banner Menari di Atas Luka: Likurai, Budaya, dan Politik yang Meminjam Ingatan

Menari di Atas Luka: Likurai, Budaya, dan Politik yang Meminjam Ingatan



Suara Numbei NewsLikurai lahir bukan dari panggung kehormatan, melainkan dari retakan sejarah. Ia tumbuh dari tanah yang menyimpan darah, dari tubuh-tubuh perempuan yang berdiri di antara kemenangan dan kehilangan. Namun dalam praktik politik kontemporer, Likurai kerap dipaksa berdamai dengan kekuasaan yang justru mengosongkan maknanya. Tarian ini dijinakkan, dipoles, lalu dipajang sebagai bukti semu bahwa kekuasaan masih “berakar pada budaya”.

Masalahnya bukan pada tampil atau tidaknya Likurai di ruang publik, melainkan pada siapa yang mengatur maknanya dan untuk kepentingan apa ia dipanggungkan.

Likurai tidak pernah netral. Dalam asal-usulnya, ia adalah bahasa konflik. Genderang dipukul bukan untuk menghibur, melainkan untuk menandai peristiwa ekstrem: perang, kematian, kemenangan, dan pemulihan tatanan sosial. Likurai mengakui bahwa sejarah tidak lahir dari kedamaian kosong, melainkan dari benturan dan luka yang nyata. Ketika negara dan elite politik menampilkan Likurai sebagai tarian penyambutan yang manis dan aman, mereka sedang melakukan pemutihan sejarah. Konflik disapu bersih, penderitaan kolektif disamarkan, dan ingatan dilunakkan agar tidak mengganggu narasi stabilitas.

Dalam politik, tarian yang menyimpan konflik adalah ancaman. Karena itu, Likurai harus dibuat netral. Ia harus diputus dari asal-usulnya agar tidak berbicara terlalu keras.

Likurai hampir selalu ditarikan oleh perempuan. Fakta ini sering dirayakan sebagai simbol kekuatan perempuan adat. Namun perayaan ini menyembunyikan kenyataan pahit: tubuh perempuan adat kerap dijadikan medium politik simbolik. Mereka dihadirkan di panggung-panggung resmi sebagai wajah harmoni dan keramahan budaya, sementara suara dan pengalaman hidup mereka dikeluarkan dari ruang pengambilan keputusan.

Tubuh perempuan ditampilkan, tetapi aspirasinya disenyapkan. Genderang dipukul dengan penuh semangat, tetapi persoalan konkret yang dihadapi perempuan—kemiskinan struktural, kekerasan, beban kerja domestik, perdagangan manusia—tidak pernah ikut menari di panggung kekuasaan. Inilah bentuk kekerasan simbolik yang paling halus: budaya dipakai, manusianya diabaikan.



Setiap kali Likurai hadir dalam acara kenegaraan atau kampanye politik, kekuasaan sedang membangun teater legitimasi. Kehadiran tarian ini seolah menjadi bukti bahwa adat telah memberi restu. Namun legitimasi adat sejatinya tidak lahir dari satu pertunjukan, melainkan dari keberpihakan nyata pada keadilan dan keseimbangan hidup komunitas.

Politik modern gemar meminjam simbol, tetapi enggan memikul tanggung jawab etis yang menyertainya. Likurai dijadikan dekorasi moral: indah dilihat, tetapi tidak diberi ruang untuk mengoreksi. Budaya dirawat sebagai ornamen, bukan sebagai cermin yang memaksa kekuasaan bercermin pada ketimpangan yang diciptakannya sendiri.

Dalih pelestarian sering dijadikan tameng. Likurai, kata mereka, harus dibawa ke panggung modern agar tidak punah. Namun pelestarian yang memisahkan budaya dari konteksnya adalah bentuk lain dari pemiskinan makna. Gerak, kostum, dan irama dijaga dengan rapi, tetapi cerita tentang perang, tanah, dan relasi kuasa disingkirkan.

Ketika budaya hanya dipelihara sebagai tontonan, ia kehilangan daya gugahnya. Ia menjadi jinak, aman, dan siap dikonsumsi. Inilah wajah komodifikasi budaya: yang dilestarikan adalah bentuk, yang dikorbankan adalah makna.

Padahal Likurai sejatinya adalah arsip perlawanan. Ia menyimpan ingatan tentang bagaimana komunitas bertahan, bagaimana perempuan mengambil peran strategis dalam menjaga moral dan kesinambungan hidup. Likurai bukan tarian pelupa, melainkan tarian pengingat. Ia lahir untuk menolak lupa, bukan untuk memperindah lupa.



Namun kekuasaan selalu merasa terancam oleh ingatan kritis. Karena itu, Likurai dibungkam dengan cara yang halus: bukan dilarang, tetapi dipermak; bukan disingkirkan, tetapi dijinakkan. Ia tetap menari, tetapi pesannya dilucuti.

Mengembalikan Likurai pada martabatnya berarti mengembalikannya sebagai bahasa kritik. Likurai tidak seharusnya hanya hadir di depan pejabat, tetapi juga di ruang pendidikan, diskusi publik, dan advokasi sosial. Ia perlu dibaca sebagai teks budaya yang menantang kekuasaan, bukan sekadar merayakannya.

Selama Likurai masih bisa dibaca sebagai gugatan, budaya belum sepenuhnya dikalahkan. Namun ketika ia hanya menjadi pembuka acara, genderang itu tetap berbunyi, tetapi tidak lagi didengar.

Likurai sejatinya menari di atas luka, bukan untuk menutupinya. Dan di situlah letak kekuatannya yang paling politis.




 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama