Kita melihat seseorang jatuh, lalu berkata, “Dia
memang tidak kuat.” Kita melihat seseorang gagal, lalu berbisik, “Dia kurang
berusaha.” Padahal, kita hanya melihat satu halaman dari hidupnya, bukan
seluruh buku kehidupannya. Kita tidak tahu berapa banyak malam yang telah ia
lewati dengan air mata, berapa kali ia hampir menyerah, dan berapa banyak luka
yang sengaja ia sembunyikan di balik senyum.
Kita sering hanya melihat hujan yang turun, tetapi
tidak pernah menghitung berapa lama seseorang telah berjalan membawa awan di
dalam dirinya. Ada orang yang sedang berjuang menghadapi persoalan ekonomi. Ada
yang sedang kehilangan orang yang dicintai. Ada pula yang setiap pagi tetap
tersenyum, bukan karena hidupnya baik-baik saja, tetapi karena ia tidak ingin
dunia mengetahui bahwa pada malam sebelumnya ia hampir kehilangan harapan.
Ketika hidup sedang berpihak kepada kita, kita mudah
merasa paling kuat. Ketika rezeki datang dengan lancar, kita mudah menganggap
semua orang seharusnya mampu melakukan hal yang sama. Ketika pintu terbuka
untuk kita, kita lupa bahwa ada orang lain yang mungkin sedang berdiri di depan
pintu yang bahkan belum memiliki kunci.
Karena itu, jangan sombong kepada mereka yang sedang
berjuang. Kesulitan bukan selalu tanda kemalasan. Keterlambatan bukan selalu
tanda kegagalan. Dan kehidupan yang belum berhasil bukan berarti kehidupan yang
tidak berharga. Setiap orang memiliki waktu, medan perjuangan, beban, dan jalan
hidup yang berbeda.
Jika hari ini langitmu biru, jangan gunakan
cahayanya untuk menertawakan mereka yang sedang kehujanan. Gunakan cahaya itu
untuk menjadi penerang. Jika tanganmu sedang kuat, ulurkan kepada yang sedang
jatuh. Jika langkahmu sedang ringan, jangan mengejek mereka yang sedang
tertatih. Sebab hidup memiliki satu hukum yang sederhana: tidak ada cuaca yang
abadi.
Hari ini mungkin kita melihat orang lain diterpa
badai. Esok mungkin giliran kita. Hari ini kita memegang payung, tetapi suatu
hari mungkin kita pula yang mencari tempat berteduh. Dan ketika badai akhirnya
datang ke halaman rumah kita, semoga tidak ada manusia yang pernah kita
remehkan berdiri di kejauhan sambil berkata, “Bukankah dulu kamu menertawakan
hujanku?”
Jadilah manusia yang ketika diberi langit cerah
tidak lupa kepada mereka yang sedang kehujanan. Sebab kedewasaan bukan tentang
seberapa tinggi kita berdiri ketika hidup sedang berpihak kepada kita,
melainkan seberapa rendah kita bersedia membungkuk untuk mengangkat seseorang
yang sedang jatuh.
Jangan menertawakan badai orang lain, sebab langitmu
yang cerah hari ini bukan jaminan bahwa besok tidak akan mendung.
Pada akhirnya, mungkin kita semua akan memahami
bahwa empati adalah payung yang tidak hanya melindungi orang lain, tetapi juga
menjaga kemanusiaan kita sendiri. Karena ketika hidup mengajarkan kita tentang
badai, kita akan sadar bahwa tidak seorang pun benar-benar kebal terhadap
hujan.
