![]() |
| Penulis (Frederick Mau, S.Fil., Gr.) berpose bersama Peserta Didik kelas I SD Katolik Naibone sebelum melakukan aktivitas pola permainan gerak berirama pada mata pelajaran PJOK |
Anak-anak berdiri
berbaris. Seragam putih-hijau mereka menyatu dalam satu garis yang belum
sepenuhnya lurus. Ada tangan kecil yang bertumpu di bahu teman, ada kaki yang
menjejak lantai dengan ragu dan percaya sekaligus. Barisan itu tampak
sederhana, tetapi di situlah sebuah kurikulum hidup bekerja: belajar menunggu,
belajar mengikuti irama, belajar menjadi bagian dari yang lain. Sebagian
tersenyum lepas, sebagian mengamati dengan mata yang ingin tahu, dan sebagian
lain masih bernegosiasi dengan dirinya sendiri—ingin bergerak, ingin
mendahului, ingin bebas.
Pelajaran dimulai tanpa
buku, tanpa paragraf, tanpa papan tulis yang penuh tulisan. Instruksi mengalir
lewat contoh. Guru tidak menumpuk kata, melainkan menawarkan gerak. Dan
anak-anak—yang sebagian besar belum mahir membaca dan menulis—menjawabnya
dengan bahasa yang paling mereka kuasai: tubuh. Mereka belajar arah melalui
langkah, belajar hitungan melalui lompatan, belajar aturan melalui antrean. Di
sini, tubuh menjadi kamus, dan gerak menjadi kalimat.
Namun, pembelajaran ini
tidak steril dari kegaduhan. Ada beberapa anak yang belum bisa diatur: keluar
barisan, berlari tanpa aba-aba, atau tertawa di saat yang “tidak tepat”.
Kegelisahan itu sering dianggap masalah. Padahal, secara filosofis, ia adalah tanda
kehidupan. Anak-anak bukan kertas kosong; mereka adalah energi yang sedang
mencari bentuk. Menuntut ketertiban instan pada usia ini sama dengan meminta
sungai mengalir lurus tanpa belokan.
Di titik inilah
Pendidikan Jasmani memperlihatkan daya kritisnya. Ketertiban tidak ditanamkan
lewat perintah, tetapi ditumbuhkan lewat pembiasaan yang bermakna. Disiplin
bukan hasil dari ancaman, melainkan dari pengulangan yang sabar. Barisan yang
belum rapi bukan kegagalan; ia adalah proses menjadi. Seperti alfabet yang
tidak langsung membentuk kata, gerak pun tidak langsung membentuk karakter—ia
memerlukan waktu, irama, dan pendampingan.
Secara akademik, apa
yang terjadi di kelas ini sejalan dengan tahap perkembangan anak. Jean Piaget
menyebutnya operasional konkret: belajar dari yang dialami, bukan dari yang
diceramahkan. Paulo Freire mengingatkan bahwa manusia membaca dunia sebelum
membaca kata. Di Naibone, dunia itu hadir dalam barisan kecil: bahu yang
bersandar, jarak yang dijaga, giliran yang ditunggu. Anak-anak yang belum mampu
mengeja kalimat, sesungguhnya sedang mengeja kehidupan.
Analogi yang paling
jujur untuk memahami pembelajaran ini adalah fondasi bangunan. Literasi membaca
dan menulis adalah dinding dan atap; gerak, permainan, dan pengalaman jasmani
adalah tanah yang dipadatkan. Membangun dinding tanpa fondasi hanya melahirkan
bangunan rapuh—tampak berdiri, mudah runtuh. Maka, ketika sebagian besar
peserta didik belum mahir membaca dan menulis, Pendidikan Jasmani bukan jalan
memutar, melainkan jalan dasar.
Lebih jauh,
pembelajaran ini juga menyimpan kritik halus terhadap pendidikan yang terlalu
cepat menuntut hasil. Di kelas awal, keberhasilan sering diukur dari kemampuan
mengeja dan menyalin. Padahal, keberanian berdiri di barisan, kemampuan menahan
diri untuk tidak mendahului, dan kesediaan mengikuti aturan sederhana adalah modal
kognitif dan sosial yang tak kalah penting. Tanpa modal itu, literasi formal
mudah berubah menjadi beban.
Di SD Katolik Naibone,
pelajaran jasmani hari itu menunjukkan bahwa sekolah dasar bukan pabrik
prestasi, melainkan ruang pemanusiaan. Anak-anak belajar bahwa tubuh mereka
dihargai, bahwa energi mereka diakui, dan bahwa kesalahan adalah bagian dari
belajar. Guru hadir bukan sebagai penguasa gerak, tetapi sebagai penjaga irama—menahan
yang terlalu cepat, mendorong yang terlalu ragu.
Pada akhirnya, barisan
kecil itu mengajarkan satu kebijaksanaan sunyi: huruf akan datang setelah
langkah menemukan iramanya. Membaca dan menulis akan tumbuh ketika tubuh telah
belajar menunggu, bekerja sama, dan percaya diri. Pendidikan Jasmani, dalam
kesederhanaannya, sedang menyiapkan syarat-syarat paling manusiawi bagi
lahirnya literasi.
Dan di Naibone, pada
hari Kamis itu, pendidikan mengingatkan kita pada hakikatnya yang paling awal:
sebelum anak diminta memahami dunia lewat kata, biarkan ia terlebih dahulu
memahaminya lewat gerak.
Pada akhirnya,
pembelajaran Pendidikan Jasmani di kelas 1 SD Katolik Naibone mengajarkan bahwa
pendidikan bukan soal seberapa cepat anak membaca huruf, melainkan seberapa
utuh ia belajar menjadi manusia. Di ruang belajar yang sederhana, tubuh
anak-anak lebih dulu menemukan irama sebelum pikiran mereka bertemu kata.
Ketidakteraturan, kegaduhan, dan tawa bukan gangguan, melainkan tanda bahwa
proses sedang berlangsung.
Dari pengalaman itu,
lahirlah sebuah kebijaksanaan sederhana:
“Sebelum
anak mampu membaca kata, biarkan ia membaca dunia;
sebelum ia menulis kalimat, biarkan tubuhnya belajar tentang irama,
sebab dari langkah yang sabar dan gerak yang dihargai,
huruf-huruf kelak tumbuh dengan sendirinya.”
Kutipan ini merangkum
keyakinan bahwa pendidikan sejati dimulai dari penghormatan pada tahap
perkembangan anak—bahwa literasi paling awal bukanlah teks, melainkan
pengalaman hidup yang disentuh, dijalani, dan dirayakan.

