banner Leluhur Kita Tidak Bodoh, Kita Saja yang Berhenti Bertanya

Leluhur Kita Tidak Bodoh, Kita Saja yang Berhenti Bertanya

Tentang ilmu yang hidup dalam bahasa Tetun, pangan lokal, tanaman obat, musim, tanah, dan adat—tetapi perlahan kehilangan pewarisnya.


Suara Numbei News - Ada pengetahuan yang tidak pernah masuk ruang kuliah, tidak tercatat dalam jurnal ilmiah, dan tidak memiliki sertifikat akademis. Namun, pengetahuan itu telah membantu manusia bertahan hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ia diwariskan dari mulut ke mulut, dari tangan orang tua kepada anak, dari pengalaman kepada pengalaman. Di Timor dan Malaka, pengetahuan semacam itu masih hidup dalam ingatan para tetua adat, petani, mama-mama yang mengenal tanaman, para pengrajin, dan masyarakat yang setiap hari berhadapan langsung dengan alam.

Mereka mungkin tidak mengenal istilah ilmiah untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan. Namun mereka mengamati. Mereka mencoba. Mereka mengalami kegagalan. Mereka memperbaiki. Dari proses panjang itulah pengetahuan terbentuk.

Masalahnya, pengetahuan tersebut kini menghadapi ancaman yang sunyi: putusnya pewarisan.

Ketika seorang tetua meninggal tanpa sempat mewariskan pengetahuannya kepada generasi berikutnya, yang hilang bukan hanya seorang manusia. Bisa jadi, ikut terkubur pula sebuah perpustakaan yang tidak pernah memiliki gedung.

Di sinilah kita perlu bertanya: apakah semua pengetahuan harus lahir dari ruang akademis agar disebut pengetahuan?

Tentu tidak. Ilmu pengetahuan modern memiliki mekanisme pengujian yang sistematis melalui penelitian, observasi, eksperimen, dan verifikasi. Namun sejarah pengetahuan manusia jauh lebih tua daripada universitas dan laboratorium. Sebelum manusia mengenal jurnal ilmiah, masyarakat telah belajar membaca alam melalui pengalaman.

Pengetahuan lokal tentang tanaman, pangan, tanah, musim, air, dan lingkungan terbentuk dari hubungan panjang antara manusia dan tempat tinggalnya. Karena itu, pengetahuan lokal tidak harus ditempatkan sebagai lawan ilmu akademis. Justru ia dapat menjadi sumber pertanyaan yang kemudian diuji secara ilmiah.

Pengetahuan tentang tanaman obat, misalnya, tidak otomatis benar hanya karena diwariskan leluhur. Khasiat, keamanan, dosis, dan efek samping tetap membutuhkan penelitian. Tetapi sebaliknya, sesuatu yang belum diuji secara akademis juga tidak berarti tidak memiliki nilai untuk diteliti.

Belum terbukti secara ilmiah bukan berarti tidak layak menjadi objek penelitian.

Di Timor dan Malaka, persoalan tersebut semakin menarik ketika kita berbicara tentang bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa menyimpan cara manusia memahami dunia. Di dalam bahasa Tetun dan bahasa-bahasa lokal lainnya terdapat istilah tentang hubungan kekerabatan, alam, adat, pangan, kehidupan sosial, dan pengalaman manusia yang dibentuk selama generasi.

Ketika sebuah istilah hilang dari penggunaan, yang mungkin hilang bukan hanya sebuah kata, tetapi juga konteks budaya yang membuat kata itu memiliki makna.

Karena itu, menjaga bahasa lokal bukan berarti menolak modernitas. Justru bahasa lokal dapat menjadi salah satu pintu untuk memahami pengetahuan masyarakat yang belum banyak terdokumentasikan.

Hal yang sama berlaku pada pangan lokal.

Jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, sorgum, dan berbagai pangan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Timor bukan sekadar makanan. Di baliknya terdapat pengetahuan mengenai benih, musim tanam, pengolahan, penyimpanan, dan cara menghadapi keterbatasan alam.

Generasi terdahulu mungkin tidak menggunakan istilah ketahanan pangan atau adaptasi perubahan iklim. Namun mereka memiliki pengalaman menghadapi kekeringan, keterbatasan air, perubahan musim, dan masa paceklik.

Ironisnya, ketika dunia modern semakin banyak membicarakan diversifikasi pangan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan, sebagian masyarakat justru semakin jauh dari pangan lokal yang dahulu menjadi bagian dari strategi bertahan hidup.

Begitu pula dengan kemampuan membaca musim.

Masyarakat dahulu memperhatikan arah angin, awan, perubahan suhu, perilaku hewan, kondisi tanah, dan tanda-tanda alam lainnya. Pengetahuan tersebut tentu tidak menggantikan meteorologi modern. Teknologi satelit, data cuaca, dan model atmosfer tetap memiliki fungsi penting.

Namun pengalaman masyarakat juga memiliki nilai karena lahir dari pengamatan langsung terhadap lingkungan setempat.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah kita harus memilih pengetahuan lokal atau ilmu modern. Pertanyaannya adalah: bagaimana keduanya dapat saling melengkapi?

Ilmu modern memiliki instrumen dan metode. Masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan kontekstual. Ketika keduanya dipertemukan secara setara, kita tidak hanya mendapatkan data, tetapi juga pemahaman yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Demikian pula dengan adat.

Adat tidak semata-mata tentang pakaian tradisional, tarian, atau upacara. Dalam kehidupan masyarakat, adat juga dapat menyimpan aturan mengenai hubungan sosial, penghormatan terhadap leluhur, pemanfaatan lingkungan, penyelesaian konflik, serta tanggung jawab antarkeluarga.

Namun tradisi juga tidak harus diterima tanpa kritik. Sesuatu yang diwariskan bukan berarti otomatis benar untuk selamanya. Tradisi dapat dikaji, dievaluasi, dan disesuaikan dengan hukum, keselamatan, ilmu pengetahuan, serta nilai kemanusiaan.

Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk membedakan antara melestarikan kebijaksanaan dan mempertahankan sesuatu hanya karena sudah lama dilakukan.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting.

Sekolah di Timor dan Malaka seharusnya tidak hanya mengajarkan anak tentang dunia yang jauh dari tempat mereka tinggal. Kampung sendiri dapat menjadi ruang belajar. Anak dapat diajak mendokumentasikan tanaman lokal, mewawancarai tetua, mencatat istilah bahasa daerah, mempelajari pangan lokal, meneliti perubahan musim, dan memahami sejarah kampungnya.

Pengetahuan lokal dapat menjadi titik awal pembelajaran ilmiah.

Seorang anak dapat bertanya kepada neneknya tentang tanaman tertentu. Pertanyaan itu kemudian dibawa ke sekolah. Guru membantu menyusun penelitian. Data dikumpulkan. Temuan dibandingkan dengan literatur ilmiah. Jika perlu, penelitian dilanjutkan di perguruan tinggi.

Dengan demikian, sekolah menjadi jembatan antara ingatan leluhur dan ilmu pengetahuan modern.

Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan bahwa pengetahuan lokal belum semuanya terdokumentasikan. Yang lebih berbahaya adalah ketika generasi muda tidak lagi merasa perlu bertanya.

Tidak bertanya kepada kakek.

Tidak bertanya kepada nenek.

Tidak bertanya kepada tetua adat.

Tidak bertanya kepada petani.

Tidak bertanya kepada mereka yang masih menyimpan pengalaman puluhan tahun.

Padahal sebuah pertanyaan sederhana—"Mengapa begitu?"—dapat menjadi awal dari sebuah penelitian.

Karena itu, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas adat, dan generasi muda perlu mulai memikirkan dokumentasi pengetahuan lokal secara lebih serius. Rekaman suara, tulisan, foto, video, arsip digital, penelitian, dan dokumentasi bahasa dapat menjadi cara untuk mencegah pengetahuan hilang bersama pemiliknya.

Tetapi dokumentasi juga harus dilakukan secara etis. Pengetahuan komunitas bukan barang bebas yang dapat diambil begitu saja. Harus ada penghormatan terhadap pemilik pengetahuan, persetujuan, atribusi, serta perhatian terhadap hak dan manfaat komunitas apabila pengetahuan tersebut memiliki nilai ekonomi.

Pada akhirnya, persoalan pengetahuan lokal bukan pertentangan antara masa lalu dan masa depan.

Masyarakat Timor tidak harus memilih antara rumah adat dan laboratorium. Anak-anak tidak harus memilih antara bahasa Tetun dan teknologi digital. Pangan lokal tidak harus berhadapan dengan ilmu pertanian modern.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mempertemukan semuanya.

Pengetahuan leluhur dapat didokumentasikan. Tradisi dapat dikaji. Bahasa dapat dilestarikan. Pangan lokal dapat dikembangkan. Pengalaman masyarakat dapat diuji melalui penelitian.

Sebab masyarakat yang maju bukan masyarakat yang berhasil melupakan masa lalunya.

Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mampu membawa ingatan masa lalu ke dalam percakapan dengan ilmu pengetahuan masa depan.

Dan mungkin, pertanyaan terbesar bagi kita hari ini bukanlah apakah pengetahuan lokal lebih tinggi daripada ilmu akademis.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana, tetapi sekaligus lebih mengganggu:

Berapa banyak pengetahuan yang sedang mati hari ini hanya karena tidak ada lagi orang yang mau bertanya kepada mereka yang masih mengingatnya?

Ketika seorang tetua meninggal dan seluruh pengetahuannya ikut terkubur, kita kehilangan lebih dari sekadar cerita.

Kita kehilangan kesempatan untuk belajar.

Sebab pengetahuan yang tidak memiliki pewaris pada akhirnya hanya akan menjadi sejarah yang tidak sempat ditulis.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama