banner Integritas yang Dikalahkan oleh Kamera

Integritas yang Dikalahkan oleh Kamera



Suara Numbei News - Kita hidup di zaman ketika kejujuran bukan lagi pertama-tama diukur dari tindakan, melainkan dari tampilan. Realitas tidak selalu harus nyata, asalkan terlihat meyakinkan di layar. Kepemimpinan pun mengalami pergeseran makna: dari kerja sunyi yang berdampak menjadi kerja visual yang dapat dipertontonkan. Dalam dunia yang dikuasai algoritma Instagram, TikTok, dan X, kejujuran sering kalah cepat dibanding citra.

Pemimpin zaman sekarang tidak hanya memimpin masyarakat, tetapi juga memimpin persepsi. Kamera menjadi saksi yang lebih penting daripada kenyataan. Kunjungan ke rakyat miskin, misalnya, terkadang lebih sibuk memastikan sudut pengambilan gambar daripada memastikan solusi. Bantuan sosial berubah menjadi konten. Empati berubah menjadi materi publikasi. Bahkan kesederhanaan pun bisa diproduksi sebagai strategi komunikasi.

Fenomena ini pernah dibaca secara tajam oleh Erving Goffman, yang mengatakan bahwa kehidupan sosial menyerupai panggung sandiwara. Ada “front stage”, di mana aktor menampilkan diri sebaik mungkin, dan ada “back stage”, di mana realitas yang sebenarnya tersembunyi. Media sosial telah memperluas panggung depan itu tanpa batas. Pemimpin dapat tampil setiap saat, tetapi justru semakin sulit dikenali keasliannya.

Masalahnya bukan pada penggunaan media sosial itu sendiri. Media sosial hanyalah alat. Persoalannya adalah ketika alat itu menjadi ruang untuk memoles realitas, bukan menyampaikan kebenaran. Kejujuran menjadi kurang penting dibanding kesan. Dalam budaya pencitraan digital, yang utama bukan apakah seseorang benar-benar bekerja, tetapi apakah ia terlihat bekerja.

Kita menyaksikan bagaimana beberapa pemimpin begitu aktif membangun narasi visual tentang diri mereka: berjalan di gang sempit, makan di warung sederhana, duduk bersama rakyat kecil. Semua tampak indah dan menyentuh. Tetapi pertanyaan kritisnya: apakah kehadiran itu menghasilkan perubahan, atau hanya menghasilkan gambar?

Budaya pencitraan digital menciptakan ilusi kedekatan. Rakyat merasa dekat karena sering melihat pemimpinnya di layar. Padahal kedekatan visual tidak selalu berarti kedekatan moral. Pemimpin bisa hadir setiap hari di ponsel masyarakat, tetapi absen dalam tanggung jawab yang nyata.

Di sinilah kejujuran mengalami krisis yang paling halus. Ia tidak diserang secara terbuka, tetapi digantikan secara perlahan. Kejujuran tidak lagi menjadi fondasi, melainkan menjadi aksesoris. Ia dipakai ketika perlu, dilepas ketika tidak menguntungkan.

Filsuf Perancis Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui paksaan, tetapi melalui produksi kebenaran. Dalam konteks digital, kekuasaan dapat memproduksi citra yang diterima sebagai kebenaran. Apa yang sering dilihat akhirnya dipercaya, meskipun tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Inilah bahaya terbesar dari budaya pencitraan digital: ia tidak memaksa kita untuk berbohong, tetapi membiasakan kita untuk hidup dalam setengah kebenaran.

Kejujuran, pada akhirnya, adalah kualitas yang sunyi. Ia tidak selalu spektakuler. Ia tidak selalu menarik untuk direkam. Ia sering hadir dalam keputusan yang tidak populer, dalam kerja keras yang tidak dipuji, dalam tanggung jawab yang tidak dilihat.

Sebaliknya, pencitraan membutuhkan penonton. Ia hidup dari perhatian. Ia membutuhkan pengakuan terus-menerus.

Akibatnya, pemimpin bisa tergoda untuk lebih setia pada citra daripada pada kebenaran. Lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan integritas.

Masyarakat pun ikut terjebak dalam lingkaran ini. Kita lebih mudah terkesan oleh simbol daripada substansi. Kita lebih cepat membagikan gambar daripada memeriksa fakta. Kita menjadi penonton yang tanpa sadar ikut memelihara budaya pencitraan.

Padahal, masa depan sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh seberapa indah pemimpinnya terlihat, tetapi oleh seberapa jujur ia bertindak.

Kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Dan kepercayaan adalah fondasi kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan hanya menjadi pertunjukan. Ia mungkin memukau, tetapi rapuh.

Sejarah menunjukkan bahwa pencitraan memiliki umur pendek, sementara kejujuran memiliki umur panjang. Citra bisa viral hari ini dan dilupakan besok. Tetapi integritas meninggalkan jejak yang bertahan jauh lebih lama daripada algoritma.

Pertanyaannya bukan apakah pemimpin kita aktif di media sosial. Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran mereka di sana merupakan cermin kejujuran, atau sekadar topeng digital?

Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan, kejujuran justru menjadi tindakan yang radikal. Ia menuntut keberanian untuk menjadi nyata di tengah godaan untuk terlihat sempurna.

Dan mungkin, di zaman ini, bentuk kepemimpinan yang paling langka bukanlah yang paling populer, tetapi yang paling jujur.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama