Meski rasa panik terus menghantui, mereka tetap
memilih bertahan di bawah tenda darurat yang terbuat dari bambu dan terpal
seadanya.
Di tengah rasa kepanikan itu, pihak pemerintah hadir
lewat bantuan darurat berupa sebutir telur, segelas beras dan sebungkus mi
instan. Bantuan itu disalurkan melalui Pemerintah Desa dan diteruskan oleh
dusun.
“Ini bantuan darurat dari pemerintah desa yang kami
terima hari ini,” ujar Ola, salah satu korban terdampak, Rabu (19/8/2026)
melalui pesan singkat.
Warga lain yang jadi korban, Marianus Darmi, tetap
bersyukur meski bantuan ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Mungkin ini wujud kehadiran pemerintah di tengah
kami yang sedang dilanda musibah,” ujar Marianus.
Untuk Kampung Topak, di Kecamatan Rahong Utara,
merupakan salah satu titik yang alami dampak gempa yang cukup besar. Ada 10
rumah yang rusak parah dan tidak lagi layak huni. Sementara 11 rumah mengalami
kerusakan ringan.
Acik Mayo, anak muda setempat, mengharapkan ada
perhatian dari pemerintah untuk meringankan beban bencana yang dialami korban.
“Sangat diharapkan bantuan dari pemerintah, lembaga
sosial, organisasi kemanusiaan, khusus untuk korban seperti tempat huni
sementara bagi yang alami kerusakan berat,” ujar dia melalui pesan singkat.
Gempa bermagnitudo 7,7 menghantam Flores pada Sabtu
(15/8/2026), meninggalkan duka yang mendalam. Hingga kini data yang meninggal
dunia berjumlah 70 jiwa. Sementara warga terdampak dengan mengalami kerusakan
fasilitas rumah tembus 11.925 berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) per 18 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebaran korban terbanyak
dengan tingkat kerusakan berat terjadi di Kabupaten Manggarai. *** poskupang.com
