banner Sebelum Huruf, Ada Langkah: Pelajaran Sunyi dari Barisan Kecil di SD Katolik Naibone Kabupaten Malaka

Sebelum Huruf, Ada Langkah: Pelajaran Sunyi dari Barisan Kecil di SD Katolik Naibone Kabupaten Malaka

Penulis (Frederick Mau, S.Fil., Gr.) berpose bersama Peserta Didik kelas I SD Katolik Naibone sebelum melakukan aktivitas pola permainan gerak berirama pada mata pelajaran PJOK


Suara Numbei News Pada Kamis, 22 Januari 2026, sebuah ruang belajar di SD Katolik Naibone, Desa Naibone, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, menjelma menjadi ruang tafsir yang lain. Di sana, Pendidikan Jasmani dan Olahraga kelas 1 tidak sekadar berlangsung sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai peristiwa pedagogis—tempat tubuh, disiplin, dan harapan saling berjumpa.

Anak-anak berdiri berbaris. Seragam putih-hijau mereka menyatu dalam satu garis yang belum sepenuhnya lurus. Ada tangan kecil yang bertumpu di bahu teman, ada kaki yang menjejak lantai dengan ragu dan percaya sekaligus. Barisan itu tampak sederhana, tetapi di situlah sebuah kurikulum hidup bekerja: belajar menunggu, belajar mengikuti irama, belajar menjadi bagian dari yang lain. Sebagian tersenyum lepas, sebagian mengamati dengan mata yang ingin tahu, dan sebagian lain masih bernegosiasi dengan dirinya sendiri—ingin bergerak, ingin mendahului, ingin bebas.

Pelajaran dimulai tanpa buku, tanpa paragraf, tanpa papan tulis yang penuh tulisan. Instruksi mengalir lewat contoh. Guru tidak menumpuk kata, melainkan menawarkan gerak. Dan anak-anak—yang sebagian besar belum mahir membaca dan menulis—menjawabnya dengan bahasa yang paling mereka kuasai: tubuh. Mereka belajar arah melalui langkah, belajar hitungan melalui lompatan, belajar aturan melalui antrean. Di sini, tubuh menjadi kamus, dan gerak menjadi kalimat.

Namun, pembelajaran ini tidak steril dari kegaduhan. Ada beberapa anak yang belum bisa diatur: keluar barisan, berlari tanpa aba-aba, atau tertawa di saat yang “tidak tepat”. Kegelisahan itu sering dianggap masalah. Padahal, secara filosofis, ia adalah tanda kehidupan. Anak-anak bukan kertas kosong; mereka adalah energi yang sedang mencari bentuk. Menuntut ketertiban instan pada usia ini sama dengan meminta sungai mengalir lurus tanpa belokan.

Di titik inilah Pendidikan Jasmani memperlihatkan daya kritisnya. Ketertiban tidak ditanamkan lewat perintah, tetapi ditumbuhkan lewat pembiasaan yang bermakna. Disiplin bukan hasil dari ancaman, melainkan dari pengulangan yang sabar. Barisan yang belum rapi bukan kegagalan; ia adalah proses menjadi. Seperti alfabet yang tidak langsung membentuk kata, gerak pun tidak langsung membentuk karakter—ia memerlukan waktu, irama, dan pendampingan.

Secara akademik, apa yang terjadi di kelas ini sejalan dengan tahap perkembangan anak. Jean Piaget menyebutnya operasional konkret: belajar dari yang dialami, bukan dari yang diceramahkan. Paulo Freire mengingatkan bahwa manusia membaca dunia sebelum membaca kata. Di Naibone, dunia itu hadir dalam barisan kecil: bahu yang bersandar, jarak yang dijaga, giliran yang ditunggu. Anak-anak yang belum mampu mengeja kalimat, sesungguhnya sedang mengeja kehidupan.

Analogi yang paling jujur untuk memahami pembelajaran ini adalah fondasi bangunan. Literasi membaca dan menulis adalah dinding dan atap; gerak, permainan, dan pengalaman jasmani adalah tanah yang dipadatkan. Membangun dinding tanpa fondasi hanya melahirkan bangunan rapuh—tampak berdiri, mudah runtuh. Maka, ketika sebagian besar peserta didik belum mahir membaca dan menulis, Pendidikan Jasmani bukan jalan memutar, melainkan jalan dasar.



Lebih jauh, pembelajaran ini juga menyimpan kritik halus terhadap pendidikan yang terlalu cepat menuntut hasil. Di kelas awal, keberhasilan sering diukur dari kemampuan mengeja dan menyalin. Padahal, keberanian berdiri di barisan, kemampuan menahan diri untuk tidak mendahului, dan kesediaan mengikuti aturan sederhana adalah modal kognitif dan sosial yang tak kalah penting. Tanpa modal itu, literasi formal mudah berubah menjadi beban.

Di SD Katolik Naibone, pelajaran jasmani hari itu menunjukkan bahwa sekolah dasar bukan pabrik prestasi, melainkan ruang pemanusiaan. Anak-anak belajar bahwa tubuh mereka dihargai, bahwa energi mereka diakui, dan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. Guru hadir bukan sebagai penguasa gerak, tetapi sebagai penjaga irama—menahan yang terlalu cepat, mendorong yang terlalu ragu.

Pada akhirnya, barisan kecil itu mengajarkan satu kebijaksanaan sunyi: huruf akan datang setelah langkah menemukan iramanya. Membaca dan menulis akan tumbuh ketika tubuh telah belajar menunggu, bekerja sama, dan percaya diri. Pendidikan Jasmani, dalam kesederhanaannya, sedang menyiapkan syarat-syarat paling manusiawi bagi lahirnya literasi.

Dan di Naibone, pada hari Kamis itu, pendidikan mengingatkan kita pada hakikatnya yang paling awal: sebelum anak diminta memahami dunia lewat kata, biarkan ia terlebih dahulu memahaminya lewat gerak.

Pada akhirnya, pembelajaran Pendidikan Jasmani di kelas 1 SD Katolik Naibone mengajarkan bahwa pendidikan bukan soal seberapa cepat anak membaca huruf, melainkan seberapa utuh ia belajar menjadi manusia. Di ruang belajar yang sederhana, tubuh anak-anak lebih dulu menemukan irama sebelum pikiran mereka bertemu kata. Ketidakteraturan, kegaduhan, dan tawa bukan gangguan, melainkan tanda bahwa proses sedang berlangsung.

Dari pengalaman itu, lahirlah sebuah kebijaksanaan sederhana:

“Sebelum anak mampu membaca kata, biarkan ia membaca dunia;
sebelum ia menulis kalimat, biarkan tubuhnya belajar tentang irama,
sebab dari langkah yang sabar dan gerak yang dihargai,
huruf-huruf kelak tumbuh dengan sendirinya.”

Kutipan ini merangkum keyakinan bahwa pendidikan sejati dimulai dari penghormatan pada tahap perkembangan anak—bahwa literasi paling awal bukanlah teks, melainkan pengalaman hidup yang disentuh, dijalani, dan dirayakan.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama