banner Dari Raja Pejuang hingga Nama Kodam, Sobe Sonbai Diabadikan untuk NTT

Dari Raja Pejuang hingga Nama Kodam, Sobe Sonbai Diabadikan untuk NTT

Monumen Pahlawan Sonbai di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Foto:Nahor vn

Suara Numbei News - Nama Sobe Sonbai kembali menjadi perhatian publik Nusa Tenggara Timur. Bukan hanya sebagai bagian dari sejarah panjang perlawanan rakyat Timor terhadap kolonialisme Belanda, tetapi kini namanya resmi menjadi identitas Komando Daerah Militer (Kodam) XXVII/Sobe Sonbai, yang membawahi wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kodam XXVII/Sobe Sonbai resmi diperkenalkan dalam momentum peringatan HUT ke-81 TNI di Lapangan Prima, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 5 Oktober 2026. Presiden Prabowo Subianto meresmikan 204 satuan baru TNI, termasuk enam Kodam baru di berbagai wilayah Indonesia.

Untuk Kodam XXVII/Sobe Sonbai, Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua dipercaya menjadi Pangdam pertama.

Mengapa Sobe Sonbai?

Pemilihan nama Sobe Sonbai bukan sekadar pemberian nama administratif bagi sebuah satuan militer.

Nama tersebut merujuk pada salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Timor. Sobe Sonbai dikenal sebagai bagian dari Dinasti Sonbai yang selama beberapa generasi mempertahankan wilayah dan kekuasaannya dari tekanan kolonial Belanda.

Perlawanan itu tidak berlangsung dalam waktu singkat. Sejarah mencatat perjuangan Dinasti Sonbai berlangsung lintas generasi, mulai dari Raja Sonbai I, kemudian Sobe Sonbai II, hingga Sobe Sonbai III.

Sobe Sonbai dan rakyatnya menghadapi berbagai tekanan, termasuk politik pecah belah yang digunakan Belanda untuk melemahkan kekuatan Sonbai.

Karena itu, nama Sobe Sonbai kemudian melekat dalam ingatan sejarah masyarakat Timor sebagai simbol perjuangan menghadapi kekuasaan kolonial.

Perlawanan yang diwariskan tiga generasi

Perjuangan Sonbai menjadi salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan masyarakat Timor terhadap Belanda.

Raja Sonbai I menghadapi tekanan kolonial hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Setelah generasi pertama berakhir, perlawanan tidak ikut berhenti.

Sobe Sonbai II meneruskan perjuangan di tengah politik pecah belah Belanda. Bahkan pada 1836, Sonbai bersama kekuatan kerajaan-kerajaan kecil yang masih mendukungnya melakukan serangan terhadap pusat pemerintahan Belanda di Kupang.

Perjuangan kemudian dilanjutkan Sobe Sonbai III. Ia memperkuat pertahanan dengan membangun sejumlah benteng untuk menghadapi serangan Belanda.

Pada akhirnya Sobe Sonbai III ditangkap pada 1906 dan kemudian mengalami pembuangan. Ia meninggal pada 1923.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa perlawanan masyarakat Timor terhadap kolonialisme bukanlah perjuangan satu orang ataupun satu generasi, melainkan perjuangan yang diwariskan.

Nama sejarah memasuki babak baru

Kini, lebih dari satu abad setelah masa perjuangan Sobe Sonbai, namanya kembali hadir dalam bentuk yang berbeda.

Kodam XXVII/Sobe Sonbai menjadi komando kewilayahan TNI Angkatan Darat yang membawahi Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya, wilayah NTT berada dalam jajaran Kodam IX/Udayana. Pembentukan Kodam baru membuat struktur komando pertahanan di NTT berdiri sendiri. Dalam pemaparan sebelumnya, TNI menyebut nama Sobe Sonbai diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan masyarakat NTT.

Bagi NTT, pilihan tersebut menghadirkan hubungan simbolis antara sejarah masa lalu dan kebutuhan pertahanan masa kini.

Jika dahulu nama Sonbai melekat pada perjuangan mempertahankan tanah dan kekuasaan masyarakat Timor dari kolonialisme, kini nama tersebut menjadi identitas institusi pertahanan negara di wilayah yang sama.

Dari perjuangan melawan penjajahan hingga menjaga perbatasan

Konteks NTT hari ini tentu berbeda dengan zaman Sobe Sonbai.

NTT merupakan wilayah yang memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan Australia. Karena itu, kehadiran Kodam baru juga dikaitkan dengan penguatan pertahanan serta pengamanan kawasan perbatasan.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyebut kehadiran Kodam XXVII/Sobe Sonbai sebagai langkah penting untuk memperkuat pertahanan sekaligus mendorong pembangunan di wilayah perbatasan.

Dengan demikian, nama Sobe Sonbai kini membawa dua lapisan makna.

Pertama, sebagai jejak sejarah perjuangan masyarakat Timor.

Kedua, sebagai identitas institusi pertahanan negara di Nusa Tenggara Timur.

Di sinilah sejarah menjadi lebih dari sekadar cerita masa lalu.

Nama yang dahulu lahir dari perjuangan melawan kekuasaan kolonial kini ditempatkan pada sebuah institusi yang memiliki tugas menjaga kedaulatan negara.

Sebuah nama, sebuah ingatan

Perjalanan nama Sobe Sonbai memperlihatkan bagaimana sejarah dapat terus hidup melampaui zamannya.

Dari kisah seorang raja dan rakyatnya yang menghadapi kolonialisme, nama itu kini berdiri di tengah struktur pertahanan modern Indonesia.

Namun, mengabadikan sebuah nama sejarah juga berarti menjaga ingatan tentang nilai yang menyertainya.

Sobe Sonbai bukan sekadar nama yang tertulis setelah angka Romawi XXVII.

Ia membawa cerita tentang Timor, tentang perlawanan, tentang tanah, tentang rakyat dan tentang sejarah panjang Nusa Tenggara Timur.

Kini, ketika Kodam XXVII/Sobe Sonbai memasuki babak baru, nama tersebut kembali menjadi pengingat bahwa pertahanan sebuah wilayah tidak hanya dibangun melalui struktur dan kekuatan militer, tetapi juga melalui penghormatan terhadap sejarah dan identitas masyarakat yang menjaganya.

Dari Sonbai yang melawan penjajahan, kepada Sobe Sonbai yang menjadi nama Kodam: sejarah Timor kini menemukan ruang baru dalam perjalanan Indonesia menjaga kedaulatannya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama