banner Meja Makan, Air Mata, dan Guru yang Tak Pernah Diminta Pergi : Goresan Sederhana Acara Perpisahan dengan Ibu Lita

Meja Makan, Air Mata, dan Guru yang Tak Pernah Diminta Pergi : Goresan Sederhana Acara Perpisahan dengan Ibu Lita

Ibu Yohana Yulita Berek (Lita) pose bersama rekan guru dalam acara perpisahan


Suara Numbei News - Siang itu, matahari menggantung tepat di atas SDK Naibone, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang tidak ingin cepat berlalu. Meja-meja sederhana disusun seadanya, dipenuhi hidangan yang mungkin biasa saja, tetapi terasa istimewa karena dimakan bersama. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma masakan, tawa kecil, dan juga kegelisahan yang tidak sempat diucapkan. Kami duduk berdekatan, namun hati masing-masing sedang berjarak dengan kenyataan yang harus diterima: hari ini adalah hari perpisahan.

Di tengah kebersamaan itu, Ibu Lita hadir seperti biasa—tenang, sederhana, tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, ia telah lama menjadi pusat makna. Bertahun-tahun di SDK Naibone, ia tidak hanya mengajar huruf dan angka, tetapi menghidupkan harapan dalam diam. Ia adalah tangan yang sabar membimbing, suara yang lembut menegur, dan hati yang tetap setia meski sering kali tidak dipahami oleh keadaan.

Kami makan bersama, berbagi lauk, berbagi cerita, bahkan berbagi kenangan yang tiba-tiba terasa lebih berharga dari biasanya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah kesadaran yang perlahan muncul: bahwa kebersamaan ini tidak akan terulang dalam bentuk yang sama. Dan di situlah, perpisahan menjadi terasa begitu nyata, begitu dekat, begitu sunyi meski di tengah keramaian.

Ketika disebut bahwa Ibu Lita akan melanjutkan tugas di SD Negeri Webalun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, kami mencoba memahami. Bahwa hidup memang adalah perjalanan, dan pengabdian tidak pernah berhenti pada satu tempat. Namun hati kecil tetap bertanya—mengapa mereka yang sudah mengakar justru harus dipindahkan? Mengapa ketulusan sering kali berjalan tanpa cukup penghargaan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak keluar sebagai protes, tetapi tinggal sebagai gema dalam batin, menjadi gugatan yang halus namun dalam.

Ibu Lita tersenyum siang itu—senyum yang tidak hanya menenangkan, tetapi juga mengajarkan. Bahwa menerima adalah bagian dari kebijaksanaan, dan melangkah adalah bentuk keberanian. Ia tidak berbicara banyak tentang perpisahan, tetapi kehadirannya sendiri sudah menjadi pesan: bahwa seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti memberi, di mana pun ia ditempatkan.



Dalam kesederhanaan makan siang itu, kami belajar sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebersamaan. Kami belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa lama seseorang tinggal, tetapi tentang seberapa dalam ia meninggalkan jejak. Dan Ibu Lita telah meninggalkan jejak itu—dalam ingatan, dalam kebiasaan baik yang ia tanamkan, dalam cara kami memandang arti pengabdian.

Piring-piring mulai kosong, tawa mulai mereda, dan satu per satu kami kembali ke kesunyian masing-masing. Namun di dalam hati, ada sesuatu yang tetap tinggal—sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Rasa kehilangan yang halus, tetapi juga rasa syukur yang dalam.

Mungkin beginilah cara hidup mengajarkan kita: bahwa tidak semua yang berarti akan tetap tinggal, dan tidak semua yang pergi benar-benar hilang. Ada yang tetap hidup, bukan dalam kehadiran, tetapi dalam makna.

Dan siang itu, di bawah matahari yang perlahan bergeser, kami mengerti satu hal yang sederhana namun mendalam:
bahwa pengabdian sejati tidak pernah mencari tempat untuk dikenang,
tetapi justru menemukan tempatnya di hati mereka yang pernah merasakannya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama