banner MBG, Anak Pelosok, dan Bayang-Bayang Keracunan: Jangan Korbankan Guru dalam Mencari Jawaban

MBG, Anak Pelosok, dan Bayang-Bayang Keracunan: Jangan Korbankan Guru dalam Mencari Jawaban



Suara Numbei News - Sebagai seorang guru di SDK Naibone, sebuah sekolah yang berada jauh dari pusat keramaian di Wilayah Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya melihat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya sebagai sebuah program pemerintah. Bagi kami, MBG adalah harapan. Harapan agar anak-anak di pelosok negeri juga mendapatkan hak untuk menikmati makanan bergizi sebagaimana anak-anak di daerah lain.

Namun, sampai hari ini, anak-anak di SDK Naibone belum merasakan program MBG tersebut.

Kami tidak sedang mengeluh. Kami juga tidak sedang menolak programnya. Justru sebaliknya, kami ingin bertanya dengan suara yang sederhana dari pelosok: kapan anak-anak kami mendapatkan hak yang sama?

Sebab ketika negara berbicara tentang pemerataan, maka pemerataan seharusnya tidak berhenti di sekolah-sekolah yang mudah dijangkau. Anak-anak di kampung juga adalah bagian dari generasi Indonesia. Mereka mungkin belajar di ruang kelas sederhana, melewati jalan yang tidak selalu mudah, dan tumbuh jauh dari pusat pemerintahan, tetapi hak mereka tetap sama.

Pada saat yang sama, kita juga membaca berbagai pemberitaan tentang munculnya kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG di sejumlah daerah. Dalam situasi seperti itu, saya merasa perlu menyampaikan satu hal sebagai seorang guru:

Jangan ketika terjadi masalah, guru langsung menjadi kambing hitam.

Guru memang mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi anak-anak di sekolah. Tetapi guru bukan satu-satunya mata rantai dalam penyelenggaraan MBG. Ada proses pengadaan bahan pangan, pengolahan, sanitasi, penyimpanan, pemorsian, pengangkutan, distribusi, hingga makanan sampai ke tangan peserta didik.

Karena itu, apabila terjadi dugaan keracunan, jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa guru tidak mengawasi?”

Periksalah seluruh prosesnya.

Apakah bahan pangannya aman?
Apakah proses pengolahannya memenuhi standar?
Apakah dapurnya memenuhi ketentuan sanitasi?
Bagaimana makanan disimpan?
Bagaimana makanan dibawa menuju sekolah?
Apakah SOP benar-benar dijalankan?
Dan berdasarkan pemeriksaan yang objektif, di mana sebenarnya sumber persoalannya?

Guru boleh dievaluasi apabila lalai. Tetapi guru tidak boleh disalahkan sebelum fakta ditemukan.

Saya mengatakan ini bukan untuk membela guru dari tanggung jawab. Saya mengatakan ini karena guru di daerah terpencil sering berada pada posisi yang unik: paling dekat dengan anak, tetapi tidak selalu memiliki kewenangan terhadap seluruh sistem yang menentukan apa yang masuk ke dalam piring anak.

Maka jangan sampai sebuah persoalan sistem berubah menjadi persoalan individu.

Jangan sampai guru yang hanya menerima makanan untuk dibagikan kepada murid justru menjadi pihak pertama yang dituding ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Di sisi lain, fakta bahwa SDK Naibone sampai sekarang belum mendapatkan MBG juga harus menjadi bahan refleksi. Kalau tujuan MBG adalah memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan akses makanan bergizi, maka sekolah-sekolah terpencil harus menjadi bagian penting dari perhatian.

Kami tidak meminta perlakuan istimewa.

Kami hanya ingin anak-anak Naibone tidak dilupakan.

Kami ingin ketika negara mengatakan Makan Bergizi Gratis untuk anak Indonesia, kata “Indonesia” itu benar-benar mencakup anak-anak yang belajar di pelosok.

Tetapi ketika suatu hari MBG benar-benar hadir di SDK Naibone, kami juga berharap kehadirannya bukan sekadar makanan yang sampai di sekolah.

Kami berharap ada jaminan keamanan, kualitas, transparansi, pengawasan, dan tanggung jawab yang jelas.

Sebab bagi kami, makanan bergizi harus memenuhi dua kata penting:

bergizi dan aman.

Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari kelemahan koordinasi. Guru tidak boleh menjadi kambing hitam dari kesalahan sistem. Dan program sebesar MBG tidak boleh hanya kuat dalam slogan, tetapi harus kuat sampai ke pelosok negeri.

Dari sebuah sekolah kecil bernama SDK Naibone, kami menaruh harapan sederhana:

Kami ingin merasakan pemerataan, tetapi kami juga ingin pemerataan yang aman.

Sebab anak-anak di pelosok tidak meminta lebih.

Mereka hanya meminta hak yang sama.

Dan ketika hak itu akhirnya sampai ke sekolah kami, semoga yang datang bukan hanya satu kotak makanan, tetapi juga hadir bersama tanggung jawab negara untuk memastikan setiap makanan yang sampai ke tangan anak benar-benar layak, aman, dan bermartabat.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama