Pemimpin zaman sekarang tidak hanya memimpin
masyarakat, tetapi juga memimpin persepsi. Kamera menjadi saksi yang lebih
penting daripada kenyataan. Kunjungan ke rakyat miskin, misalnya, terkadang
lebih sibuk memastikan sudut pengambilan gambar daripada memastikan solusi.
Bantuan sosial berubah menjadi konten. Empati berubah menjadi materi publikasi.
Bahkan kesederhanaan pun bisa diproduksi sebagai strategi komunikasi.
Fenomena ini pernah dibaca secara tajam oleh Erving
Goffman, yang mengatakan bahwa kehidupan sosial menyerupai panggung sandiwara.
Ada “front stage”, di mana aktor menampilkan diri sebaik mungkin, dan ada “back
stage”, di mana realitas yang sebenarnya tersembunyi. Media sosial telah
memperluas panggung depan itu tanpa batas. Pemimpin dapat tampil setiap saat,
tetapi justru semakin sulit dikenali keasliannya.
Masalahnya bukan pada penggunaan media sosial itu
sendiri. Media sosial hanyalah alat. Persoalannya adalah ketika alat itu
menjadi ruang untuk memoles realitas, bukan menyampaikan kebenaran. Kejujuran
menjadi kurang penting dibanding kesan. Dalam budaya pencitraan digital, yang
utama bukan apakah seseorang benar-benar bekerja, tetapi apakah ia terlihat
bekerja.
Kita menyaksikan bagaimana beberapa pemimpin begitu
aktif membangun narasi visual tentang diri mereka: berjalan di gang sempit,
makan di warung sederhana, duduk bersama rakyat kecil. Semua tampak indah dan
menyentuh. Tetapi pertanyaan kritisnya: apakah kehadiran itu menghasilkan
perubahan, atau hanya menghasilkan gambar?
Budaya pencitraan digital menciptakan ilusi
kedekatan. Rakyat merasa dekat karena sering melihat pemimpinnya di layar.
Padahal kedekatan visual tidak selalu berarti kedekatan moral. Pemimpin bisa
hadir setiap hari di ponsel masyarakat, tetapi absen dalam tanggung jawab yang
nyata.
Di sinilah kejujuran mengalami krisis yang paling
halus. Ia tidak diserang secara terbuka, tetapi digantikan secara perlahan.
Kejujuran tidak lagi menjadi fondasi, melainkan menjadi aksesoris. Ia dipakai
ketika perlu, dilepas ketika tidak menguntungkan.
Filsuf Perancis Michel Foucault pernah mengingatkan
bahwa kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui paksaan, tetapi melalui
produksi kebenaran. Dalam konteks digital, kekuasaan dapat memproduksi citra
yang diterima sebagai kebenaran. Apa yang sering dilihat akhirnya dipercaya,
meskipun tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Inilah bahaya terbesar dari budaya pencitraan
digital: ia tidak memaksa kita untuk berbohong, tetapi membiasakan kita untuk
hidup dalam setengah kebenaran.
Kejujuran, pada akhirnya, adalah kualitas yang
sunyi. Ia tidak selalu spektakuler. Ia tidak selalu menarik untuk direkam. Ia
sering hadir dalam keputusan yang tidak populer, dalam kerja keras yang tidak
dipuji, dalam tanggung jawab yang tidak dilihat.
Sebaliknya, pencitraan membutuhkan penonton. Ia
hidup dari perhatian. Ia membutuhkan pengakuan terus-menerus.
Akibatnya, pemimpin bisa tergoda untuk lebih setia
pada citra daripada pada kebenaran. Lebih takut kehilangan popularitas daripada
kehilangan integritas.
Masyarakat pun ikut terjebak dalam lingkaran ini.
Kita lebih mudah terkesan oleh simbol daripada substansi. Kita lebih cepat
membagikan gambar daripada memeriksa fakta. Kita menjadi penonton yang tanpa
sadar ikut memelihara budaya pencitraan.
Padahal, masa depan sebuah masyarakat tidak
ditentukan oleh seberapa indah pemimpinnya terlihat, tetapi oleh seberapa jujur
ia bertindak.
Kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Dan
kepercayaan adalah fondasi kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan hanya
menjadi pertunjukan. Ia mungkin memukau, tetapi rapuh.
Sejarah menunjukkan bahwa pencitraan memiliki umur
pendek, sementara kejujuran memiliki umur panjang. Citra bisa viral hari ini
dan dilupakan besok. Tetapi integritas meninggalkan jejak yang bertahan jauh lebih
lama daripada algoritma.
Pertanyaannya bukan apakah pemimpin kita aktif di
media sosial. Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran mereka di sana merupakan
cermin kejujuran, atau sekadar topeng digital?
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan,
kejujuran justru menjadi tindakan yang radikal. Ia menuntut keberanian untuk
menjadi nyata di tengah godaan untuk terlihat sempurna.
Dan mungkin, di zaman ini, bentuk kepemimpinan yang
paling langka bukanlah yang paling populer, tetapi yang paling jujur.
