehendak bebasnya, menolak Allah dan kehendak-Nya. Dengan demikian, tragedi kejatuhan bukanlah karena Iblis tidak mengenal Allah. Justru persoalannya terletak pada kehendak yang tidak mau tunduk kepada Allah.

Di sinilah kesombongan menjadi persoalan yang sangat serius.

Kesombongan tidak selalu datang dengan wajah kasar. Kadang ia datang dengan wajah yang sangat sopan. Ia memakai bahasa agama. Ia mengutip Kitab Suci. Ia berbicara tentang kebenaran. Ia bahkan menangis ketika berdoa. Tetapi di balik semuanya itu terdapat satu keinginan tersembunyi: aku ingin kehendakku sendiri dianggap sebagai kehendak Tuhan.

Bukankah ini yang sering terjadi dalam kehidupan manusia?

Kita mudah mengatakan, "Tuhan tidak menyukai orang seperti dia." Kita cepat berkata, "Tuhan pasti menghukum mereka." Kita merasa paling tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita menghakimi orang lain seolah-olah kita telah duduk di kursi pengadilan Tuhan.

Padahal, siapa yang memberi kita hak untuk mengambil tempat Tuhan?

Iman seharusnya membuat manusia semakin rendah hati. Tetapi kadang-kadang agama justru dipakai sebagai tangga untuk menaikkan diri sendiri. Orang menggunakan kesalehan untuk mendapatkan penghormatan. Menggunakan kebenaran untuk mempermalukan orang lain. Menggunakan Kitab Suci untuk memenangkan perdebatan. Menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kebencian.

Ini bukan lagi soal iman yang semakin dalam.

Ini soal ego yang semakin pintar bersembunyi.

Sebab ego yang paling berbahaya bukan ego yang berteriak, "Aku adalah Tuhan." Ego yang lebih halus berkata, "Aku tahu persis apa yang Tuhan mau."

Kalimat kedua terdengar lebih religius, tetapi dapat menjadi jebakan yang sama ketika manusia tidak lagi membuka dirinya terhadap pertobatan, kasih, kebenaran, dan kerendahan hati.

Karena itu, persoalan manusia beriman bukan hanya apakah ia percaya kepada Tuhan. Persoalan yang lebih dalam adalah: apakah ia bersedia membiarkan Tuhan mengoreksi dirinya?

Sebab mudah percaya kepada Tuhan ketika Tuhan seolah-olah menyetujui keinginan kita. Yang sulit adalah tetap taat ketika kehendak Tuhan bertentangan dengan ego kita.

Mudah berdoa ketika doa kita meminta kemenangan.

Sulit berdoa ketika Tuhan meminta kita mengampuni.

Mudah berbicara tentang kasih ketika kita sedang dicintai.

Sulit mengasihi ketika kita sedang disakiti.

Mudah mengatakan bahwa Tuhan itu adil ketika kita mendapatkan keuntungan.

Sulit menerima keadilan ketika kita sendiri harus mengakui kesalahan.

Di situlah iman diuji.

Bukan di bibir.

Bukan di pakaian.

Bukan di banyaknya simbol keagamaan.

Tetapi di dalam hati yang bersedia berkata: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi."

Inilah jalan yang berlawanan dengan kesombongan. Dan di sinilah Kristus menjadi pusat iman Katolik.

Kristus tidak mengajarkan manusia untuk menjadi besar dengan merendahkan orang lain. Ia menunjukkan jalan yang berbeda: melayani. Ia tidak mengajarkan kemenangan melalui penghancuran terhadap sesama. Ia menunjukkan salib. Ia tidak mengajarkan bahwa orang beriman harus selalu menang dalam perdebatan. Ia mengajarkan kasih, pengampunan, dan pengorbanan.

Salib adalah tamparan paling keras terhadap kesombongan manusia.

Di hadapan salib, tidak ada ruang untuk merasa paling hebat.

Di hadapan salib, kita semua hanyalah manusia yang membutuhkan rahmat.

Maka mungkin pertanyaan terbesar bagi kita bukanlah, "Seberapa religius aku?"

Pertanyaannya adalah:

"Apakah agamaku membuatku semakin rendah hati?"

Apakah setelah rajin berdoa kita semakin mudah mengampuni?

Apakah setelah membaca Kitab Suci kita semakin mampu memahami penderitaan orang lain?

Apakah setelah mengikuti Misa kita semakin mampu melayani?

Apakah setelah berbicara tentang Tuhan kita semakin mampu menahan lidah untuk tidak memfitnah?

Kalau jawabannya tidak, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa.

Sebab bisa saja kita sedang sibuk membangun citra sebagai orang suci, tetapi lupa membangun hati yang kudus.

Kita sibuk memperbaiki wajah agama di depan manusia, tetapi lupa memperbaiki hati di hadapan Tuhan.

Kita sibuk menunjukkan bahwa orang lain salah, tetapi lupa bahwa kita sendiri masih membutuhkan pertobatan.

Dan di situlah agama dapat berubah menjadi cermin yang hanya digunakan untuk melihat wajah orang lain.

Padahal cermin yang diberikan Tuhan seharusnya pertama-tama diarahkan kepada diri sendiri.

Lihatlah dirimu.

Apa yang sedang tumbuh di dalam hatimu?

Kasih atau kebencian?

Kerendahan hati atau kesombongan?

Pengampunan atau dendam?

Kebenaran atau kepentingan diri?

Tuhan atau ego?

Sebab mungkin musuh terbesar iman bukanlah orang yang berbeda agama.

Bukan pula orang yang tidak sepaham dengan kita.

Bisa jadi musuh terbesar iman justru kesombongan yang tumbuh diam-diam di dalam diri orang yang merasa dirinya paling beriman.

Itulah sebabnya kisah kejatuhan Iblis seharusnya tidak hanya membuat kita menunjuk ke luar diri dan berkata, "Lihatlah betapa jahatnya dia."

Sebaliknya, kisah itu seharusnya membuat kita bertanya:

"Apakah ada sedikit kesombongan yang sama sedang tumbuh di dalam diriku?"

Karena manusia bisa saja tidak pernah berkata, "Aku menolak Tuhan," tetapi setiap hari hidup seolah-olah berkata, "Tuhan harus mengikuti kehendakku."

Dan mungkin di situlah dosa paling halus bekerja.

Bukan dengan membuat manusia berhenti menyebut nama Tuhan.

Tetapi dengan membuat manusia menyebut nama Tuhan sambil tetap menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segala sesuatu.

Maka sebelum kita sibuk mengoreksi iman orang lain, mungkin ada baiknya kita berlutut lebih dahulu.

Sebelum menuding dosa orang lain, mari bertanya tentang dosa kita sendiri.

Sebelum mengatakan siapa yang jauh dari Tuhan, mari bertanya apakah hati kita sendiri benar-benar dekat dengan-Nya.

Sebab orang yang sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan biasanya tidak semakin sibuk meninggikan dirinya.

Ia justru semakin sadar betapa kecil dirinya.

Dan mungkin, di situlah iman yang sejati mulai berbicara.

Bukan ketika kita berhasil membuat orang lain tunduk kepada kita, tetapi ketika kita akhirnya mampu menundukkan kesombongan kita sendiri di hadapan Tuhan.

— Setapak Rai Numbei
Jernih melihat fakta, tajam membaca makna.



 



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama