Reduksi ini bukan sekadar kesalahpahaman devosional,
melainkan sebuah gejala krisis religiusitas yang lebih dalam: ketika simbol
dipertahankan, tetapi makna ditinggalkan.
Puasa dalam
Fondasi Teologis: Lebih dari Sekadar Disiplin Tubuh
Secara resmi, Katekismus Gereja Katolik (KGK 1434) menegaskan
bahwa puasa merupakan bagian dari tiga pilar pertobatan Kristiani: doa, puasa,
dan amal kasih. Ketiganya tidak dapat dipisahkan, karena puasa tanpa doa
menjadi diet, dan puasa tanpa amal kasih menjadi egoisme spiritual. Dengan kata
lain, tujuan puasa bukanlah penderitaan fisik itu sendiri, tetapi transformasi
relasi: relasi dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan sesama.
Teolog besar abad pertengahan, Santo Thomas Aquinas,
dalam Summa Theologiae (II-II, q.147),
menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tujuan utama: mengekang hawa nafsu,
memurnikan pikiran untuk kontemplasi, dan menjadi bentuk silih atas dosa.
Ketiganya menunjukkan bahwa puasa adalah sarana pembentukan manusia interior,
bukan sekadar pengaturan pola makan.
Refleksi ini dipertegas oleh Paus Benediktus XVI
yang menulis bahwa askese Kristiani bukanlah penolakan terhadap tubuh,
melainkan penataan kembali kebebasan manusia agar tidak diperbudak oleh
keinginannya sendiri (Deus Caritas Est,
2005). Dalam kerangka ini, puasa adalah tindakan pembebasan, bukan
penyiksaan.
Namun di sinilah letak paradoksnya: puasa yang
dimaksudkan untuk membebaskan manusia justru sering berubah menjadi rutinitas
mekanis yang tidak membebaskan apa pun.
Kritik Kitab
Suci: Puasa Tanpa Keadilan adalah Kepalsuan Religius
Kitab Suci memberikan kritik paling radikal terhadap
puasa yang dangkal. Nabi Yesaya menulis:
“Bukan! Berpuasa
yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu kelaliman, melepaskan
tali-tali kuk, memerdekakan orang tertindas…” (Yesaya 58:6).
Teks ini secara eksplisit menolak reduksi puasa
menjadi ritual fisik semata. Puasa sejati diukur bukan dari apa yang tidak
dimakan, tetapi dari ketidakadilan yang tidak lagi dipelihara.
Dengan demikian, puasa memiliki dimensi sosial yang
inheren. Ia adalah tindakan etis yang menuntut perubahan konkret dalam cara
manusia memperlakukan sesamanya. Tanpa dimensi ini, puasa kehilangan legitimasi
teologisnya.
Yesus Kristus sendiri memperingatkan bahaya puasa
yang hanya bertujuan mencari pengakuan sosial (Matius 6:16-18). Ia mengkritik
mereka yang berpuasa untuk dilihat orang lain, karena puasa semacam itu hanya
menghasilkan imbalan sosial, bukan transformasi spiritual.
Dengan kata lain, sejak awal, tradisi Kristiani
telah menggugat kecenderungan manusia untuk mengubah puasa menjadi pertunjukan
religius.
Analisis
Sosiologis: Ketika Ritual Kehilangan Tujuan
Fenomena reduksi puasa dapat dijelaskan melalui
teori sosiologi klasik. Robert K. Merton, dalam Social Theory and Social
Structure (1968), memperkenalkan konsep “ritualisme,” yaitu kondisi ketika
individu tetap menjalankan praktik formal tetapi melupakan tujuan
substansialnya.
Dalam konteks ini, umat tetap berpantang daging,
tetapi tidak lagi menjadikan puasa sebagai sarana pertobatan moral. Ritual
dipertahankan karena kewajiban sosial, bukan karena kesadaran spiritual.
Sosiolog Emile Durkheim juga mengingatkan bahwa
ritual agama berfungsi memperbaharui kesadaran moral kolektif (The Elementary
Forms of Religious Life, 1912). Jika ritual tidak lagi memperbaharui moralitas,
maka ia kehilangan fungsi sosialnya.
Akibatnya, puasa tidak lagi menjadi kekuatan
transformasi, tetapi hanya menjadi kebiasaan.
Perspektif
Antropologis: Puasa dan Ilusi Kesalehan
Antropolog Mircea Eliade menjelaskan bahwa ritual
adalah sarana manusia untuk keluar dari kehidupan profan menuju realitas sakral
(The Sacred and the Profane, 1957).
Namun, jika ritual dilakukan tanpa kesadaran transformatif, ia kembali menjadi
aktivitas profan.
Artinya, puasa yang tidak mengubah manusia secara
eksistensial sebenarnya telah kehilangan sifat sakralnya.
Lebih jauh, Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa
praktik religius dapat berubah menjadi “modal simbolik”—alat untuk memperoleh
legitimasi sosial (Outline of a Theory of Practice, 1972). Orang menjalankan
ritual bukan untuk berubah, tetapi untuk diakui sebagai religius.
Di sinilah puasa berisiko menjadi ilusi kesalehan.
Kritik Magisterium Kontemporer: Puasa dan Tanggung
Jawab Sosial
Paus Fransiskus secara konsisten mengkritik
religiusitas yang berhenti pada ritual. Ia menulis:
“Puasa yang sejati tidak terpisah dari perhatian
kepada orang miskin”
(Pesan Prapaskah, 2015).
Ia bahkan memperingatkan bahaya “globalisasi
ketidakpedulian,” di mana orang tetap menjalankan ritual agama tetapi tidak
peduli pada penderitaan sesama.
Kritik ini menunjukkan bahwa krisis puasa bukan
krisis aturan, tetapi krisis kesadaran.
Kritik
Filosofis: Puasa dan Krisis Manusia Modern
Filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard pernah
menulis bahwa bahaya terbesar religiusitas adalah ketika ia menjadi kebiasaan
tanpa keterlibatan eksistensial.
Puasa, dalam konteks ini, bisa menjadi bentuk
“pelarian religius”—cara untuk merasa benar tanpa benar-benar berubah.
Manusia modern cenderung memilih bentuk religiusitas
yang tidak mengganggu kenyamanannya.
Tidak makan daging lebih mudah daripada tidak
korupsi.
Tidak makan daging lebih mudah daripada tidak
berbohong.
Tidak makan daging lebih mudah daripada mengampuni.
Puasa biologis tidak selalu menghasilkan pertobatan
moral.
Gugatan Moral:
Apakah Puasa Kita Masih Otentik?
Di sinilah pertanyaan paling radikal harus diajukan:
Apakah puasa kita masih memiliki makna, atau hanya
memiliki bentuk?
Apakah puasa kita benar-benar mengubah cara kita
hidup, atau hanya mengubah menu makan kita?
Jika seseorang berpuasa tetapi tetap tidak jujur,
maka puasanya gagal secara moral.
Jika seseorang berpuasa tetapi tetap tidak peduli pada penderitaan sesama, maka
puasanya gagal secara sosial.
Jika seseorang berpuasa tetapi tidak menjadi lebih
rendah hati, maka puasanya gagal secara spiritual.
Puasa sejati bukan tentang apa yang tidak dimakan,
tetapi tentang siapa yang tidak lagi dipelihara: ego lama.
Kesimpulan:
Memulihkan Radikalisme Puasa
Puasa dalam tradisi Katolik adalah tindakan
revolusioner. Ia adalah perlawanan terhadap egoisme, konsumerisme, dan
ketidakpedulian.
Ia adalah latihan menjadi manusia baru.
Tetapi revolusi ini hanya mungkin jika puasa
dipahami sebagai transformasi, bukan kewajiban administratif iman.
Tanpa itu, puasa hanya menjadi ritual kosong.
Dan mungkin, gugatan paling jujur bagi umat beriman
hari ini bukanlah:
Apakah kita masih berpuasa?
Tetapi:
Apakah puasa kita masih memiliki keberanian untuk
mengubah kita?
