banner Ketika Semua Merasa Paling Benar: Agama, Kebenaran, dan Retaknya Kemanusiaan

Ketika Semua Merasa Paling Benar: Agama, Kebenaran, dan Retaknya Kemanusiaan



Suara Numbei News - Salah satu ironi terbesar dalam kehidupan beragama adalah kenyataan bahwa hampir semua pemeluk agama percaya pada Tuhan yang Mahabenar, tetapi pada saat yang sama, masing-masing juga yakin bahwa hanya agamanyalah yang paling benar. Keyakinan ini tampak wajar, bahkan dianggap sebagai bagian dari iman. Namun, di titik tertentu, keyakinan tersebut berubah menjadi masalah ketika ia tidak lagi berhenti sebagai kepercayaan pribadi, melainkan berkembang menjadi klaim absolut yang menutup ruang kemanusiaan.

Di sinilah agama menghadapi ujian paling serius: ketika iman berubah menjadi superioritas.

Setiap agama pada dasarnya lahir dari pencarian manusia akan kebenaran. Namun, ketika manusia merasa telah menemukan kebenaran itu secara utuh dan final, ia sering jatuh pada kesimpulan berbahaya: bahwa yang lain pasti salah. Kebenaran yang semula membebaskan berubah menjadi alat pembenaran. Dari sini, lahir cara pandang yang membelah dunia menjadi dua kubu sederhana: yang selamat dan yang tersesat.

Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

Filsuf Jerman, Karl Jaspers, pernah mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya memiliki kebenaran; manusia hanya selalu berada dalam proses mencarinya. Artinya, setiap klaim kebenaran manusia selalu berada dalam keterbatasan. Ketika manusia mengklaim kebenaran secara mutlak, sesungguhnya ia sedang melampaui batas kemanusiaannya sendiri.

Masalahnya, manusia tidak hanya percaya bahwa agamanya benar. Ia juga sering merasa berkewajiban membuktikan bahwa agama lain salah.

Di sinilah benih konflik tumbuh.

Klaim “agama saya paling benar” pada dasarnya adalah pernyataan teologis. Namun dalam praktik sosial, ia sering berubah menjadi pernyataan politis dan kultural. Ia tidak lagi berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi tentang posisi manusia di hadapan manusia lain.

Kebenaran berubah menjadi identitas.

Dan identitas selalu berisiko melahirkan eksklusivitas.

Indonesia, sebagai bangsa yang berdiri di atas keberagaman agama, tidak kebal dari persoalan ini. Kita sering menyaksikan bagaimana agama tidak hanya menjadi sumber makna, tetapi juga menjadi sumber kecurigaan. Orang dinilai bukan dari integritasnya, tetapi dari identitas imannya. Bahkan, tidak jarang moralitas seseorang dianggap otomatis lebih tinggi hanya karena ia bagian dari kelompok agama tertentu.

Pemikir Indonesia, Franz Magnis-Suseno, pernah mengingatkan bahwa ukuran moral seseorang bukanlah agamanya, melainkan tindakannya. Peringatan ini penting, karena dalam kenyataan, agama tidak otomatis membuat manusia lebih manusiawi. Sejarah justru menunjukkan bahwa orang beragama pun bisa bersikap tidak adil, tidak jujur, bahkan tidak manusiawi.

Ini bukan kritik terhadap agama.

Ini kritik terhadap cara manusia beragama.

Masalah terbesar bukanlah keyakinan bahwa agama sendiri benar. Masalah terbesar adalah ketika keyakinan itu disertai dengan keyakinan bahwa yang lain tidak memiliki kemungkinan kebenaran sama sekali.

Sikap ini melahirkan kesombongan spiritual.

Kesombongan yang merasa memiliki Tuhan secara eksklusif.

Padahal, jika Tuhan benar-benar Mahabesar, maka mustahil Ia bisa dimonopoli oleh satu kelompok manusia.

Tokoh bangsa, Abdurrahman Wahid, pernah mengingatkan bahwa fanatisme berlebihan justru bisa menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaan itu sendiri. Ketika agama kehilangan wajah kemanusiaannya, ia berubah menjadi ideologi identitas. Ia tidak lagi menjadi jalan menuju kebijaksanaan, tetapi menjadi alat untuk membenarkan diri.

Di titik ini, pertanyaan penting harus diajukan: apakah manusia sungguh membela Tuhan, atau sebenarnya sedang membela dirinya sendiri?

Karena sering kali, yang dipertahankan bukan Tuhan, melainkan rasa aman psikologis sebagai bagian dari kelompok yang merasa paling benar.

Merasa paling benar memberikan rasa kepastian.

Dan kepastian memberi rasa superioritas.

Namun, kepastian juga bisa mematikan kerendahan hati.

Padahal, kerendahan hati adalah inti dari spiritualitas.

Orang yang sungguh dekat dengan Tuhan seharusnya menjadi lebih rendah hati, bukan lebih angkuh.

Lebih terbuka, bukan lebih tertutup.

Lebih mengasihi, bukan lebih menghakimi.

Ironisnya, dalam kehidupan nyata, klaim kebenaran sering menghasilkan jarak, bukan kedekatan. Ia membuat manusia lebih sibuk mempertahankan identitas daripada membangun kemanusiaan.

Agama akhirnya lebih sering menjadi benteng daripada jembatan.

Padahal, mungkin masalahnya bukan pada agama.

Masalahnya ada pada manusia yang terlalu cepat merasa telah sampai, padahal sebenarnya masih dalam perjalanan.

Pada akhirnya, setiap manusia memang berhak percaya bahwa agamanya benar. Itu bagian dari iman. Namun, iman yang dewasa bukanlah iman yang membutuhkan orang lain menjadi salah.

Iman yang dewasa adalah iman yang tetap yakin, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.

Karena mungkin, Tuhan tidak pernah menjadi masalah.

Yang sering menjadi masalah adalah manusia yang terlalu yakin bahwa dirinya sudah memahami Tuhan sepenuhnya.

Dan di situlah, tanpa sadar, manusia mulai menggantikan Tuhan dengan dirinya sendiri.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama