![]() |
| Foto:
Suasana Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Penyelesaian Masalah Keveteranan 2026 di
Kupang, Kamis (25/6/2026). (Foto: Simon Selly/detikBali) |
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Veteran (Kapusvet)
Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI
Asep Tardiana Wachgi, saat Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Penyelesaian Masalah
Keveteranan 2026 di Kupang, Kamis (25/6/2026).
"Masih banyaknya informasi bahwa ada yang tidak
berhak mendapatkan tunjangan veteran itu mereka dapat tunjangan. Tetapi, mereka
yang benar-benar melakukan perjuangan khususnya di Timor-Timur mereka tidak
dapat tunjangan," tegas Asep.
Sesuai data Bacadnas Kemhan, ada 6.085 veteran di
NTT dari berbagai jenis. Mayoritas dari mereka adalah veteran Seroja, yakni
pejuang di Timor-Timur periode 21 Mei 1975-17 Juli 1976.
Asep menegaskan masalah manipulasi data ini akan
diselesaikan dengan berkoordinasi bersama PT Taspen, pemerintah daerah, Dewan
Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) NTT, serta
jajaran korem dan kodim di NTT.
Ketua DPD LVRI NTT, AKBP (Purn) Stefanus Djawa
Botha, mendukung langkah Kapusvet Bacadnas Kemhan yang ingin mengevaluasi
veteran di NTT. Stefanus juga membenarkan saat ini jumlah veteran di wilayah
NTT mencapai 6.085 ribu orang.
"Sesuai data di kami 6.085 ribuan. Itu belum
riil juga karena banyak anggota veteran yang sudah menerima haknya sebagai
anggota veteran tidak pernah mendaftarkan diri sebagai anggota veteran,"
jelas Stefanus.
"Dari data kami itu 6.085 veteran di NTT, namun
belum ada laporan apakah ada yang sudah meninggal atau tidak, mereka tidak
pernah lapor," tambah Stefanus.
Pendataan secara riil jumlah pasti veteran. Sebab,
DPD LVRI NTT tidak mempunyai anggaran untuk melakukan pengecekan langsung ke
berbagai kabupaten.
"Kami tidak ada dukungan dari pemerintah
daerah, jadi kita hanya punya modal semangat saja untuk bisa membangun
organisasi ini, jelas Stefanus. *** detik.com
