banner Nuansa Sakral Selimuti Benteng Tujuh Lapis Menjelang Festival Fulan Fehan

Nuansa Sakral Selimuti Benteng Tujuh Lapis Menjelang Festival Fulan Fehan

RITUAL ADAT - Para tokoh adat di Desa Dirun, Kacamatan Lamaknen, Kabupaten Belu saat melaksanakan ritual adat di Benteng Tujuh Lapis untuk memohon restu leluhur jelang Festival Fulan Fehan 2026. Kamis (28/5/2026). 


Suara Numbei News - Menjelang Festival Fulan Fehan 2026, para tokoh adat di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen bersama Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar ritual adat Nokar Ul (buka pintu gerbang) dan Bei Gege Asu (pemberitahuan sekaligus permohonan restu kepada leluhur) di Benteng Ranu Hitu atau Benteng Tujuh Lapis, Kamis (28/5/2026).

Ritual sakral ini menjadi tahapan awal sebelum festival digelar, sebagai bentuk permohonan izin kepada leluhur dan penguasa adat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman tanpa hambatan.

Pantauan POS-KUPANG.COM, prosesi berlangsung khidmat dan sakral dengan melibatkan lima suku besar (Reu Goncet), yakni suku Lo’os, Siri Gatal, Monewalu, Leorawan, dan Kialae, bersama rumpun suku lainnya.

Para tokoh adat mengenakan destar, membawa sirih pinang serta sesajian dalam wadah taka (tanasak), lalu melakukan ritual adat sebagai persembahan kepada leluhur.

Prosesi dimulai dari Rumah Suku Lo’os, kemudian rombongan bergerak menuju pintu pertama benteng untuk melaksanakan ritual Nokar Ul di Hot Gie Lete, sebagai tanda membuka pintu pertama. 

Selanjutnya rombongan menuju pintu kedua untuk melakukan ritual Nokar Pur, kemudian ke pintu ketiga yang dikenal sebagai Ma Ril (rimbunan bambu). Di lokasi ini juga dilakukan doa dan ritual adat serta pemotongan ayam. 

Perjalanan dilanjutkan menuju pintu keempat, yakni Luhan Besi (kandang besi), di mana kembali dilakukan ritual nokar dengan doa adat. Prosesi serupa dilakukan di setiap pintu hingga mencapai kawasan inti Benteng Tujuh Lapis.

Setelah melewati tujuh pintu, rombongan tiba di pusat benteng, tepatnya di Tel Opa (kuburan raja). Di lokasi inilah dilaksanakan ritual inti Bei Gege Asu, yakni pemberitahuan kepada leluhur sekaligus permohonan restu.

Dalam ritual tersebut dilakukan penyembelihan babi jantan hitam sebagai hewan kurban. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan Bulah Teke untuk memastikan tanda-tanda baik. 

Selanjutnya dilakukan prosesi memasak makanan adat dan makan bersama sebagai simbol persatuan dan rasa syukur.

Salah satu tokoh adat Petrus Hale Oan mengatakan, ritual ini merupakan warisan leluhur yang wajib dilaksanakan sebelum kegiatan besar seperti Festival Fulan Fehan.

“Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang. Kita memulai dari rumah adat, memohon izin hingga ke Benteng Tujuh Lapis dengan melewati tujuh pintu utama. Penyembelihan hewan kurban ini sebagai bentuk permohonan agar semua yang terlibat dalam persiapan festival diberikan keselamatan dan tidak ada hambatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, ritual tersebut juga sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Dirun sebagai pemilik wilayah secara adat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, menyampaikan bahwa ritual Nokar Ul dan Bei Gege Asu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Festival Fulan Fehan.

“Ini adalah pembukaan untuk memohon izin kepada alam dan leluhur sebelum festival dilaksanakan. Puncak Festival Fulan Fehan akan berlangsung pada 27 Juni 2026,” jelasnya.

Ia menyebutkan, festival tahun ini akan melibatkan sekitar 3.000 penari dari Kabupaten Belu dan Timor Leste. Selain tarian likurai, kegiatan juga akan dimeriahkan dengan marching band dan musik suling.

Ia menyebutkan, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk penyiapan penari dan pengisi acara. Festival tahun ini ditargetkan melibatkan sekitar 3.000 penari likurai dari Kabupaten Belu dan Timor Leste.

Selain tarian likurai, festival juga akan dimeriahkan dengan penampilan marching band dan musik suling. Rangkaian kegiatan lainnya, seperti road to Fulan Fehan, dijadwalkan berlangsung pada 25 dan 26 Juni 2026.

“Kami mengajak masyarakat NTT dan luar daerah untuk hadir dan menyaksikan festival ini. Kegiatan ini sempat terhenti hampir lima tahun sejak pandemi COVID-19, dan tahun ini kembali kita hidupkan agar menjadi agenda rutin,” tambahnya.

Lanjutnya, keterlibatan masyarakat lokal terlihat sejak awal kegiatan, di mana seluruh pelaksanaan ritual adat sepenuhnya dipercayakan kepada masyarakat, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Dengan digelarnya ritual adat ini, Ia berharap seluruh rangkaian Festival Fulan Fehan 2026 dapat berjalan lancar serta kembali mengangkat nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Belu ke tingkat yang lebih luas. (gus) *** poskupang.com




 



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama