banner Digaji Rp 223.000 Selama 23 Tahun, Guru Honorer di Kupang Bertahan di Tengah Ketidakpastian Negara

Digaji Rp 223.000 Selama 23 Tahun, Guru Honorer di Kupang Bertahan di Tengah Ketidakpastian Negara

Agusthinus Nitbani, guru honorer yang mengajar di kelas 3 SD Negeri Batu Esa, Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) (KOMPAS.com/SIGIRANUS MARUTHO BERE)



Suara Numbei News - Hujan deras baru saja mengguyur Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (27/1/2026) siang. Udara masih lembap ketika Maria Itami Nokas (47) duduk di teras rumah sederhana mereka. Dari kejauhan, suaminya, Agusthinus Nitbani, baru saja pulang dari SD Negeri Batu Esa.

Tak ada seragam baru. Tak ada sepatu mengilap. Yang terlihat hanya tas lusuh, wajah letih, dan semangat yang tak sepenuhnya padam. Selama 23 tahun, Agusthinus berdiri di depan papan tulis sebagai guru honorer—puluhan tahun mengabdi tanpa kepastian status.

Puluhan tahun pula Maria setia mendampingi. Namun kesetiaan itu kerap diuji rasa tak adil.
“Kadang saya bertanya dalam hati,” kata Maria pelan, suaranya nyaris bergetar. “Kenapa di negara ini keadilan terasa begitu jauh untuk orang seperti kami?”

Pertanyaan itu bukan lahir dari iri, melainkan dari luka yang lama dipendam. Maria melihat sendiri bagaimana guru-guru honorer yang baru mengabdi justru mendapat peluang lebih cepat. Sementara suaminya, yang telah mengorbankan usia dan hidupnya, tetap tertahan di barisan paling belakang.

“Suami saya tidak pernah malas, tidak pernah absen. Tapi sampai sekarang belum juga diangkat jadi PPPK atau PNS,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, harapan kembali runtuh. Agusthinus gagal bukan karena nilai, melainkan karena persoalan administrasi dalam seleksi PPPK tahap kedua. Harapan yang sempat tumbuh, patah sebelum sempat berdiri.

Di titik itu, Maria menyerah.
“Saya bilang ke dia, sudahlah, berhenti saja mengajar,” katanya.

Ucapan itu bukan karena ia tak menghargai pengabdian suaminya, melainkan karena tak tega melihat Agusthinus terus dipukul oleh sistem yang sama. Keluarga dan kerabat pun menyarankan hal serupa. Untuk apa bertahan dengan gaji Rp 223.000 per bulan? Untuk apa mengorbankan waktu, tenaga, dan harga diri jika negara seolah menutup mata?

Namun setiap kali hampir yakin, Maria teringat perjalanan panjang mereka. Mereka menikah dalam keterbatasan. Saat itu, Agusthinus belum sarjana. Setelah menikah, barulah ia kuliah. Honor kecil dibagi ketat: sebagian untuk makan, sebagian untuk biaya kuliah.

“Kami hidup sangat irit. Tapi saya pikir, honor itu setidaknya bisa mengganti biaya kuliah yang sudah dikeluarkan,” katanya.

Itulah sebabnya ia bertahan.
“Biar orang mau bilang apa, tetap saya dan suami yang jalani hidup ini,” ucapnya sambil terisak.

Di rumah itu, doa menjadi satu-satunya kemewahan. Maria percaya, jika bukan negara, Tuhan pasti melihat. Namun keyakinan itu tak sepenuhnya menghapus kekhawatiran, terutama saat ia memandang dua anak mereka—satu duduk di bangku SD, satu lagi SMP.

Sering kali Maria terjaga di malam hari.
“Dengan umur suami saya yang sudah tidak muda, apakah anak-anak bisa kuliah?” katanya lirih.

Ia tak menyembunyikan kenyataan pahit itu dari anak-anaknya. Ia ingin mereka belajar dari hidup sang ayah.
“Saya bilang, lihat pengalaman bapa. Sudah tua, tapi nasibnya tidak menentu. Kalian harus belajar sungguh-sungguh supaya hidup lebih baik.”

Beberapa hari lalu, kisah Agusthinus viral di media sosial. Simpati mengalir. Namun bagi anak sulung mereka, viralitas itu justru meninggalkan luka kecil.
“Dia bilang malu. Takut orang menganggap keluarga kami tidak bisa apa-apa,” ujar Maria.

Ia lalu memeluk anaknya erat.
“Saya bilang, bapa viral bukan karena kita miskin, tapi karena bapa sudah puluhan tahun mengabdi sebagai guru honorer.”

Malam itu, anaknya menyampaikan keinginan sederhana: ingin kuliah dengan beasiswa.
“Saya bilang, kita berdoa. Mama yakin Tuhan akan buka jalan.”

Untuk bertahan hidup, Maria dan Agusthinus mengerjakan apa saja. Membantu panen bawang warga, memelihara ternak sistem bagi hasil, hingga membersihkan kebun tetangga dengan upah Rp 20.000 sekali kerja. Sering pulang dalam keadaan letih. Namun keesokan paginya, Agusthinus tetap berangkat mengajar.

“Kalau lihat televisi, saya sering menangis. Pemerintah bicara kesejahteraan guru, tapi kenapa guru seperti suami saya tidak pernah diperhatikan?” katanya.

Bagi Agusthinus, SD Negeri Batu Esa bukan sekadar tempat kerja. Sekolah itu adalah saksi hidup. Wilayah tersebut dulu nyaris tak tersentuh pendidikan. Ketika sekolah akan dibuka pada 2009, tak ada guru PNS yang bersedia datang karena akses sulit dan kondisi sosial yang berat.

“Saya bilang ke kepala sekolah, saya berani buka,” kenangnya.

Keberanian itu dibayar dengan 23 tahun pengabdian tanpa kepastian. Ia memulai sebagai relawan pada 2002. Dua tahun tanpa gaji tetap. Pernah hanya menerima Rp 25.000 per bulan. SK pertama memberinya Rp 50.000. Pada 2014, ia lulus sarjana PGSD. Namun ijazah itu tak mengubah nasibnya.

Gaji tertinggi yang pernah diterimanya hanya Rp 600.000 per bulan. Kini, setelah pemotongan, tinggal Rp 223.000.
“Tidak cukup,” katanya singkat.

Banyak yang menyarankan ia berhenti. Namun baginya, meninggalkan sekolah sama dengan meninggalkan tanggung jawab moral.
“Ini sekolah yang saya buka. Kalau saya tinggalkan, saya berdosa,” ujarnya menahan air mata.

Setiap pagi ia tiba sekitar pukul 06.30 Wita, kadang menumpang truk, kadang berjalan kaki. Ia mengajar 68 siswa bersama guru-guru lain yang bernasib sama—mengajar dengan sarana terbatas, kesejahteraan minim, dan masa depan yang tak jelas.

Agusthinus sempat lulus PPPK pada 2023 dan berstatus prioritas. Namun hingga kini tak ada pengangkatan. Ia satu dari 1.117 guru honorer di Kabupaten Kupang yang menunggu dalam diam.
“Nama saya bahkan tidak ada di BKN,” katanya.

Meski demikian, ia tak pergi.
“Saya akan tetap mengajar sampai tidak diizinkan lagi karena usia pensiun.”

Di rumah kecil itu, Maria tetap bertahan—bukan karena negara hadir, tetapi karena tak punya pilihan selain percaya. Setiap pagi, Agusthinus mengajarkan murid-muridnya tentang cita-cita dan masa depan. Namun negara yang ia ajarkan untuk dihormati, tak pernah memberinya kepastian.

Dengan gaji Rp 223.000 per bulan, ia diminta setia.
Dengan pengabdian 23 tahun, ia diminta sabar. *** kompas.com



 

 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama