banner Rusak Diterjang Longsor, Jalan Sabuk Merah Jadi Sorotan Masyarakat Kobalima Timur Kabupaten Malaka

Rusak Diterjang Longsor, Jalan Sabuk Merah Jadi Sorotan Masyarakat Kobalima Timur Kabupaten Malaka

SABUK MERAH - Kondisi akses jalan sabuk merah Malaka-Belu di Desa Alas, Kobalima Timur yang putus total akibat longsor, Rabu (24/6/2026). 



Suara Numbei News - Kekhawatiran terhadap kondisi Jalan Sabuk Merah Malaka-Belu tidak hanya disoroti oleh para pengendara yang melintas. Keprihatinan terhadap kondisi jalan itu juga turut disampaikan oleh warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi longsor.

Salah satunya adalah Wilhelmus Leki, warga Dusun Fatuha 2, Desa Alas, Kecamatan Kobalima Timur, yang berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen terhadap ruas jalan yang rusak.

Saat ditemui POS-KUPANG.COM di kediamannya di Aidikur, Rabu (24/6/2026), Wilhelmus mengaku sangat prihatin melihat kondisi jalan yang terus mengalami kerusakan dari waktu ke waktu.

Menurutnya, longsor yang menyebabkan akses jalan sempat putus total di Aidikur hanyalah salah satu dari sekian banyak persoalan yang kini mengancam keberlangsungan aktivitas masyarakat di sepanjang ruas jalan sabuk merah di wilayah Kobalima Timur.

Ia menuturkan bahwa selain titik longsor di Aidikur, terdapat sejumlah ruas Jalan Sabuk Merah lainnya yang juga mengalami patahan cukup besar dan berpotensi membahayakan pengguna jalan apabila tidak segera ditangani secara permanen.

"Kami sebagai masyarakat sangat berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen. Jangan hanya penanganan sementara, karena kondisi jalan ini semakin hari semakin memprihatinkan. Kalau hujan terus turun, kami khawatir kerusakannya akan semakin meluas," ujar Wilhelmus.

Menurutnya, Jalan Sabuk Merah bukan sekadar jalur penghubung antara Kabupaten Malaka dan Kabupaten Belu, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah Desa Alas dan sekitarnya. Hampir seluruh aktivitas ekonomi dan sosial warga bergantung pada keberadaan jalan tersebut.

Wilhelmus menjelaskan bahwa setiap hari masyarakat memanfaatkan ruas jalan itu untuk mengangkut berbagai hasil pertanian dan perkebunan menuju pasar maupun pusat perdagangan di Kota Betun. Apabila akses jalan terganggu, maka distribusi hasil bumi warga juga ikut terhambat dan berdampak langsung pada pendapatan mereka.

"Sebagian besar kami di sini hidup dari pertanian. Semua hasil bumi dibawa ke kota melalui jalan ini. Kalau jalannya rusak atau tidak bisa dilewati, tentu kami yang paling merasakan dampaknya karena hasil pertanian sulit dipasarkan," katanya.

Selain mendukung aktivitas ekonomi, jalan tersebut juga menjadi akses utama masyarakat untuk memperoleh berbagai layanan publik. Warga yang mengurus administrasi pemerintahan, kebutuhan perbankan, maupun berbagai urusan lainnya di Kota Betun harus melalui ruas Jalan Sabuk Merah tersebut.

Tidak hanya itu, Wilhelmus mengungkapkan bahwa jalan tersebut juga memiliki peran penting dalam mendukung akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah Desa Alas dan sekitarnya. Banyak pelajar yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk menuju sekolah maupun lembaga pendidikan yang berada di pusat kecamatan dan ibu kota kabupaten.

"Anak-anak sekolah juga setiap hari melewati jalan ini. Kalau kondisinya semakin rusak, tentu orang tua akan semakin khawatir terhadap keselamatan mereka saat berangkat dan pulang sekolah," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya jalan tersebut bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, ketika ada warga yang sakit dan harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di Kota Betun atau daerah lain, keberadaan jalan yang aman dan layak menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

"Kalau ada masyarakat yang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, akses jalan ini sangat menentukan. Karena itu kami berharap pemerintah benar-benar memberi perhatian serius agar jalan ini segera diperbaiki secara permanen," katanya.

Wilhelmus juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah yang telah menurunkan alat berat untuk menimbun longsor yang masih menganga itu serta membuka kembali akses transportasi. Namun menurutnya, langkah tersebut hanya menjadi solusi jangka pendek yang perlu segera ditindaklanjuti dengan perbaikan menyeluruh.

Sebagai warga yang setiap hari merasakan langsung manfaat Jalan Sabuk Merah, ia berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat melalui instansi terkait dapat menjadikan perbaikan ruas jalan tersebut sebagai prioritas agar masyarakat tidak terus hidup dalam kekhawatiran setiap kali musim hujan tiba.

"Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya berharap jalan ini diperbaiki dengan baik karena ini akses utama masyarakat. Semua aktivitas kami bergantung pada jalan ini, mulai dari ekonomi, pendidikan, pelayanan publik hingga kesehatan. Karena itu kami berharap perbaikannya bisa segera dilakukan secara permanen agar masyarakat merasa aman dan nyaman dalam beraktivitas," pungkasnya. (ito)

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama