banner Bocah yang Hilang di Stasiun Kereta, Kini Menjadi Imam Katolik: Kisah Panggilan Pastor Vivek Martin

Bocah yang Hilang di Stasiun Kereta, Kini Menjadi Imam Katolik: Kisah Panggilan Pastor Vivek Martin


Suara Numbei News - Sebuah kisah tentang kehilangan, kasih, dan panggilan Tuhan datang dari Kerala, India. Seorang anak laki-laki yang 28 tahun lalu ditemukan sendirian di sebuah stasiun kereta api, tanpa mengetahui nama dan jalan pulang, kini telah menjadi seorang Imam Katolik.

Kisah tersebut dialami oleh Vivek Martin, yang ketika berusia sekitar lima tahun ditemukan dalam kondisi kebingungan di Stasiun Kereta Api Shoranur, Kerala. Ia terpisah dari keluarganya dan tidak mampu mengingat identitas maupun jalan menuju rumahnya.

Dalam keadaan yang penuh ketidakpastian itu, pertolongan datang melalui sejumlah anggota Jesus Youth, sebuah gerakan pemuda Katolik di India. Salah seorang anggotanya, Rexy D'Cruz, bersama komunitasnya, tergerak untuk membantu anak tersebut. Setelah melalui prosedur hukum dan koordinasi dengan pihak berwenang, anak itu kemudian mendapatkan tempat yang aman dan penuh kasih.

Vivek selanjutnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik di wilayah Attappady dan Kochi. Orang tua angkatnya, Patrick dan Manu, memberikan kepadanya bukan hanya kebutuhan hidup dan pendidikan, tetapi juga sebuah keluarga yang memperkenalkannya kepada iman Katolik.

Di dalam keluarga tersebut, Vivek mulai mengenal doa, kehidupan sakramental, serta makna kasih kepada sesama. Pengalaman masa kecilnya perlahan menjadi bagian penting dari perjalanan rohaninya.

Dari Anak yang Terlantar Menjadi Pelayan Sesama

Ketika beranjak remaja, benih panggilan imamat mulai tumbuh dalam dirinya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, Vivek menyampaikan keinginannya untuk masuk seminari. Namun, ia diminta untuk terlebih dahulu menyelesaikan pendidikan menengah atas agar semakin matang secara emosional dan pribadi.

Masa penantian tersebut justru menjadi kesempatan bagi Vivek untuk memperdalam pengalaman pelayanan. Ia kemudian terlibat sebagai misionaris awam di Snehateeram, sebuah rumah singgah yang melayani masyarakat miskin dan mereka yang membutuhkan.

Di tempat itu, Vivek bahkan menjalankan tugas sebagai pengurus sekaligus sopir ambulans. Ia berhadapan langsung dengan penderitaan orang-orang kecil, merawat mereka yang sakit dan mendampingi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Pelayanan tersebut semakin meneguhkan keyakinannya bahwa hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Dua Puluh Delapan Tahun Kemudian

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Vivek ke Seminari Keuskupan Jhansi, tempat ia menjalani pembinaan spiritual dan pendidikan teologi sebagai calon imam.

Setelah melalui proses formasi yang panjang, Vivek Martin akhirnya ditahbiskan menjadi Imam Katolik.

Misa Kudus pertamanya dirayakan di Gereja Infant Jesus, Thundathinkadavu, Keuskupan Agung Verapoly. Momen tersebut menjadi puncak perjalanan hidup seorang anak yang pernah kehilangan rumah, tetapi kemudian menemukan sebuah keluarga yang membawanya semakin dekat kepada Tuhan.

Kini, Pastor Vivek Martin memilih untuk mengabdikan hidupnya terutama bagi anak-anak dan mereka yang terpinggirkan. Ia ingin meneruskan kasih yang dahulu ia terima ketika dirinya sendiri berada dalam keadaan tidak berdaya.

Kisahnya seakan menjadi pengingat bahwa sebuah pertolongan kecil dapat mengubah seluruh masa depan seseorang. Seorang anak yang dahulu ditemukan sendirian di tengah hiruk-pikuk stasiun kereta, kini berdiri di depan altar untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dan melayani sesama.

Lebih dari sekadar kisah tentang seorang anak yang ditemukan dan kemudian menjadi imam, perjalanan Pastor Vivek Martin adalah kisah tentang kasih yang menemukan seseorang sebelum dunia sempat melupakannya.

Gereja, dalam kisah ini, hadir bukan hanya sebagai bangunan tempat berdoa, tetapi sebagai keluarga yang membuka pintu bagi mereka yang tersesat, terluka, dan kehilangan arah.

Sebagaimana ungkapan iman yang mengawali kisah ini:

“Sebab perbuatan-perbuatan-Mu ajaib, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”

Dari sebuah stasiun kereta menuju altar, dari seorang anak yang kehilangan jalan pulang menuju seorang imam yang memilih menjadi jalan bagi orang lain—kisah Vivek Martin menjadi kesaksian bahwa kehidupan manusia dapat berubah ketika kasih hadir pada saat yang paling gelap.

Deo Gratias.

***

Sumber: Catholic Connect India, Shalom News, dan catatan kesaksian Jesus Youth internasional, akhir Agustus 2026.

 




Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama