Di tepian Sungai Benenain, masyarakat Numbei
memahami satu pelajaran sederhana: sebuah jembatan tidak selesai ketika fotonya
terlihat sempurna, tetapi ketika langkah pertama rakyat melintasinya dengan
rasa aman.
Di sinilah kegelisahan itu bermula.
Ketika foto-foto hasil AI mulai beredar
menggambarkan Jembatan Gantung Numbei seolah telah rampung, sesungguhnya yang
dipertaruhkan bukan sekadar estetika visual. Yang dipertaruhkan adalah integritas
informasi. Sebab gambar tidak hanya menyampaikan keindahan; gambar membentuk
persepsi, memengaruhi keyakinan, bahkan mengonstruksi ingatan kolektif
masyarakat.
Filsuf Prancis Jean Baudrillard dalam Simulacra and
Simulation (1981) mengingatkan bahwa masyarakat modern dapat terjebak dalam simulacrum,
yaitu keadaan ketika representasi lebih dipercaya daripada realitas itu
sendiri. Pada titik itu, manusia tidak lagi membedakan mana fakta dan mana
citra. Yang terlihat dianggap sebagai yang benar.
Jika sebuah ilustrasi AI tanpa penjelasan menampilkan
Jembatan Numbei seolah telah selesai, maka masyarakat tidak hanya sedang
melihat sebuah gambar. Mereka sedang diperhadapkan pada kemungkinan lahirnya realitas
semu, ketika citra mendahului kenyataan.
Padahal pembangunan bukanlah seni menciptakan ilusi.
Pembangunan adalah janji yang diwujudkan melalui
kerja nyata.
Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann,
melalui karya klasik The Social Construction of Reality (1966), menjelaskan
bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses komunikasi yang terus-menerus.
Apa yang terus dilihat dan dipercaya publik lambat laun diterima sebagai
kenyataan. Karena itu, komunikasi pembangunan harus berpijak pada fakta, bukan
sekadar membangun persepsi.
Dalam konteks pembangunan Jembatan Gantung Numbei,
gambar AI tentu dapat digunakan sebagai ilustrasi desain atau gambaran masa
depan. Namun ketika ilustrasi tersebut tidak dibedakan secara jelas dari
kondisi nyata, komunikasi publik berpotensi kehilangan fungsi etiknya. Informasi
yang seharusnya memperjelas justru dapat mengaburkan.
Lebih jauh, filsuf Hannah Arendt pernah menulis
bahwa ketika batas antara fakta dan fiksi mulai kabur, masyarakat perlahan
kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan kenyataan. Dalam
ruang publik yang sehat, fakta harus tetap menjadi fondasi utama.
Bagi masyarakat Numbei, jembatan bukanlah objek
fotografi.
Ia adalah jalan pulang.
Ia adalah harapan seorang anak yang ingin tiba di
sekolah tanpa menantang derasnya sungai.
Ia adalah doa seorang ibu yang menunggu suaminya
kembali dari ladang.
Ia adalah denyut ekonomi yang selama bertahun-tahun
tertahan oleh keterisolasian.
Karena itu, membayangkan jembatan telah selesai
melalui teknologi mungkin terasa indah bagi mereka yang jauh dari Numbei. Namun
bagi warga yang setiap hari menyaksikan progres pembangunan dengan mata kepala
sendiri, keindahan itu justru dapat terasa seperti ironi.
Ilmuwan komunikasi Marshall McLuhan pernah
mengatakan, "The medium is the message." Dalam konteks hari ini,
gambar bukan lagi sekadar pelengkap informasi. Gambar adalah pesan itu sendiri.
Apa yang ditampilkan akan membentuk cara publik memahami kenyataan.
Maka, penggunaan AI dalam komunikasi pembangunan
membutuhkan tanggung jawab moral. Teknologi seharusnya memperkuat transparansi,
bukan menggantikannya. AI semestinya membantu masyarakat membayangkan masa
depan tanpa mengaburkan keadaan hari ini.
Masyarakat Numbei tidak sedang menolak kemajuan
teknologi.
Mereka hanya berharap bahwa kemajuan teknologi
berjalan berdampingan dengan kejujuran.
Karena pembangunan sejati tidak lahir dari gambar
yang viral, melainkan dari komitmen yang ditunaikan.
Biarlah foto-foto hari ini merekam proses apa
adanya.
Biarlah suara palu, deru alat berat, dan langkah
para pekerja menjadi narasi yang jujur tentang sebuah perjuangan.
Dan ketika kelak Jembatan Gantung Numbei benar-benar
berdiri utuh, masyarakat tidak membutuhkan kecerdasan buatan untuk membuatnya
tampak indah. Sebab keindahan yang lahir dari kenyataan selalu lebih agung
daripada keindahan yang diciptakan oleh imajinasi.
Sebab sejarah tidak pernah dibangun oleh gambar yang
mendahului kenyataan. Sejarah dibangun oleh kenyataan yang akhirnya mampu
melampaui segala gambar.
