banner Tongkat yang Dilepaskan, Luka yang Tertinggal: Catatan Kritis Pastoral atas Pengunduran Diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur dalam Terang Iman Katolik

Tongkat yang Dilepaskan, Luka yang Tertinggal: Catatan Kritis Pastoral atas Pengunduran Diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur dalam Terang Iman Katolik



Suara Numbei News - Pengunduran diri seorang uskup bukanlah peristiwa administratif belaka. Dalam iman Katolik, itu adalah peristiwa teologis, karena menyentuh inti Gereja sebagai Corpus Christi—tubuh Kristus yang hidup, rapuh, dan selalu membutuhkan pertobatan. Ketika Mgr. Paskalis Bruno Syukur menanggalkan tongkat kegembalaannya, Gereja tidak hanya kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga dihadapkan pada cermin nurani kolektif: tentang kuasa, ketaatan, kebenaran, dan luka yang belum sepenuhnya disembuhkan.

Gembala Menurut Injil: Kuasa yang Melayani, Bukan Menguasai

Yesus memberi standar yang tak dapat ditawar bagi kepemimpinan Gereja: “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi pelayan” (Mat 20:26). Maka seorang uskup bukan terutama manajer, administrator, atau figur otoritatif, melainkan ikon Kristus Sang Gembala Baik—yang mengenal domba-dombanya, mendengarkan, dan berjalan bersama mereka.

Tudingan tentang otoritarianisme, abuse of power, dan pengambilan keputusan sepihak—terlepas dari benar atau tidaknya secara faktual—menunjukkan satu hal yang serius secara pastoral: retaknya relasi kepercayaan. Dalam teologi Katolik, krisis kepercayaan bukan sekadar masalah komunikasi, tetapi indikasi kegagalan perjumpaan pastoral. Ketika para imam menyatakan kerinduan akan “uskup yang berbau domba”, itu adalah jeritan iman, bukan sekadar kritik struktural.

Sinodalitas yang Terluka

Paus Fransiskus menegaskan bahwa Gereja abad ini adalah Gereja sinodal: berjalan bersama, mendengarkan, membedakan roh. Maka setiap keputusan penting—terutama yang menyentuh tubuh Gereja seperti kuria, seminari, dan karya kesehatan—harus lahir dari proses dialog yang jujur dan partisipatif.

Pergantian kuria secara diam-diam, walaupun kemudian dibatalkan, memperlihatkan ketegangan antara otoritas kanonik dan etika sinodal. Secara hukum Gereja, seorang uskup memang memiliki kewenangan luas. Namun secara Injili, hak untuk memutuskan tidak identik dengan kebenaran cara memutuskan. Di sinilah Gereja diuji: apakah ia setia pada hukum semata, atau juga pada roh Injil.

Reorganisasi atau Pengusiran? Soal Persepsi dan Luka

Kasus rumah sakit di Lebak menjadi simbol penting. Mgr. Paskalis menyebutnya sebagai reorganisasi demi misi yang lebih sehat. Namun bagi para suster dan sebagian umat, itu dirasakan sebagai pengusiran. Dalam pastoral Katolik, persepsi luka sama seriusnya dengan fakta administratif. Gereja tidak hanya hidup dari niat baik, tetapi dari bagaimana niat itu dialami oleh yang kecil dan lemah.

Yesus tidak pernah kalah secara moral, tetapi Ia tetap memilih jalan salib agar tidak melukai persatuan. Maka pertanyaan iman yang menggugat adalah:

Apakah efisiensi dan keberlanjutan misi boleh dibayar dengan rasa tersingkirnya para pelayan Injil?

Pengunduran Diri: Tindakan Profetis atau Strategi Damai?

Mgr. Paskalis menegaskan bahwa ia mundur bukan karena bersalah, melainkan demi persatuan Gereja. Pernyataan ini secara teologis sangat kuat, bahkan mendekati spiritualitas kenosis—pengosongan diri Kristus (Flp 2:6–8). Namun iman Katolik juga menuntut kejujuran radikal: pengosongan diri bukan hanya melepaskan jabatan, tetapi juga membuka ruang terang bagi kebenaran.

Ketika alasan resmi Vatikan tidak dibuka, Gereja berisiko terjebak dalam budaya bisu yang justru memperdalam kecurigaan umat. Dalam konteks krisis Gereja global—terutama soal kekerasan seksual—transparansi bukan ancaman bagi iman, melainkan syarat pemulihannya.

Mistisisme dan Tanggung Jawab Publik

Menafsirkan pengunduran diri sebagai “pengalaman mistik” adalah sah dalam iman personal. Namun Gereja juga adalah ruang publik iman. Mistisisme tidak boleh menjadi selimut bagi pertanyaan etis dan struktural. Santa Teresa dari Avila mengingatkan: pengalaman rohani sejati selalu berbuah pada kerendahan hati dan pembaruan hidup bersama.

Maka Gereja perlu bertanya dengan jujur: Apakah kita cukup berani membedakan antara penderitaan karena kesetiaan pada Injil dan penderitaan akibat kegagalan kepemimpinan?

Gereja yang Setia pada Kristus, Bukan pada Figur

Pesan terakhir Mgr. Paskalis—agar umat setia pada Kristus, bukan pada manusia—adalah pengakuan iman yang benar. Namun justru karena itu, Gereja wajib memastikan bahwa para pemimpinnya sungguh merepresentasikan wajah Kristus, bukan bayang-bayang kuasa duniawi.

Pengunduran diri ini seharusnya tidak ditutup dengan keheningan cepat, tetapi dibuka dengan proses penyembuhan eklesial: mendengarkan korban luka batin, merefleksikan model kepemimpinan, dan membangun kembali kepercayaan.

Penutup: Tongkat Dilepas, Jalan Pertobatan Dibuka

Tongkat gembala yang dilepaskan bukan akhir pelayanan, tetapi tanda bahwa Gereja selalu berada dalam proses pertobatan. Jika peristiwa ini sungguh dimaknai dalam terang iman Katolik, maka ia harus melahirkan Gereja yang lebih rendah hati, lebih sinodal, dan lebih berani berkata jujur.

Sebab Gereja tidak diselamatkan oleh keheningan kuasa, tetapi oleh kebenaran yang dihidupi dalam kasih. Dan di situlah relevansi sejati pelayanan pastoral diuji—bukan di balik jabatan, melainkan di hadapan luka umat dan terang Injil.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama