Ritual sakral ini menjadi tahapan awal sebelum
festival digelar, sebagai bentuk permohonan izin kepada leluhur dan penguasa
adat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman tanpa hambatan.
Pantauan POS-KUPANG.COM,
prosesi berlangsung khidmat dan sakral dengan melibatkan lima suku besar (Reu
Goncet), yakni suku Lo’os, Siri Gatal, Monewalu, Leorawan, dan Kialae, bersama
rumpun suku lainnya.
Para tokoh adat mengenakan destar, membawa sirih
pinang serta sesajian dalam wadah taka (tanasak), lalu melakukan ritual adat
sebagai persembahan kepada leluhur.
Prosesi dimulai dari Rumah Suku Lo’os, kemudian
rombongan bergerak menuju pintu pertama benteng untuk melaksanakan ritual Nokar
Ul di Hot Gie Lete, sebagai tanda membuka pintu pertama.
Selanjutnya rombongan menuju pintu kedua untuk
melakukan ritual Nokar Pur, kemudian ke pintu ketiga yang dikenal sebagai Ma
Ril (rimbunan bambu). Di lokasi ini juga dilakukan doa dan ritual adat serta
pemotongan ayam.
Perjalanan dilanjutkan menuju pintu keempat, yakni
Luhan Besi (kandang besi), di mana kembali dilakukan ritual nokar dengan doa
adat. Prosesi serupa dilakukan di setiap pintu hingga mencapai kawasan
inti Benteng Tujuh Lapis.
Setelah melewati tujuh pintu, rombongan tiba di
pusat benteng, tepatnya di Tel Opa (kuburan raja). Di lokasi inilah
dilaksanakan ritual inti Bei Gege Asu, yakni pemberitahuan
kepada leluhur sekaligus permohonan restu.
Dalam ritual tersebut dilakukan penyembelihan babi
jantan hitam sebagai hewan kurban. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan
Bulah Teke untuk memastikan tanda-tanda baik.
Selanjutnya dilakukan prosesi memasak makanan adat
dan makan bersama sebagai simbol persatuan dan rasa syukur.
Salah satu tokoh adat Petrus Hale Oan mengatakan,
ritual ini merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan sebelum kegiatan
besar seperti Festival Fulan Fehan.
“Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang. Kita
memulai dari rumah adat, memohon izin hingga ke Benteng Tujuh Lapis dengan
melewati tujuh pintu utama. Penyembelihan hewan kurban ini sebagai bentuk
permohonan agar semua yang terlibat dalam persiapan festival diberikan
keselamatan dan tidak ada hambatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ritual tersebut juga sebagai bentuk
penghormatan kepada Raja Dirun sebagai pemilik wilayah secara adat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Belu, Januaria Nona Alo, menyampaikan bahwa ritual Nokar Ul dan Bei Gege Asu merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Festival Fulan Fehan.
“Ini adalah pembukaan untuk memohon izin kepada alam
dan leluhur sebelum festival dilaksanakan. Puncak Festival Fulan Fehan akan
berlangsung pada 27 Juni 2026,” jelasnya.
Ia menyebutkan, festival tahun ini akan melibatkan
sekitar 3.000 penari dari Kabupaten Belu dan Timor Leste. Selain tarian
likurai, kegiatan juga akan dimeriahkan dengan marching band dan musik suling.
Ia menyebutkan, berbagai persiapan telah dilakukan,
termasuk penyiapan penari dan pengisi acara. Festival tahun ini ditargetkan
melibatkan sekitar 3.000 penari likurai dari Kabupaten Belu dan Timor Leste.
Selain tarian likurai, festival juga akan
dimeriahkan dengan penampilan marching band dan musik suling. Rangkaian
kegiatan lainnya, seperti road to Fulan Fehan, dijadwalkan
berlangsung pada 25 dan 26 Juni 2026.
“Kami mengajak masyarakat NTT dan luar daerah untuk
hadir dan menyaksikan festival ini. Kegiatan ini sempat terhenti hampir lima
tahun sejak pandemi COVID-19, dan tahun ini kembali kita hidupkan agar menjadi
agenda rutin,” tambahnya.
Lanjutnya, keterlibatan masyarakat lokal terlihat
sejak awal kegiatan, di mana seluruh pelaksanaan ritual adat sepenuhnya
dipercayakan kepada masyarakat, sementara pemerintah berperan sebagai
fasilitator.
Dengan digelarnya ritual adat ini, Ia berharap
seluruh rangkaian Festival Fulan Fehan 2026 dapat berjalan
lancar serta kembali mengangkat nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Belu
ke tingkat yang lebih luas. (gus) *** poskupang.com
