Kisah tersebut dialami oleh Vivek Martin, yang
ketika berusia sekitar lima tahun ditemukan dalam kondisi kebingungan di Stasiun
Kereta Api Shoranur, Kerala. Ia terpisah dari keluarganya dan tidak mampu
mengingat identitas maupun jalan menuju rumahnya.
Dalam keadaan yang penuh ketidakpastian itu,
pertolongan datang melalui sejumlah anggota Jesus Youth, sebuah gerakan pemuda
Katolik di India. Salah seorang anggotanya, Rexy D'Cruz, bersama komunitasnya,
tergerak untuk membantu anak tersebut. Setelah melalui prosedur hukum dan
koordinasi dengan pihak berwenang, anak itu kemudian mendapatkan tempat yang
aman dan penuh kasih.
Vivek selanjutnya dibesarkan dalam lingkungan
keluarga Katolik di wilayah Attappady dan Kochi. Orang tua angkatnya, Patrick
dan Manu, memberikan kepadanya bukan hanya kebutuhan hidup dan pendidikan,
tetapi juga sebuah keluarga yang memperkenalkannya kepada iman Katolik.
Di dalam keluarga tersebut, Vivek mulai mengenal
doa, kehidupan sakramental, serta makna kasih kepada sesama. Pengalaman masa
kecilnya perlahan menjadi bagian penting dari perjalanan rohaninya.
Dari Anak yang
Terlantar Menjadi Pelayan Sesama
Ketika beranjak remaja, benih panggilan imamat mulai
tumbuh dalam dirinya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, Vivek
menyampaikan keinginannya untuk masuk seminari. Namun, ia diminta untuk
terlebih dahulu menyelesaikan pendidikan menengah atas agar semakin matang
secara emosional dan pribadi.
Masa penantian tersebut justru menjadi kesempatan
bagi Vivek untuk memperdalam pengalaman pelayanan. Ia kemudian terlibat sebagai
misionaris awam di Snehateeram, sebuah rumah singgah yang melayani masyarakat
miskin dan mereka yang membutuhkan.
Di tempat itu, Vivek bahkan menjalankan tugas
sebagai pengurus sekaligus sopir ambulans. Ia berhadapan langsung dengan
penderitaan orang-orang kecil, merawat mereka yang sakit dan mendampingi mereka
yang membutuhkan pertolongan.
Pelayanan tersebut semakin meneguhkan keyakinannya
bahwa hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Dua Puluh
Delapan Tahun Kemudian
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Vivek ke Seminari
Keuskupan Jhansi, tempat ia menjalani pembinaan spiritual dan pendidikan
teologi sebagai calon imam.
Setelah melalui proses formasi yang panjang, Vivek
Martin akhirnya ditahbiskan menjadi Imam Katolik.
Misa Kudus pertamanya dirayakan di Gereja Infant
Jesus, Thundathinkadavu, Keuskupan Agung Verapoly. Momen tersebut menjadi
puncak perjalanan hidup seorang anak yang pernah kehilangan rumah, tetapi
kemudian menemukan sebuah keluarga yang membawanya semakin dekat kepada Tuhan.
Kini, Pastor Vivek Martin memilih untuk mengabdikan
hidupnya terutama bagi anak-anak dan mereka yang terpinggirkan. Ia ingin
meneruskan kasih yang dahulu ia terima ketika dirinya sendiri berada dalam
keadaan tidak berdaya.
Kisahnya seakan menjadi pengingat bahwa sebuah
pertolongan kecil dapat mengubah seluruh masa depan seseorang. Seorang anak
yang dahulu ditemukan sendirian di tengah hiruk-pikuk stasiun kereta, kini
berdiri di depan altar untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dan melayani
sesama.
Lebih dari sekadar kisah tentang seorang anak yang
ditemukan dan kemudian menjadi imam, perjalanan Pastor Vivek Martin adalah
kisah tentang kasih yang menemukan seseorang sebelum dunia sempat melupakannya.
Gereja, dalam kisah ini, hadir bukan hanya sebagai
bangunan tempat berdoa, tetapi sebagai keluarga yang membuka pintu bagi mereka
yang tersesat, terluka, dan kehilangan arah.
Sebagaimana ungkapan iman yang mengawali kisah ini:
“Sebab
perbuatan-perbuatan-Mu ajaib, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”
Dari sebuah stasiun kereta menuju altar, dari
seorang anak yang kehilangan jalan pulang menuju seorang imam yang memilih
menjadi jalan bagi orang lain—kisah Vivek Martin menjadi kesaksian bahwa
kehidupan manusia dapat berubah ketika kasih hadir pada saat yang paling gelap.
***
Sumber: Catholic
Connect India, Shalom News, dan catatan kesaksian Jesus Youth internasional,
akhir Agustus 2026.
