banner Duka dari Sikka NTT! Siswa SD Kelas V Meninggal Dunia, Dugaan Persoalan HP Jadi Sorotan

Duka dari Sikka NTT! Siswa SD Kelas V Meninggal Dunia, Dugaan Persoalan HP Jadi Sorotan



Suara Numbei News - Duka menyelimuti Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah seorang siswa sekolah dasar berinisial AP meninggal dunia di rumahnya di Dusun Lirikelang, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Selasa (20/10/2026).

Peristiwa tragis yang menimpa siswa kelas V SDN Lirikelang tersebut menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan bahwa kejadian itu berkaitan dengan permintaan korban untuk membawa telepon genggam (HP) ke sekolah yang tidak diizinkan oleh ibunya.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama peristiwa yang merenggut nyawa anak tersebut. Aparat kepolisian masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan keterangan dari keluarga, pihak sekolah, teman sekelas, serta aparat desa setempat.

Polisi Dalami Dugaan Persoalan HP

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi awal yang diperoleh, korban sempat meminta izin kepada ibunya untuk membawa HP ke sekolah pada Selasa pagi sekitar pukul 07.00 WITA. Permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Polisi kemudian melakukan pendalaman untuk mengetahui rangkaian kejadian yang mendahului kematian korban. Keterangan turut dihimpun dari pihak sekolah dan lingkungan tempat tinggal korban guna memperoleh gambaran yang lebih utuh.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban ditemukan dalam kondisi tergantung di bagian dapur rumahnya pada Selasa malam. Korban kemudian mendapatkan pertolongan dan dibawa ke rumah sakit, tetapi dinyatakan telah meninggal dunia.

Keterangan Keluarga dan Sekolah Berbeda

Di tengah penyelidikan, muncul perbedaan keterangan antara keluarga dan pihak sekolah mengenai dugaan kebutuhan membawa HP untuk kegiatan belajar.

Paman korban, Marianus Yanuarius Nong, menyampaikan bahwa berdasarkan cerita yang diterimanya dari keluarga, korban pernah mengatakan perlu membawa HP untuk mengerjakan tugas. Menurut penuturannya, korban tetap berangkat ke sekolah seperti biasa meskipun tidak diizinkan membawa perangkat tersebut.

Sebaliknya, Kepala SDN Lirikelang, Hendrikus Hewer, menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah mewajibkan siswa membawa HP untuk mengikuti pembelajaran. Wali kelas V, Ambrosius Maksi, juga menyatakan tidak ada instruksi kepada siswa untuk membawa telepon genggam pada hari tersebut.

Perbedaan keterangan ini menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Informasi yang beredar tidak seharusnya langsung dijadikan dasar untuk menyalahkan keluarga ataupun pihak sekolah sebelum fakta-fakta yang relevan diperiksa secara menyeluruh.

Sekolah Sebut Korban Berperilaku Seperti Biasa

Pihak sekolah mengenang AP sebagai anak yang periang, mudah bergaul, dan berani mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru-gurunya mengaku tidak melihat perubahan perilaku mencolok dalam beberapa hari sebelum kejadian.

Keterangan tersebut juga menjadi salah satu informasi yang didalami aparat untuk memahami kondisi korban sebelum meninggal dunia.

Meski demikian, perilaku yang tampak biasa di lingkungan sekolah tidak serta-merta menggambarkan seluruh perasaan atau persoalan yang mungkin dialami seorang anak. Karena itu, setiap keterangan perlu dipahami secara hati-hati dan tidak dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan prematur.

Tragedi Ini Menjadi Pengingat Penting bagi Orang Dewasa

Peristiwa di Sikka ini menjadi pengingat bahwa persoalan yang terlihat sederhana di mata orang dewasa dapat dirasakan berbeda oleh seorang anak. Namun, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa satu kejadian atau larangan tertentu pasti menjadi penyebab kematian seseorang.

Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan perasaan, menceritakan kesulitan, dan meminta pertolongan tanpa takut dihakimi. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting untuk membangun komunikasi yang hangat serta memperhatikan perubahan perilaku anak.

Di sisi lain, penggunaan HP dalam kegiatan pendidikan juga perlu diatur secara bijaksana, dengan mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran, usia peserta didik, keamanan digital, dan kemampuan keluarga.

Hingga informasi yang diberitakan tersebut dihimpun, kepolisian masih mendalami peristiwa ini. Penyebab pasti kematian korban tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan dugaan awal.

***

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi yang diberitakan Infolabuanbajo.id serta pemberitaan media lain mengenai peristiwa di Sikka. Perkembangan dan hasil penyelidikan resmi kepolisian tetap menjadi rujukan penting untuk memastikan fakta secara utuh.

Sumber berita: Info Labuan Bajo — 24 Oktober 2026. Informasi mengenai dugaan penyebab dan keterangan pihak sekolah merujuk pada pemberitaan tersebut.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama