Kopi itu pahit, jujur
sejak tegukan pertama. Ia tidak menyamar sebagai minuman manis demi disukai,
tidak pula mengklaim diri sebagai solusi atas segalanya. Kepahitannya lahir
dari biji-biji yang tumbuh jauh dari pusat kekuasaan, dipetik oleh tangan-tangan
yang kasar oleh kerja, tetapi lembut oleh harapan. Setiap tetesnya membawa
cerita tentang tanah yang subur namun miskin, tentang petani yang selalu
disebut pahlawan, tetapi jarang diperlakukan sebagai manusia utuh dalam
kebijakan.
Sebatang rokok itu
perlahan memendek. Api di ujungnya bekerja tanpa henti, mengubah batang menjadi
abu, seperti rakyat kecil yang perlahan terkikis oleh kebijakan yang tak pernah
benar-benar memihak. Rokok sering dijadikan kambing hitam atas berbagai
persoalan kesehatan, sementara akar masalah—kemiskinan, ketimpangan, dan akses
layanan dasar—dibiarkan mengendap seperti ampas kopi di dasar cangkir.
Negara sering hadir
sebagai suara lantang: peraturan baru, slogan baru, visi baru. Namun segelas
kopi dan sebatang rokok tahu bahwa suara paling nyaring tidak selalu yang
paling jujur. Di balik statistik pertumbuhan, ada keluarga yang bertahan dengan
upah harian. Di balik klaim keberhasilan, ada anak-anak yang berjalan jauh demi
sekolah, dan orang tua yang menunda berobat karena biaya.
Kopi mengajarkan
kesabaran. Ia butuh waktu untuk diseduh, bukan sekadar dicampur janji. Negara
sering lupa bahwa pembangunan bukan lomba cepat-cepat menggunting pita,
melainkan kerja sunyi yang konsisten. Jalan yang baik bukan hanya yang terlihat
dari mobil dinas, tetapi yang dilalui kaki-kaki lelah setiap hari. Pendidikan
bukan sekadar angka kelulusan, tetapi keberanian untuk bermimpi tanpa takut
biaya.
Rokok, dengan segala
kontroversinya, justru menyingkap ironi. Ia dikenai pajak tinggi atas nama
kesehatan, namun buruh yang menggulungnya sering tak punya jaminan kesehatan.
Negara lihai memungut dari yang kecil, tetapi kikuk menagih dari yang besar.
Cukai mengalir deras, tetapi keadilan sering bocor di tengah jalan.
Segelas kopi itu
lama-kelamaan mendingin. Ia menjadi metafora harapan yang terlalu sering
ditunda. Janji-janji pernah hangat saat diucapkan, tetapi kehilangan makna
ketika realisasi tak kunjung datang. Rokok tinggal puntung—jejak dari sesuatu
yang pernah menyala, lalu dilupakan. Begitulah nasib banyak aspirasi rakyat:
dipakai sebagai bahan bakar politik, lalu dibuang setelah tujuan tercapai.
Namun dari kepahitan
kopi dan sisa rokok itu, lahir kesadaran yang tidak bisa dibungkam. Bahwa
rakyat tidak menuntut kemewahan, hanya kehadiran yang nyata. Tidak meminta
pidato panjang, hanya kebijakan yang adil. Tidak berharap negara sempurna,
hanya negara yang mau mendengar sebelum mengatur.
Segelas kopi dan
sebatang rokok bukan simbol kemalasan, melainkan ruang kontemplasi. Di sanalah
warga biasa menimbang hidup, menakar keadilan, dan bertanya pelan: untuk siapa
negara ini bekerja? Pertanyaan itu sederhana, tetapi justru itulah yang sering
dihindari oleh kekuasaan.
Selama kopi masih pahit
dan rokok masih dibakar untuk menenangkan pikiran yang gelisah, kritik terhadap
pemerintah akan terus lahir. Tidak selalu lantang, tidak selalu rapi, tetapi
jujur. Ia hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam diam yang penuh makna,
menunggu saat negara benar-benar berani meneguk kenyataan—tanpa gula
berlebihan, tanpa asap pengalihan.
Karena negara yang
dewasa bukan yang alergi terhadap kritik, melainkan yang belajar dari segelas
kopi dan sebatang rokok: pahit boleh, habis boleh, asal tidak mengkhianati rasa
dan tujuan.
