Ketika musim kemarau tiba, matahari terasa lebih
panjang menggantung di langit. Air telaga perlahan mulai surut, meninggalkan
genangan-genangan kecil di antara lumpur dan tanah yang mengering. Bagi
sebagian orang, surutnya air mungkin hanya pertanda pergantian musim. Namun
bagi masyarakat Numbei, keadaan itu justru menjadi tanda dimulainya sebuah
tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Warga kemudian turun bersama ke waduk untuk mencari
ikan. Anak-anak datang dengan rasa ingin tahu, kaum muda membawa semangat,
sementara orang-orang tua hadir dengan pengalaman dan cerita yang mereka warisi
dari masa lalu. Peralatan yang digunakan pun sederhana. Tidak ada perlengkapan
mewah, tidak ada panggung, dan tidak ada kemeriahan yang dibuat-buat. Yang ada
hanyalah manusia, alam, dan kebersamaan.
Suasana telaga yang biasanya tenang berubah menjadi
ruang perjumpaan. Tangan-tangan bekerja, mata mencari ikan di antara air yang
dangkal, suara tawa terdengar di berbagai sudut, dan sesekali terdengar
kegembiraan ketika seseorang berhasil mendapatkan ikan. Mereka saling membantu
dan berbagi. Anak-anak belajar dari orang tua, kaum muda belajar dari
pengalaman, sementara para orang tua menyaksikan bagaimana sebuah tradisi tetap
hidup di tengah perubahan zaman.
Namun, Hasa’u Na’a Bulan sesungguhnya bukan hanya
tentang mencari ikan. Ikan hanyalah hasil yang tampak di mata. Di baliknya
terdapat sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kebersamaan, gotong royong,
persaudaraan, dan hubungan manusia dengan alam yang telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat.
Ada filosofi sederhana yang seolah diajarkan alam
kepada manusia: ketika air melimpah, kita belajar bersyukur; ketika air surut,
kita belajar berbagi. Alam tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan akan selalu
penuh. Ada masa ketika waduk menggenang, tetapi ada pula masa ketika airnya
menyusut. Ada musim ketika hasil alam berlimpah, tetapi ada saat ketika manusia
harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Masyarakat Numbei memahami bahwa kehidupan bukanlah
tentang melawan perubahan musim, melainkan tentang belajar hidup berdampingan
dengannya. Alam memiliki siklusnya sendiri. Musim hujan membawa air, musim
kemarau menguranginya. Manusia hanya perlu membaca tanda-tanda itu,
menyesuaikan diri, dan memanfaatkan apa yang diberikan alam dengan penuh rasa
syukur.
Di antara lumpur, air yang semakin dangkal, dan ikan
yang bersembunyi di dalamnya, sebenarnya sedang berlangsung sebuah pendidikan
budaya. Tidak ada ruang kelas, papan tulis, ataupun buku pelajaran. Namun
anak-anak sedang belajar tentang gotong royong. Mereka belajar bahwa rezeki
yang diperoleh dari alam bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri. Mereka
belajar bahwa sesuatu akan terasa lebih berarti ketika diperoleh dan dinikmati
bersama.
Karena itu, tradisi seperti Hasa’u Na’a Bulan tidak
semestinya hanya dilihat sebagai kebiasaan masyarakat pada masa lalu. Sebuah
tradisi adalah ingatan sebuah komunitas tentang siapa mereka dan bagaimana
mereka menjalani kehidupan. Di dalam tradisi terdapat nilai, pengalaman, serta
cara sebuah masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam, dan sesamanya.
Ketika sebuah tradisi perlahan menghilang, yang hilang
bukan hanya sebuah kegiatan. Bisa jadi yang ikut menghilang adalah nilai-nilai
yang dahulu membuat masyarakat menjadi dekat. Kebersamaan dapat tergantikan
oleh kesibukan masing-masing. Cerita orang tua dapat terlupakan. Anak-anak
mungkin mengenal banyak hal dari dunia digital, tetapi tidak lagi mengenal
cerita yang tumbuh dari tanah tempat mereka dilahirkan.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, Hasa’u
Na’a Bulan menjadi pengingat bahwa modernitas tidak harus membuat manusia
kehilangan akar budayanya. Anak-anak boleh tumbuh dengan teknologi. Kaum muda
boleh mengejar pendidikan dan masa depan. Masyarakat boleh mengikuti perubahan
zaman. Namun, di tengah semua itu, mereka tetap membutuhkan sesuatu yang
mengingatkan mereka dari mana mereka berasal.
Barangkali suatu hari nanti anak-anak yang sekarang
turun ke waduk akan tumbuh menjadi orang dewasa. Sebagian mungkin pergi jauh
untuk sekolah, bekerja, atau mencari kehidupan yang lebih baik. Namun ketika
mereka kembali ke Numbei dan melihat waduk yang kembali surut, semoga mereka
masih mengingat masa kecilnya: lumpur yang melekat di kaki, suara tawa
teman-teman, tangan orang tua yang bekerja, serta kegembiraan ketika seekor
ikan berhasil ditangkap.
Pada saat itulah mereka akan menyadari bahwa yang
mereka cari dahulu bukan hanya ikan. Mereka sebenarnya sedang mengumpulkan
kenangan. Mereka sedang belajar tentang kehidupan. Mereka sedang menerima
sebuah warisan budaya yang mungkin tidak pernah tertulis di atas kertas, tetapi
tertanam dalam pengalaman.
Hasa’u Na’a Bulan mengajarkan bahwa rezeki bukan
hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita dapatkan, tetapi juga tentang
seberapa banyak kebersamaan yang tercipta dalam proses mendapatkannya. Sebab
ketika seseorang menemukan ikan dan yang lain membantu, ketika hasil dibawa
pulang dan dibagikan, di situlah nilai persaudaraan menemukan bentuknya yang
paling sederhana.
Air waduk boleh surut. Musim boleh berganti. Ikan
boleh berkurang. Tetapi selama masyarakat masih mau turun bersama, bekerja
bersama, tertawa bersama, dan berbagi bersama, kebudayaan itu belum mati. Ia
masih hidup dalam tindakan, dalam ingatan, dan dalam hati orang-orang yang
menjalaninya.
Mungkin inilah makna terdalam dari Hasa’u Na’a Bulan:
ketika air waduk surut, jangan mengira kehidupan ikut mengering. Sebab
terkadang, ketika alam mengurangi airnya, manusia justru menemukan alasan untuk
mendekat satu sama lain.
Hasa’u Na’a Bulan bukan sekadar tradisi mencari
ikan. Ia adalah cara sebuah kampung merawat persaudaraan, membaca tanda-tanda
alam, menjaga identitas, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya.
Dan selama anak-anak Numbei masih mengenal tradisi
ini, selama orang-orang tua masih bersedia bercerita, dan selama masyarakat
masih mau turun bersama ke waduk ketika musim kemarau tiba, tradisi itu akan
terus menemukan jalannya.
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah
berapa banyak ikan yang berhasil dibawa pulang.
Yang paling penting adalah bahwa setelah semua ikan
habis dimakan, cerita tentang kebersamaan masih tetap tinggal.
📍 Numbei, Desa Kateri, Kabupaten Malaka, Nusa
Tenggara Timur
Setapak Rai Numbei
Menulis dari jalan kecil, untuk cerita besar tentang manusia, budaya, dan tanah
kelahiran.

