Pada bait berikutnya, Taka sela ba kuda, lun turu, bete lun turu,
bete keta lun turu, mai kikar ba mai kikar, air mata putri bercucuran,
namun ia diminta menahan tangis. Pesannya jelas, belajar adalah perjalanan
panjang, seperti pelana kuda yang harus dipasang sebelum berangkat. Tidak ada
hasil tanpa kesiapan, tidak ada kematangan tanpa kesabaran, dan tidak ada
pendidikan tanpa keberanian menunda kepuasan.
Bait terakhir, Ohin kalan sei rani, ai ida mutu ai ida,
awan emi ain tasi, ain tasi ami ain foho, malam ini kita masih bersama,
esok berpisah menuju laut dan gunung. Inilah filosofi diferensiasi hidup.
Setiap anak punya jalan, ritme, dan arah belajar berbeda. Pendidikan seharusnya
membaca itu sebagai kekayaan, bukan sebagai angka seragam yang kaku.
Sayangnya, kebijakan
pendidikan kita bergerak berlawanan. Kurikulum yang sering berganti, asesmen
nasional yang menstandarkan kecakapan, serta obsesi pada skor literasi dan
numerasi, justru menjauhkan sekolah dari ruh Oras Loro Malirin. Anak-anak hari ini dipaksa berlayar serentak,
tanpa memeriksa apakah perahu mereka siap, apakah angin berpihak, atau apakah
mereka masih menangis mencari induknya.
Fenomena belajar instan
menjadi gejala paling kasatmata. Seorang siswa SMP di kota kecil Kabupaten
Malaka Provinsi NTT bercerita, ia lebih memilih menyalin jawaban dari internet
ketimbang membaca buku. Baginya, yang penting nilai. Proses dianggap beban.
Guru ditekan target asesmen, sekolah dikejar rapor mutu, sementara anak
kehilangan makna belajar. Dalam bahasa Tetun, situasi ini seperti oan la hatene
dalan, anak yang berjalan tanpa peta dan tanpa arah.
Asesmen nasional
sejatinya dimaksudkan memotret kualitas sistem. Namun di lapangan, ia berubah
menjadi alat kecemasan kolektif. Sekolah mengajar demi soal, bukan demi hidup.
Anak dilatih menebak jawaban, bukan merawat rasa ingin tahu. Padahal Oras Loro Malirin mengajarkan bahwa
tangis adalah bagian dari tumbuh. Teu tanis lakateu tanis, jangan paksa anak
berhenti menangis sebelum ia mengerti mengapa harus melangkah dan memilih
jalannya sendiri.
Kurikulum Merdeka
membawa jargon kebebasan, tetapi praktiknya sering tersandera administrasi.
Modul ajar menumpuk, laporan menekan, dan guru kehilangan waktu menemani anak.
Dalam budaya Tetun, belajar adalah hanorin no hametin, menguatkan pelan-pelan dengan
kesabaran. Bukan memaksa, bukan membandingkan, apalagi menghakimi anak
berdasarkan satu ukuran tunggal.
Ketika negara terus
mengukur anak dengan satu dahan, ai ida
mutu ai ida, kita akan gagal memahami kenyataan sosial di kelas. Ada anak
yang cepat membaca, tetapi rapuh secara emosional. Ada yang lambat menghitung,
namun kuat bertahan hidup. Sebagian memang ditakdirkan ke laut, ain tasi, sebagian ke gunung, ain foho. Kebijakan yang adil seharusnya
memberi ruang pada keragaman capaian, bukan menyeragamkan jalan dan tujuan.
Oras
Loro Malirin juga berbicara tentang
perpisahan yang beradab. Orang tua pergi bukan untuk meninggalkan, melainkan
untuk kembali. Ini kritik tajam bagi negara yang sering absen setelah
menetapkan kebijakan. Evaluasi datang, pendampingan hilang. Sekolah ditinggal
menghadapi dampak sendiri. Dalam konteks ini, negara lupa menjadi ina yang
setia.
Jika pendidikan terus
diarahkan pada kecepatan dan hasil instan, kita hanya akan melahirkan generasi
cekatan tetapi rapuh. Generasi yang tahu cara menjawab, namun tidak paham
makna. Padahal lagu ini mengajarkan menunggu senja, mendengar tangis, dan
memahami waktu. Pendidikan perlu keberanian untuk memperlambat, agar anak
benar-benar sampai, bukan sekadar tiba.
Pemerintah Indonesia semestinya membaca Oras Loro Malirin
sebagai peringatan kebijakan. Evaluasi pendidikan tidak boleh berhenti pada
tabel dan grafik. Ia harus turun ke ruang kelas, ke rumah-rumah, ke cerita anak
yang lelah dikejar target. Reformasi kurikulum harus dimulai dari kepercayaan
pada guru dan konteks lokal, bukan pada ketakutan nasional terhadap peringkat
global.
Tanpa keberpihakan itu,
sekolah akan terus memproduksi kepatuhan, bukan kesadaran. Anak belajar karena
takut nilai, bukan karena cinta pengetahuan. Dalam istilah Tetun, ini adalah moris la loos, hidup yang tidak jelas arah (tanpa tujuan). Oras Loro Malirin mengingatkan,
perjalanan belajar selalu disertai air mata dan jarak, tetapi juga janji
pulang.
Evaluasi pendidikan
tidak boleh mematikan proses, asesmen tidak boleh membunuh rasa ingin tahu, dan
sekolah harus kembali menjadi ruang aman bertumbuh. Seperti senja dalam Oras Loro Malirin, pendidikan
membutuhkan waktu redup sebelum gelap, agar anak siap menjemput pagi dengan
kepala tegak dan hati utuh. Itulah makna terdalam lagu Tetun ini, sebuah
panggilan etis bagi negara, guru, dan orang tua, untuk berhenti tergesa, menghormati
proses, dan memanusiakan belajar sebagai perjalanan hidup bersama. Tanpa itu
semua, pendidikan hanya akan menjadi ritual kosong tanpa jiwa dan arah pulang.
“Pendidikan pedesaan adalah kesabaran yang menuntun anak menyeberangi senja: belajar bukan untuk cepat sampai, melainkan untuk menemukan arah—ke laut atau ke gunung—dengan akar yang kuat, hati yang berani, dan janji pulang yang tetap dijaga.”
