Dari atas jembatan itu, sungai tampak mengalir
seperti biasa. Air tidak pernah bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Ia hanya mengalir, membawa waktu dari hulu menuju hilir. Manusia berbeda.
Manusia harus memilih ke mana hendak berjalan. Dan kini, setelah Jembatan
Gantung Numbei berdiri, pertanyaan terpenting bukan lagi bagaimana masyarakat
menyeberang sungai, melainkan: “Ke mana
Numbei hendak menyeberang?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi
di baliknya terdapat kegelisahan besar tentang masa depan sebuah kampung. Sebab
sebuah jembatan tidak pernah menjadi tujuan perjalanan. Ia hanyalah kemungkinan
untuk sampai ke tempat lain. Begitu pula pembangunan. Jalan bukan tujuan.
Gedung bukan tujuan. Jembatan bukan tujuan. Manusia yang lebih sejahtera—itulah
tujuan pembangunan.
Jembatan Sudah Berdiri,
Tetapi Numbei Belum Selesai Dibangun
Kita boleh bergembira melihat Jembatan Gantung
Numbei berdiri gagah di atas sungai. Kita boleh berfoto, mengabadikan
peresmian, dan menyebutnya sebagai tanda kemajuan. Namun, setelah semua tepuk
tangan berhenti dan orang-orang pulang ke rumah masing-masing, ada satu
pertanyaan yang tersisa: “Apa yang akan kita lakukan setelah jembatan ini ada?”
Sebab jika besok masyarakat masih kesulitan membawa
hasil kebun ke pasar, anak-anak masih kesulitan mendapatkan akses pendidikan
yang baik, pelayanan kesehatan masih jauh, pemuda masih tidak memiliki ruang
untuk berkarya, dan lingkungan sungai semakin rusak, maka kita sesungguhnya
baru membangun satu jenis jembatan. Padahal Numbei membutuhkan banyak jembatan.
Tidak semuanya terbuat dari baja. Ada jembatan
pendidikan, jembatan ekonomi, jembatan kesehatan, jembatan teknologi, jembatan
budaya, dan yang paling penting, jembatan kesadaran.
Yang Pertama
Harus Berubah Adalah Cara Berpikir
Sebuah kampung tidak akan berubah hanya karena
pemerintah membangun sesuatu. Kampung berubah ketika manusia di dalamnya mulai
melihat masa depan dengan cara yang berbeda. Selama masyarakat berpikir bahwa
pembangunan adalah sesuatu yang selalu datang dari luar, kampung akan terus
menjadi penunggu. Tetapi ketika masyarakat mulai berkata, “Ini kampung kami.
Ini masa depan kami. Dan kami harus ikut menentukan arahnya,” maka pembangunan
mulai memiliki jiwa.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima pembangunan, tetapi sebagai
bagian dari proses pembangunan dan pemberdayaan desa. Desa diberi ruang untuk
mengatur kepentingannya berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakatnya.
Di sinilah Numbei harus mulai berubah: dari kampung
yang menunggu menjadi kampung yang merencanakan; dari kampung yang menerima
menjadi kampung yang menciptakan; dari kampung yang bergantung menjadi kampung
yang perlahan berdiri di atas kakinya sendiri.
Setelah
Jembatan, Bangun Jalannya
Tidak ada gunanya memiliki pintu jika tidak ada
jalan menuju rumah. Begitu pula jembatan. Jembatan Gantung Numbei harus
terhubung dengan jalan yang layak menuju permukiman, kebun, sekolah, dan pusat
aktivitas masyarakat. Karena itu, jalan harus menjadi pekerjaan berikutnya.
Bukan sekadar jalan untuk kendaraan, tetapi jalan
yang membuka mobilitas manusia. Jalan yang membuat petani lebih mudah membawa
hasil kebun, anak-anak lebih mudah pergi ke sekolah, warga lebih cepat
memperoleh pelayanan, dan kampung tidak lagi terasa jauh.
