banner Kampung Numbei, Banjir, dan Ekskavator yang Belum Sampai Tujuan

Kampung Numbei, Banjir, dan Ekskavator yang Belum Sampai Tujuan

Tangkapan layar eksvator hampir hanyut terseret arus kali Benanain di Kampung Numbei Kaputen Malaka


Suara Numbei News - Kamis sore, 19 Februari 2026, arus Kali Benanain datang tanpa keraguan. Airnya cokelat, pekat, dan bergerak seperti membawa amarah dari hulu yang jauh. Di tepian, warga Kampung Numbei hanya bisa berdiri dengan jarak yang aman, memandangi sebuah ekskavator yang sebelumnya mencoba menyeberang menuju Kakaniuk, di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Ia datang untuk sebuah tujuan mulia: membantu pembangunan jembatan gantung, penghubung yang telah lama dinanti oleh masyarakat yang setiap tahun harus berdamai dengan banjir dan keterpisahan.

Namun sore itu, sungai tidak memberi jalan.

Ketika ekskavator mulai masuk ke badan sungai, arus yang semula tampak bisa dilawan berubah menjadi kekuatan yang tak bisa ditawar. Air naik perlahan, lalu cepat, lalu menelan sebagian tubuh besinya. Rantai-rantai yang biasanya kokoh di atas tanah kini menghilang di bawah permukaan. Badannya sempat bergeser, sempat tampak seperti akan hanyut, sebelum akhirnya berhenti—bukan karena berhasil menyeberang, tetapi karena tak mampu lagi bergerak.

Kini, ekskavator itu masih di sana.

Terendam.

Diam.

Setengah tubuhnya berada di dalam air, seperti makhluk yang tertangkap di antara dua dunia—darat yang ia tinggalkan dan seberang yang belum sempat ia capai.

Mesinnya tak lagi meraung. Tidak ada lagi gerak. Hanya arus yang terus melewati tubuhnya, seolah ingin menjadikannya bagian dari sungai itu sendiri.

Warga hanya bisa melihat.

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini. Sungai sedang memegang kendali.

Pemandangan itu menyisakan perasaan yang sulit dijelaskan. Ekskavator yang datang sebagai pembawa harapan kini justru menjadi simbol keterhentian. Ia belum sampai, tetapi juga belum hilang. Ia tertahan—seperti harapan yang belum selesai, seperti janji yang belum sempat ditepati.

Pembangunan jembatan gantung itu masih menunggu.

Menunggu air surut.

Menunggu waktu yang lebih bersahabat.

Menunggu kesempatan kedua.

Di atas arus yang terus bergerak, ekskavator itu tetap diam, setia pada tugasnya, meskipun untuk sementara ia harus menyerah pada keadaan. Ia tidak pergi. Ia tidak kembali. Ia tinggal—terendam, tetapi tidak hilang.

Dan mungkin, justru di situlah makna sebenarnya: bahwa di tempat seperti ini, harapan tidak selalu maju. Kadang ia harus berhenti. Kadang ia harus terendam. Kadang ia harus belajar bertahan di dalam banjir, sebelum akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama