Furi
Batar adalah sekolah pertama
orang Malaka. Di ladang, anak-anak belajar menghitung dari jarak tanam, belajar
membaca dari tanda hujan, dan belajar etika dari cara orang tua menundukkan
badan saat menyentuh tanah. Tidak ada ijazah, tetapi ada tanggung jawab. Tidak
ada kurikulum, tetapi ada kearifan yang hidup.
Namun suatu waktu,
musim berubah bukan karena langit, melainkan karena peta. Peta yang digelar di
atas meja, jauh dari bau tanah dan keringat petani. Dari peta itu,
ladang-ladang diberi garis, musim ditentukan, dan benih dibagi bersama janji.
Jagung tidak lagi lahir dari kebutuhan perut, tetapi dari kebutuhan laporan.
Furi Batar dipanggil bukan sebagai tradisi, melainkan sebagai program.
Sejak itu,
jagung-jagung tumbuh seragam. Batangnya lurus, daunnya hijau mengkilap, tetapi
akarnya pendek. Ia tumbuh cepat, seolah tahu bahwa hidupnya tidak diukur oleh
rasa, melainkan oleh jumlah. Ladang menjadi panggung, dan petani menjadi
figuran yang tersenyum di balik spanduk.
Sekolah-sekolah di Rai
Malaka perlahan meniru ladang. Gedung dicat baru, halaman ditata rapi, dan
baliho prestasi dipasang tinggi. Namun di dalam kelas, kata-kata lebih sering
mengalir dari atas ke bawah, bukan berputar dan diperdebatkan. Pendidikan
berubah menjadi latihan patuh. Anak-anak diajari menjawab dengan benar, bukan
bertanya dengan jujur.
Para guru mengajar
dengan hati yang terbelah. Di satu sisi, mereka ingin menumbuhkan nalar dan
keberanian. Di sisi lain, mereka dihimpit oleh daftar, angka, dan target yang
harus selalu tampak berhasil. Dalam sunyi, mereka tahu: pengetahuan tidak
tumbuh di bawah tekanan. Tetapi tekanan itulah yang kini dianggap disiplin.
Intervensi tidak pernah
datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan bahasa manis: kemajuan, percepatan,
keberhasilan. Ia meminta agar ladang dan sekolah bergerak seirama, mengikuti
tempo yang sama. Jagung harus panen tepat waktu. Murid harus lulus tepat angka.
Siapa yang terlambat, dianggap malas. Siapa yang gagal, dianggap tidak mampu.
Tak ada yang bertanya
apakah tanah siap. Tak ada yang mendengar apakah anak-anak mengerti.
Di Rai Malaka,
batu-batu tua masih berdiri sebagai saksi. Batu lulik itu pernah menjadi tempat
orang bersumpah untuk tidak mengkhianati tanah. Kini ia dilewati tanpa menoleh.
Air sungai masih mengalir, tetapi suaranya kalah oleh pengeras suara. Tanah masih
memberi, tetapi tidak lagi diajak bicara.
Suatu sore, di ladang
yang mulai jarang ditanami, seorang anak duduk bersama kakeknya. Mereka
memandangi jagung yang tumbuh rapih, terlalu rapih.
“Kakek,” kata si anak, “mengapa kita menanam kalau tidak boleh menentukan
waktunya?”
Kakek itu terdiam lama.
Tangannya meremas tanah, seolah memastikan ia masih hidup.
“Karena sekarang,” katanya pelan, “menanam bukan lagi soal hidup, tapi soal
taat.”
Jawaban itu menggema ke
sekolah.
Di ruang kelas,
anak-anak belajar menghafal nama-nama besar, tetapi lupa menyebut nama tanahnya
sendiri. Mereka tahu rumus, tetapi tidak tahu mengapa ladang retak saat hujan
datang terlambat. Mereka diajari bermimpi tinggi, tetapi tidak diajari berdiri
kokoh. Pendidikan menjauh dari Furi Batar—menjauh dari akar.
Jagung dan pendidikan
akhirnya memiliki nasib yang sama. Keduanya dipaksa tumbuh di tanah yang telah
disusun oleh kepentingan. Keduanya dipamerkan sebagai bukti keberhasilan.
Keduanya kehilangan rasa. Jagung dipanen cepat dan hambar. Anak-anak lulus
cepat dan rapuh.
Namun tanah tidak
pernah benar-benar menyerah. Ia menyimpan benih yang jatuh di luar perhitungan.
Benih-benih kecil yang tumbuh pelan, jauh dari sorotan. Di sana, Furi Batar
masih dihidupi sebagai pengetahuan, bukan instruksi. Di sana, pendidikan masih
berani bertanya.
Di Rai Malaka, harapan
mungkin tidak lagi berisik. Ia bersembunyi di ladang-ladang sunyi dan
kelas-kelas kecil yang menolak tunduk sepenuhnya. Menunggu suatu hari, ketika
menanam kembali menjadi perjanjian, dan belajar kembali menjadi pembebasan.
Sebab jagung yang
berakar dalam tidak takut musim.
Dan pendidikan yang jujur tidak gentar pada kekuasaan.