Sebab keterisolasian tidak selalu berupa sungai.
Kadang ia berupa jalan yang buruk.
Dari Kampung
Konsumsi Menjadi Kampung Produksi
Ada satu perubahan besar yang harus dilakukan
Numbei: cara melihat ekonomi. Jangan biarkan jembatan hanya menjadi jalan
keluar masyarakat dari kampung. Jadikan ia juga jalan keluar bagi hasil-hasil
terbaik kampung.
Apa yang ditanam masyarakat? Apa yang dipelihara?
Apa yang bisa diolah? Apa yang bisa dijual? Apa yang bisa menjadi produk khas
Numbei? Pertanyaan-pertanyaan itu harus mulai dijawab.
Petani tidak cukup hanya menghasilkan. Mereka
membutuhkan akses pasar. Pemuda tidak cukup hanya mencari pekerjaan. Mereka
membutuhkan ruang untuk menciptakan pekerjaan. Perempuan tidak cukup hanya
menjadi pelengkap ekonomi keluarga. Mereka harus memperoleh ruang untuk menjadi
pelaku ekonomi.
Jembatan harus membawa nilai ekonomi dalam dua arah:
peluang masuk dan hasil keluar.
Bangun Jembatan
yang Tidak Terlihat: Pendidikan
Saya percaya, kalau Numbei benar-benar ingin
berubah, investasi terbesar harus diletakkan pada manusia. Sebab besi dapat
berkarat, jalan dapat rusak, dan bangunan dapat runtuh. Tetapi ilmu yang telah
tumbuh dalam kepala seorang anak dapat dibawa ke mana saja.
Karena itu, Numbei membutuhkan ruang belajar, rumah
baca, perpustakaan kecil, akses internet, pelatihan keterampilan, kegiatan
literasi, dan ruang kreativitas anak muda. Tidak perlu menunggu bangunan besar.
Sebuah ruangan kecil yang dipenuhi buku bisa menjadi awal sebuah revolusi
besar.
Sebab terkadang sebuah kampung tidak membutuhkan
gedung yang megah untuk memulai perubahan. Ia hanya membutuhkan satu anak yang
mulai percaya bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik.
Jangan Lupakan
Kesehatan
Pembangunan juga harus membuat manusia hidup lebih
sehat. Posyandu harus diperkuat, air bersih harus tersedia, sanitasi harus
diperhatikan, dan kesehatan ibu serta anak harus menjadi prioritas. Ketika
masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan, jarak tidak lagi boleh menjadi
tembok.
Jembatan telah memendekkan jarak secara geografis.
Sekarang pelayanan publik harus memendekkan jarak kemanusiaan.
Sungai Bukan
Musuh
Ada ironi yang indah di sini. Kita membangun
jembatan karena ada sungai. Tetapi jangan sampai setelah jembatan berdiri, kita
melupakan sungai.
Sungai adalah bagian dari kehidupan Numbei. Ia bukan
sekadar sesuatu yang harus dilewati, melainkan sesuatu yang harus dijaga.
Bantaran sungai harus dirawat, sampah tidak boleh menjadi pemandangan,
pepohonan harus dipertahankan, dan kesadaran terhadap banjir serta bencana
harus ditumbuhkan.
Karena manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang
mampu menaklukkan alam. Manusia yang bijaksana adalah manusia yang tahu
bagaimana hidup berdamai dengan alam.
Numbei Harus
Memberi Tempat kepada Anak Muda
Ada satu kekayaan yang sering tidak terlihat dalam
sebuah kampung: anak muda. Mereka adalah tenaga, kreativitas, keberanian, dan
imajinasi. Tetapi imajinasi yang tidak diberi ruang akan berubah menjadi
keinginan untuk pergi.
Karena itu, Numbei harus menyediakan ruang bagi
pemuda untuk berkarya: olahraga, seni, budaya, teknologi, kewirausahaan,
dokumentasi kampung, media sosial, hingga pariwisata lokal. Semua dapat menjadi
pintu.
Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa dilakukan anak
muda untuk Numbei?” Pertanyaan yang lebih adil adalah: “Apa yang bisa diberikan
Numbei agar anak mudanya ingin tetap tinggal dan membangun kampung ini?”
Modern, Tetapi
Jangan Kehilangan Akar
Numbei boleh berubah. Bahkan harus berubah. Tetapi
jangan sampai perubahan membuatnya lupa kepada siapa dirinya.
Bahasa lokal, adat, cerita leluhur, musik, tarian,
tradisi, dan nilai gotong royong adalah akar. Pohon yang tinggi tetap
membutuhkan akar. Begitu pula kampung.
Modernitas tanpa akar akan mudah tumbang.
Maka pembangunan Numbei harus membuat masyarakat
semakin maju tanpa membuat mereka kehilangan identitas.
Sebab Kampung Juga Memerlukan Sebuah Mimpi
Mungkin inilah yang paling dibutuhkan Numbei setelah
jembatan dibangun: sebuah mimpi bersama.
Bukan mimpi seorang kepala desa. Bukan mimpi seorang
tokoh. Bukan pula hanya mimpi pemerintah. Tetapi mimpi seluruh masyarakat.
Mimpi tentang Numbei lima tahun ke depan, sepuluh
tahun ke depan, bahkan dua puluh tahun ke depan. Apakah kita ingin Numbei
menjadi kampung yang memiliki ekonomi kuat? Apakah kita ingin anak-anaknya
memperoleh pendidikan yang lebih baik? Apakah kita ingin hasil kebunnya dikenal
di luar kampung? Apakah kita ingin kawasan jembatan menjadi ruang publik yang
indah? Apakah kita ingin sungainya bersih? Apakah kita ingin pemuda kembali
setelah menempuh pendidikan di kota?
Semua itu harus dibicarakan. Sebab masa depan tidak
pernah lahir dari kebetulan. Masa depan lahir dari keputusan yang dibuat hari
ini.
Jembatan Gantung
Numbei adalah Sebuah Awal
Saya kembali melihat foto jembatan itu. Panjangnya
membentang. Kabel-kabelnya berdiri seperti garis-garis yang menggantungkan
harapan. Di bawahnya, sungai terus mengalir.
Dan saya membayangkan: mungkin jembatan ini tidak
akan pernah tahu berapa banyak anak yang akan melintasinya menuju sekolah. Ia
tidak akan tahu berapa banyak petani yang membawa hasil kebun melewatinya. Ia
tidak akan tahu berapa banyak ibu yang menggunakannya ketika membawa anak
mencari pertolongan. Ia juga tidak akan tahu berapa banyak pemuda yang suatu
hari akan pergi mencari ilmu dan kembali membawa pengetahuan ke kampung.
Jembatan itu hanya berdiri.
Manusialah yang memberinya makna.
Karena itu, jangan jadikan Jembatan Gantung Numbei sebagai monumen. Jadikan ia titik nol.
Dari titik itu, bangun jalan. Dari jalan, bangun
ekonomi. Dari ekonomi, bangun kemandirian. Dari pendidikan, bangun manusia.
Dari budaya, bangun identitas. Dari lingkungan, bangun keberlanjutan. Dan dari
semuanya, bangun masa depan Numbei.
Pada akhirnya, sebuah jembatan tidak pernah bertanya
siapa yang berjalan di atasnya. Ia hanya menyediakan jalan. Kini jalan itu
sudah tersedia.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita berani
berjalan lebih jauh?
Sebab Jembatan Gantung Numbei telah membantu
masyarakat menyeberangi sungai. Tetapi pekerjaan yang jauh lebih besar baru
saja dimulai:
“Sekarang, mari kita bantu Numbei menyeberangi keterbatasan.”
Dan mungkin, itulah makna terdalam sebuah jembatan: bukan
sekadar membuat dua tepian menjadi dekat, tetapi membuat sebuah masa depan
terasa mungkin.


