Jawabannya dapat ditemukan dalam sosok Celine Olivia
Apriani Theo, anggota Orang Muda Katolik (OMK) dari Paroki Santo Agustinus
Sungai Raya, Keuskupan Agung Pontianak. Remaja ini menorehkan prestasi
membanggakan setelah dipercaya menjadi pembawa baki bendera pusaka dalam
upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.
Di balik langkah tegap dan sikap anggunnya di
hadapan Presiden Prabowo Subianto serta para pejabat negara, tersimpan kisah
tentang disiplin, kerja keras, kerendahan hati, dan iman yang menjadi kekuatan
dalam perjalanan prestasinya.
Dari Panggung
Seni Menuju Paskibraka Nasional
Celine merupakan siswi kelas XI Jurusan Akuntansi
SMKN 5 Pontianak. Sebelum dikenal sebagai anggota Paskibraka, ia telah
menunjukkan bakat di bidang seni.
Saat masih duduk di bangku SMP, Celine berhasil
meraih Juara II Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP
bidang vokal solo. Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa dirinya
memiliki kemampuan yang tidak hanya terbatas pada bidang akademik maupun
kedisiplinan fisik.
Perjalanan menuju Paskibraka Nasional pun tidak
berlangsung singkat.
Sejak awal 2026, Celine mengikuti proses seleksi
secara bertahap dan harus bersaing dengan ribuan kandidat dari tingkat kota
hingga provinsi. Ketahanan fisik, kedisiplinan, mental, serta kemampuannya
menjalani berbagai tahapan seleksi akhirnya mengantarkannya terpilih sebagai
bagian dari Paskibraka Nasional.
Kepercayaan itu semakin besar setelah dirinya
dikukuhkan bersama anggota Paskibraka Nasional oleh Wakil Presiden Gibran
Rakabuming.
Dalam pelaksanaan upacara kenegaraan, Celine
kemudian dipercaya mengemban salah satu tugas paling sakral dan penuh tanggung
jawab, yakni membawa baki untuk penyerahan dan pengibaran Sang Merah Putih.
Sebelum ke
Istana, Celine Bersujud di Gereja
Di tengah persiapan menuju Jakarta dan masa
karantina yang harus dijalani, Celine tidak hanya mempersiapkan fisik dan
mental.
Ia terlebih dahulu datang ke gereja parokinya.
Celine secara khusus menemui Pastor Paroki, Romo
Tino, untuk memohon doa dan berkat melalui penumpangan tangan sebelum
menjalankan tugas negara.
Momen sederhana tersebut menyimpan makna yang
mendalam.
Sebelum melangkah menuju Istana Negara untuk
mengemban tugas di hadapan Presiden dan bangsa Indonesia, Celine terlebih
dahulu meletakkan seluruh tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.
Baginya, tugas besar tidak hanya membutuhkan
kekuatan manusia, tetapi juga penyertaan Tuhan.
Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa prestasi dan
keberhasilan tidak selalu harus berakhir pada kebanggaan diri. Justru, semakin
tinggi seseorang berdiri, semakin penting baginya untuk mengingat dari mana
talenta dan kekuatan itu berasal.
Setelah Tugas
Negara, Ia Kembali ke Altar
Sorotan kamera, pemberitaan media, dan apresiasi
masyarakat tentu menjadi bagian dari perjalanan Celine setelah menyelesaikan
tugas kenegaraan.
Namun, ia memilih jalan yang sederhana.
Pada Minggu, 23 Agustus 2026, setelah masa tugasnya
selesai, Celine kembali ke rumah rohaninya, Paroki Santo Agustinus Sungai Raya.
Ia hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan mengenakan
seragam putih Paskibraka lengkap.
Di tempat ketika ia sebelumnya memohon doa sebelum
berangkat, Celine kembali hadir untuk mengucap syukur.
Bagi dirinya, keberhasilan menjalankan tugas negara
bukan alasan untuk menjauh dari kehidupan iman. Sebaliknya, keberhasilan itu
justru menjadi alasan untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Seusai Perayaan Ekaristi, Celine berdiri di hadapan
umat dan membagikan kesaksiannya. Ia menceritakan pengalaman selama menjalani
latihan dan bagaimana doa serta penyertaan Tuhan memberinya kekuatan melewati
berbagai tantangan.
Ia tidak datang membawa kisah kesuksesan untuk
membanggakan diri. Ia datang membawa kesaksian.
Di situlah letak keindahan perjalanan Celine.
Mahkota prestasi yang ia terima di panggung nasional
akhirnya ia letakkan kembali di hadapan Tuhan.
100 Persen
Katolik, 100 Persen Indonesia
Kisah Celine Olivia Apriani Theo menjadi gambaran
bahwa kecintaan kepada Gereja dan kecintaan kepada Indonesia tidak harus
dipertentangkan.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Sebagai anggota OMK, Celine menunjukkan bahwa
menjadi anak muda Katolik berarti berani hadir dan memberikan yang terbaik bagi
bangsa. Iman tidak membuat seseorang menjauh dari kehidupan kebangsaan.
Sebaliknya, iman dapat menjadi sumber kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab
sebagai warga negara.
Ia berangkat ke Jakarta dengan doa.
Ia menjalankan tugas dengan disiplin dan tanggung
jawab.
Ia membawa nama baik daerah dan bangsa.
Dan setelah tugas selesai, ia kembali ke gereja
untuk mengucap syukur.
Perjalanan tersebut menjadi pesan sederhana bagi
generasi muda: prestasi boleh membawa kita ke panggung nasional, tetapi iman
seharusnya tetap membuat kaki kita berpijak di tanah.
Celine telah menunjukkan bahwa menjadi berprestasi
tidak harus kehilangan kerendahan hati. Menjadi terkenal tidak harus
meninggalkan komunitas. Dan berdiri di hadapan bangsa tidak berarti melupakan
Tuhan.
Bagi generasi muda Katolik di seluruh Indonesia,
kisah Celine dapat menjadi inspirasi untuk terus berani bermimpi, bekerja
keras, berprestasi, sekaligus menjaga identitas iman.
Sebab pada akhirnya, talenta adalah anugerah,
prestasi adalah tanggung jawab, dan keberhasilan adalah alasan untuk bersyukur.
Deo Gratias.
Catatan sumber:
Komunitas umat Paroki Santo Agustinus Sungai Raya/Keuskupan Agung Pontianak,
Agustus 2026. Data sekunder mengenai profil Celine, sekolah, proses seleksi
Paskibraka, dan pengukuhan nasional dihimpun dari sejumlah pemberitaan media
nasional serta informasi resmi SMKN 5 Pontianak.
