![]() |
| Tangkapan layar eksvator hampir hanyut terseret arus kali Benanain di Kampung Numbei Kaputen Malaka |
Namun sore itu, sungai tidak memberi jalan.
Ketika ekskavator mulai masuk ke badan sungai, arus
yang semula tampak bisa dilawan berubah menjadi kekuatan yang tak bisa ditawar.
Air naik perlahan, lalu cepat, lalu menelan sebagian tubuh besinya.
Rantai-rantai yang biasanya kokoh di atas tanah kini menghilang di bawah
permukaan. Badannya sempat bergeser, sempat tampak seperti akan hanyut, sebelum
akhirnya berhenti—bukan karena berhasil menyeberang, tetapi karena tak mampu
lagi bergerak.
Kini, ekskavator itu masih di sana.
Terendam.
Diam.
Setengah tubuhnya berada di dalam air, seperti
makhluk yang tertangkap di antara dua dunia—darat yang ia tinggalkan dan
seberang yang belum sempat ia capai.
Mesinnya tak lagi meraung. Tidak ada lagi gerak.
Hanya arus yang terus melewati tubuhnya, seolah ingin menjadikannya bagian dari
sungai itu sendiri.
Warga hanya bisa melihat.
Tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini. Sungai
sedang memegang kendali.
Pemandangan itu menyisakan perasaan yang sulit
dijelaskan. Ekskavator yang datang sebagai pembawa harapan kini justru menjadi
simbol keterhentian. Ia belum sampai, tetapi juga belum hilang. Ia
tertahan—seperti harapan yang belum selesai, seperti janji yang belum sempat
ditepati.
Pembangunan jembatan gantung itu masih menunggu.
Menunggu air surut.
Menunggu waktu yang lebih bersahabat.
Menunggu kesempatan kedua.
Di atas arus yang terus bergerak, ekskavator itu
tetap diam, setia pada tugasnya, meskipun untuk sementara ia harus menyerah
pada keadaan. Ia tidak pergi. Ia tidak kembali. Ia tinggal—terendam, tetapi
tidak hilang.
Dan mungkin, justru di situlah makna sebenarnya:
bahwa di tempat seperti ini, harapan tidak selalu maju. Kadang ia harus
berhenti. Kadang ia harus terendam. Kadang ia harus belajar bertahan di dalam
banjir, sebelum akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan.
