![]() |
| Ibu Yohana Yulita Berek (Lita) pose bersama rekan guru dalam acara perpisahan |
Di tengah kebersamaan itu, Ibu Lita hadir seperti
biasa—tenang, sederhana, tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Namun justru
dalam kesederhanaan itulah, ia telah lama menjadi pusat makna. Bertahun-tahun
di SDK Naibone, ia tidak hanya mengajar huruf dan angka, tetapi menghidupkan
harapan dalam diam. Ia adalah tangan yang sabar membimbing, suara yang lembut
menegur, dan hati yang tetap setia meski sering kali tidak dipahami oleh
keadaan.
Kami makan bersama, berbagi lauk, berbagi cerita,
bahkan berbagi kenangan yang tiba-tiba terasa lebih berharga dari biasanya.
Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah kesadaran yang
perlahan muncul: bahwa kebersamaan ini tidak akan terulang dalam bentuk yang
sama. Dan di situlah, perpisahan menjadi terasa begitu nyata, begitu dekat,
begitu sunyi meski di tengah keramaian.
Ketika disebut bahwa Ibu Lita akan melanjutkan tugas
di SD Negeri Webalun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, kami mencoba
memahami. Bahwa hidup memang adalah perjalanan, dan pengabdian tidak pernah
berhenti pada satu tempat. Namun hati kecil tetap bertanya—mengapa mereka yang
sudah mengakar justru harus dipindahkan? Mengapa ketulusan sering kali berjalan
tanpa cukup penghargaan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak keluar sebagai protes,
tetapi tinggal sebagai gema dalam batin, menjadi gugatan yang halus namun
dalam.
Ibu Lita tersenyum siang itu—senyum yang tidak hanya
menenangkan, tetapi juga mengajarkan. Bahwa menerima adalah bagian dari
kebijaksanaan, dan melangkah adalah bentuk keberanian. Ia tidak berbicara
banyak tentang perpisahan, tetapi kehadirannya sendiri sudah menjadi pesan:
bahwa seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti memberi, di mana pun ia
ditempatkan.
Dalam kesederhanaan makan siang itu, kami belajar
sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebersamaan. Kami belajar bahwa hidup
bukan tentang seberapa lama seseorang tinggal, tetapi tentang seberapa dalam ia
meninggalkan jejak. Dan Ibu Lita telah meninggalkan jejak itu—dalam ingatan,
dalam kebiasaan baik yang ia tanamkan, dalam cara kami memandang arti
pengabdian.
Piring-piring mulai kosong, tawa mulai mereda, dan
satu per satu kami kembali ke kesunyian masing-masing. Namun di dalam hati, ada
sesuatu yang tetap tinggal—sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata biasa. Rasa kehilangan yang halus, tetapi juga rasa syukur yang
dalam.
Mungkin beginilah cara hidup mengajarkan kita: bahwa
tidak semua yang berarti akan tetap tinggal, dan tidak semua yang pergi
benar-benar hilang. Ada yang tetap hidup, bukan dalam kehadiran, tetapi dalam
makna.
Dan siang itu, di bawah matahari yang perlahan
bergeser, kami mengerti satu hal yang sederhana namun mendalam:
bahwa pengabdian sejati tidak pernah mencari tempat untuk dikenang,
tetapi justru menemukan tempatnya di hati mereka yang pernah merasakannya.

