banner Merawat Martabat Intelektual di Tengah Gelombang Budaya Instan dan Disrupsi Digital

Merawat Martabat Intelektual di Tengah Gelombang Budaya Instan dan Disrupsi Digital




Suara Numbei News - Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara radikal. Akses informasi yang dahulu terbatas kini terbuka tanpa sekat. Dalam hitungan detik, ribuan jurnal, buku, dan artikel ilmiah dapat diakses melalui layar gawai. Namun, di balik kemajuan tersebut, dunia akademik menghadapi tantangan serius berupa memudarnya etika akademik. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pelanggaran aturan kampus atau sekolah, melainkan gejala sosial yang mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pengetahuan, proses belajar, dan nilai kejujuran intelektual.

Budaya Instan dan Perubahan Orientasi Pengetahuan

Sosiolog Zygmunt Bauman dalam konsep liquid modernity menjelaskan bahwa masyarakat modern bergerak menuju budaya serba cepat, fleksibel, dan cenderung menghindari proses yang panjang. Dalam masyarakat cair ini, segala sesuatu dituntut untuk segera tersedia, termasuk pengetahuan. Akibatnya, proses belajar yang seharusnya menuntut ketekunan dan refleksi mendalam sering dianggap tidak relevan dengan tuntutan zaman.

Fenomena sosial ini terlihat jelas dalam praktik akademik. Banyak peserta didik lebih berorientasi pada hasil akhir berupa nilai, ijazah, atau sertifikat, dibandingkan dengan pemahaman substansi ilmu. Penelitian yang dilakukan oleh International Center for Academic Integrity (ICAI, 2021) menunjukkan bahwa praktik plagiarisme dan kecurangan akademik meningkat secara signifikan seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital. Data tersebut memperlihatkan bahwa kemudahan akses informasi sering tidak diimbangi dengan kesadaran etika dalam memanfaatkannya.

Di Indonesia, fenomena serupa juga tampak dalam berbagai laporan akademik. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi beberapa kali menyoroti kasus plagiarisme dalam karya ilmiah, baik pada tingkat mahasiswa maupun akademisi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan etika akademik tidak hanya terjadi pada individu tertentu, tetapi telah menjadi tantangan struktural dalam sistem pendidikan.

Teknologi, Artificial Intelligence, dan Tantangan Integritas Intelektual

Kemunculan kecerdasan buatan semakin memperumit persoalan etika akademik. Teknologi ini mampu menghasilkan esai, rangkuman, bahkan analisis ilmiah dalam waktu singkat. Di satu sisi, teknologi tersebut dapat membantu proses pembelajaran. Namun, tanpa kesadaran moral, teknologi berpotensi mengubah proses akademik menjadi aktivitas instan yang mengabaikan refleksi kritis.

Filsuf pendidikan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed mengkritik model pendidikan yang hanya menempatkan peserta didik sebagai “penyimpan informasi”. Menurut Freire, pendidikan sejati harus mendorong dialog, kesadaran kritis, dan pembebasan intelektual. Jika teknologi digunakan tanpa pendampingan etis, pendidikan justru berpotensi kembali pada model “banking education” yang hanya menumpuk informasi tanpa pemahaman mendalam.

Fenomena sosial saat ini menunjukkan kecenderungan peserta didik mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas tanpa proses berpikir mandiri. Praktik ini berisiko melahirkan generasi yang memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi kehilangan kemampuan analisis, sintesis, dan refleksi moral.

Tekanan Sistem Pendidikan dan Komersialisasi Ilmu Pengetahuan

Lunturnya etika akademik juga tidak dapat dilepaskan dari tekanan sistem pendidikan modern. Banyak institusi pendidikan menekankan capaian kuantitatif seperti peringkat, akreditasi, dan jumlah publikasi. Sosiolog pendidikan Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa sistem pendidikan sering mereproduksi logika kompetisi sosial yang menempatkan prestasi akademik sebagai simbol status. Dalam situasi ini, pengetahuan berpotensi berubah menjadi komoditas, bukan proses pembentukan karakter.

Fenomena “publish or perish dalam dunia akademik, misalnya, sering mendorong praktik publikasi yang tidak etis. Tekanan untuk menghasilkan karya ilmiah dalam waktu singkat dapat memicu praktik plagiarisme, manipulasi data, atau publikasi tanpa kualitas reflektif. Hal ini menunjukkan bahwa krisis etika akademik tidak hanya bersumber dari individu, tetapi juga dari sistem yang terlalu menekankan produktivitas formal.

Pengaruh Budaya Digital dan Media Sosial

Budaya digital juga turut membentuk pola pikir generasi muda. Media sosial menciptakan ruang komunikasi yang cepat, ringkas, dan sering kali dangkal. Informasi disajikan dalam bentuk singkat dan sensasional, sehingga memengaruhi cara masyarakat memahami pengetahuan.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death mengingatkan bahwa dominasi media visual dan hiburan dapat menggeser tradisi berpikir mendalam. Dalam konteks akademik, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat berpotensi melemahkan kemampuan membaca kritis, meneliti, dan menulis secara reflektif. Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat membaca literatur panjang dan meningkatnya ketergantungan pada ringkasan instan.

Dampak Sosial Lunturnya Etika Akademik

Kemerosotan etika akademik memiliki dampak yang jauh melampaui dunia pendidikan. Jika pendidikan melahirkan individu yang terbiasa mengabaikan kejujuran intelektual, maka masyarakat berisiko kehilangan fondasi moral dalam berbagai bidang profesi. Francis Fukuyama dalam konsep trust society menekankan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada tingkat kepercayaan sosial. Kepercayaan tersebut dibangun melalui integritas individu yang terbentuk sejak proses pendidikan.

Tanpa etika akademik yang kuat, ilmu pengetahuan dapat kehilangan legitimasi sosialnya. Karya ilmiah tidak lagi dipercaya sebagai sumber kebenaran, melainkan dipandang sebagai produk formal yang dapat dimanipulasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan kualitas kebijakan publik, penelitian ilmiah, dan profesionalisme tenaga kerja.

Peran Pendidik dan Institusi Pendidikan

Merawat etika akademik membutuhkan pendekatan yang holistik. Pendidik tidak cukup berperan sebagai pengawas pelanggaran, tetapi harus menjadi teladan integritas intelektual. Aristoteles dalam etika kebajikan menekankan bahwa moralitas terbentuk melalui kebiasaan dan keteladanan. Dalam konteks pendidikan, peserta didik belajar nilai kejujuran bukan hanya melalui aturan, tetapi melalui praktik yang dicontohkan oleh pendidik.

Institusi pendidikan juga perlu mengembangkan sistem evaluasi yang menekankan proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Penilaian berbasis proyek, refleksi kritis, dan diskusi akademik dapat mendorong peserta didik menghargai proses pencarian pengetahuan.

Membangun Kesadaran Etika di Era Digital

Era digital tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap etika akademik. Teknologi justru dapat menjadi sarana memperkuat tradisi intelektual jika digunakan secara bertanggung jawab. Literasi digital perlu dikembangkan tidak hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam dimensi etis. Peserta didik perlu memahami bahwa setiap informasi memiliki konteks, sumber, dan tanggung jawab moral dalam penggunaannya.

Filsuf Iris Murdoch menekankan bahwa moralitas berkaitan dengan kemampuan manusia untuk melihat realitas secara jernih dan jujur. Dalam konteks akademik, kejujuran intelektual merupakan bentuk perhatian moral terhadap kebenaran. Pendidikan yang menanamkan kesadaran ini akan melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara etis.

Penutup: Menjaga Kehormatan Ilmu Pengetahuan

Lunturnya etika akademik merupakan cermin perubahan sosial yang lebih luas. Budaya instan, tekanan sistem pendidikan, dan dominasi teknologi telah menggeser orientasi pengetahuan dari proses reflektif menuju hasil cepat. Namun, pendidikan tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga martabat ilmu pengetahuan.

Merawat etika akademik bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi menanamkan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah ruang pencarian kebenaran yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab. Di tengah arus modernitas yang serba cepat, dunia akademik perlu kembali menegaskan bahwa nilai sejati pendidikan terletak pada integritas proses belajar.

Tanpa integritas intelektual, kemajuan teknologi hanya akan melahirkan peradaban yang kaya informasi tetapi miskin kebijaksanaan. Sebaliknya, pendidikan yang berakar pada etika akan melahirkan generasi yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarana membangun peradaban yang bermartabat.

 




Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama