banner "Oras Loro Malirin": Senja Pendidikan dan Tangis Anak yang Ditinggalkan Kebijakan

"Oras Loro Malirin": Senja Pendidikan dan Tangis Anak yang Ditinggalkan Kebijakan



Suara Numbei News - Oras Loro Malirin bukan sekadar syair lama dari orang Tetun Malaka dan Belu. Ia adalah cermin pendidikan, kebijakan, dan cara kita memperlakukan anak-anak hari ini. Lagu ini membuka dengan bait Oras loro malirin, teu tanis lakateu tanis, tanis naak nian ina, ro sina sa'e ro sina. Waktu surya terbenam, anak merpati menangis, menangisi induknya yang pergi dengan kapal. Tangisan itu adalah simbol keterpisahan, jarak, dan proses menjadi dewasa yang tak instan.

Pada bait berikutnya, Taka sela ba kuda, lun turu, bete lun turu, bete keta lun turu, mai kikar ba mai kikar, air mata putri bercucuran, namun ia diminta menahan tangis. Pesannya jelas, belajar adalah perjalanan panjang, seperti pelana kuda yang harus dipasang sebelum berangkat. Tidak ada hasil tanpa kesiapan, tidak ada kematangan tanpa kesabaran, dan tidak ada pendidikan tanpa keberanian menunda kepuasan.

Bait terakhir, Ohin kalan sei rani, ai ida mutu ai ida, awan emi ain tasi, ain tasi ami ain foho, malam ini kita masih bersama, esok berpisah menuju laut dan gunung. Inilah filosofi diferensiasi hidup. Setiap anak punya jalan, ritme, dan arah belajar berbeda. Pendidikan seharusnya membaca itu sebagai kekayaan, bukan sebagai angka seragam yang kaku.

Sayangnya, kebijakan pendidikan kita bergerak berlawanan. Kurikulum yang sering berganti, asesmen nasional yang menstandarkan kecakapan, serta obsesi pada skor literasi dan numerasi, justru menjauhkan sekolah dari ruh Oras Loro Malirin. Anak-anak hari ini dipaksa berlayar serentak, tanpa memeriksa apakah perahu mereka siap, apakah angin berpihak, atau apakah mereka masih menangis mencari induknya.

Fenomena belajar instan menjadi gejala paling kasatmata. Seorang siswa SMP di kota kecil Kabupaten Malaka Provinsi NTT bercerita, ia lebih memilih menyalin jawaban dari internet ketimbang membaca buku. Baginya, yang penting nilai. Proses dianggap beban. Guru ditekan target asesmen, sekolah dikejar rapor mutu, sementara anak kehilangan makna belajar. Dalam bahasa Tetun, situasi ini seperti oan la hatene dalan, anak yang berjalan tanpa peta dan tanpa arah.

Asesmen nasional sejatinya dimaksudkan memotret kualitas sistem. Namun di lapangan, ia berubah menjadi alat kecemasan kolektif. Sekolah mengajar demi soal, bukan demi hidup. Anak dilatih menebak jawaban, bukan merawat rasa ingin tahu. Padahal Oras Loro Malirin mengajarkan bahwa tangis adalah bagian dari tumbuh. Teu tanis lakateu tanis, jangan paksa anak berhenti menangis sebelum ia mengerti mengapa harus melangkah dan memilih jalannya sendiri.

Kurikulum Merdeka membawa jargon kebebasan, tetapi praktiknya sering tersandera administrasi. Modul ajar menumpuk, laporan menekan, dan guru kehilangan waktu menemani anak. Dalam budaya Tetun, belajar adalah hanorin no hametin, menguatkan pelan-pelan dengan kesabaran. Bukan memaksa, bukan membandingkan, apalagi menghakimi anak berdasarkan satu ukuran tunggal.

Ketika negara terus mengukur anak dengan satu dahan, ai ida mutu ai ida, kita akan gagal memahami kenyataan sosial di kelas. Ada anak yang cepat membaca, tetapi rapuh secara emosional. Ada yang lambat menghitung, namun kuat bertahan hidup. Sebagian memang ditakdirkan ke laut, ain tasi, sebagian ke gunung, ain foho. Kebijakan yang adil seharusnya memberi ruang pada keragaman capaian, bukan menyeragamkan jalan dan tujuan.

Oras Loro Malirin juga berbicara tentang perpisahan yang beradab. Orang tua pergi bukan untuk meninggalkan, melainkan untuk kembali. Ini kritik tajam bagi negara yang sering absen setelah menetapkan kebijakan. Evaluasi datang, pendampingan hilang. Sekolah ditinggal menghadapi dampak sendiri. Dalam konteks ini, negara lupa menjadi ina yang setia.

Jika pendidikan terus diarahkan pada kecepatan dan hasil instan, kita hanya akan melahirkan generasi cekatan tetapi rapuh. Generasi yang tahu cara menjawab, namun tidak paham makna. Padahal lagu ini mengajarkan menunggu senja, mendengar tangis, dan memahami waktu. Pendidikan perlu keberanian untuk memperlambat, agar anak benar-benar sampai, bukan sekadar tiba.

Pemerintah Indonesia semestinya membaca Oras Loro Malirin sebagai peringatan kebijakan. Evaluasi pendidikan tidak boleh berhenti pada tabel dan grafik. Ia harus turun ke ruang kelas, ke rumah-rumah, ke cerita anak yang lelah dikejar target. Reformasi kurikulum harus dimulai dari kepercayaan pada guru dan konteks lokal, bukan pada ketakutan nasional terhadap peringkat global.

Tanpa keberpihakan itu, sekolah akan terus memproduksi kepatuhan, bukan kesadaran. Anak belajar karena takut nilai, bukan karena cinta pengetahuan. Dalam istilah Tetun, ini adalah moris la loos, hidup yang tidak jelas arah (tanpa tujuan). Oras Loro Malirin mengingatkan, perjalanan belajar selalu disertai air mata dan jarak, tetapi juga janji pulang.

Evaluasi pendidikan tidak boleh mematikan proses, asesmen tidak boleh membunuh rasa ingin tahu, dan sekolah harus kembali menjadi ruang aman bertumbuh. Seperti senja dalam Oras Loro Malirin, pendidikan membutuhkan waktu redup sebelum gelap, agar anak siap menjemput pagi dengan kepala tegak dan hati utuh. Itulah makna terdalam lagu Tetun ini, sebuah panggilan etis bagi negara, guru, dan orang tua, untuk berhenti tergesa, menghormati proses, dan memanusiakan belajar sebagai perjalanan hidup bersama. Tanpa itu semua, pendidikan hanya akan menjadi ritual kosong tanpa jiwa dan arah pulang.

“Pendidikan pedesaan adalah kesabaran yang menuntun anak menyeberangi senja: belajar bukan untuk cepat sampai, melainkan untuk menemukan arah—ke laut atau ke gunung—dengan akar yang kuat, hati yang berani, dan janji pulang yang tetap dijaga.”



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama