Ketika hujan semakin sulit diprediksi dan hari tanpa
hujan menjadi lebih panjang, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan sesuatu
yang lebih besar daripada sekadar perubahan musim. Kita sedang berhadapan
dengan perubahan iklim yang perlahan mengubah hubungan manusia dengan alam.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada musim kemarau 2026
mengalami kondisi lebih kering dari biasanya, sementara sejumlah wilayah juga
menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang. Angka-angka tersebut mungkin
tampak dingin dan abstrak jika hanya dibaca dalam laporan ilmiah, tetapi di
balik angka itu terdapat kehidupan manusia. Ada petani yang menatap ladangnya
dengan cemas, ada ibu yang harus berjalan lebih jauh mencari air, ada keluarga
yang menggantungkan kehidupan pada sumur yang semakin dangkal, dan ada
anak-anak yang mulai mengenal bahwa air bukan sesuatu yang selalu tersedia
ketika keran dibuka. Di sinilah perubahan iklim harus dibaca bukan hanya
melalui grafik dan statistik, tetapi melalui wajah manusia yang merasakan
akibatnya.
Kemarau sebenarnya bukan musuh manusia. Sejak
dahulu, masyarakat telah hidup berdampingan dengan siklus musim kering dan
musim hujan. Persoalannya muncul ketika keseimbangan alam mulai berubah dan
kemampuan manusia untuk beradaptasi tidak bergerak secepat perubahan tersebut.
Musim kemarau dan fenomena seperti El Niño bukanlah hal yang sama, tetapi
fenomena iklim tertentu dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung
bersamaan dengan musim kemarau. Karena itu, kita perlu berhenti memandang
kekeringan hanya sebagai sesuatu yang datang dari langit. Kekeringan juga
mengajak kita bercermin pada apa yang terjadi di bumi: bagaimana hutan
ditebang, bagaimana sumber air diperlakukan, bagaimana tanah digunakan, dan
bagaimana pembangunan sering kali lebih cepat daripada kemampuan alam untuk
memulihkan dirinya.
Di sinilah perubahan iklim membawa kita masuk ke
wilayah filsafat. Filsafat mengajarkan manusia untuk tidak berhenti pada
pertanyaan tentang apa yang terjadi, tetapi berani bertanya mengapa hal itu
terjadi dan apa tanggung jawab kita terhadapnya. Ketika sungai mengering,
pertanyaannya bukan hanya mengapa hujan tidak turun, tetapi apakah selama ini kita
telah menjaga daerah aliran sungai dengan baik. Ketika mata air semakin kecil,
kita perlu bertanya apakah hutan di sekitarnya masih kita lindungi. Ketika
tanah semakin sulit ditanami, kita perlu bertanya apakah kita masih
memperlakukan tanah sebagai sumber kehidupan atau hanya sebagai objek yang
boleh dieksploitasi demi keuntungan. Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita
pada kesadaran bahwa krisis lingkungan pada akhirnya adalah krisis cara
berpikir manusia. Kita terlalu lama melihat alam sebagai sesuatu yang berada di
luar diri kita, padahal manusia sendiri adalah bagian dari alam.
Bagi masyarakat di daerah-daerah yang sejak lama
akrab dengan musim kering, perubahan tersebut terasa jauh lebih nyata. Di Nusa
Tenggara Timur, misalnya, masyarakat telah mewarisi pengetahuan lokal tentang
bagaimana membaca musim, menyimpan air, memilih waktu bercocok tanam, dan
bertahan dalam kondisi kekeringan. Pengetahuan tersebut merupakan bentuk
kebijaksanaan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Namun ketika pola iklim
berubah semakin cepat, pengetahuan tradisional itu menghadapi tantangan baru.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bertahan menghadapi kemarau,
tetapi juga membutuhkan kebijakan publik yang mampu memperkuat ketahanan mereka
terhadap perubahan iklim. Air bersih, pertanian yang adaptif, perlindungan
sumber mata air, konservasi hutan, sistem peringatan dini, serta infrastruktur
yang sesuai dengan kondisi lokal tidak boleh dipandang sebagai kemewahan.
Semuanya merupakan bagian dari hak dasar masyarakat untuk hidup secara layak.
Lebih jauh lagi, perubahan iklim adalah persoalan
keadilan. Mereka yang paling merasakan dampak perubahan iklim belum tentu
mereka yang paling banyak menikmati keuntungan dari aktivitas yang menyebabkan
kerusakan lingkungan. Petani kecil, masyarakat desa, masyarakat pesisir,
anak-anak, dan kelompok berpenghasilan rendah sering kali memiliki kemampuan
paling terbatas untuk beradaptasi. Ketika sumber air mengering, mereka tidak
memiliki banyak pilihan. Ketika hasil pertanian gagal, mereka tidak memiliki
cadangan ekonomi yang besar untuk memulai kembali. Karena itu, membicarakan
perubahan iklim tanpa membicarakan keadilan sosial adalah pembicaraan yang
belum selesai. Kita tidak cukup hanya bertanya bagaimana menyelamatkan lingkungan,
tetapi juga harus bertanya siapa yang paling terdampak, siapa yang harus
bertanggung jawab, dan siapa yang selama ini memperoleh manfaat dari
eksploitasi sumber daya alam.
Kita juga perlu berhenti menyalahkan alam setiap
kali bencana datang. Kemarau panjang sering disebut sebagai takdir, banjir
disebut sebagai musibah, dan suhu panas dianggap sekadar perubahan cuaca.
Padahal manusia perlu membedakan antara sesuatu yang memang berada di luar
kendalinya dan sesuatu yang masih dapat diperbaiki. Kita tidak dapat memerintah
hujan untuk turun sesuai keinginan, tetapi kita dapat menjaga hutan agar air
hujan tidak segera hilang. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh dinamika
atmosfer, tetapi kita dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Kita tidak dapat menghentikan
panas matahari, tetapi kita dapat memperbaiki tata ruang, menanam pohon,
menjaga sumber air, dan mengurangi aktivitas yang memperparah pemanasan global.
Dengan demikian, manusia memang tidak berkuasa atas alam, tetapi manusia
memiliki tanggung jawab moral atas cara ia memperlakukan alam.
Barangkali inilah kesalahan terbesar peradaban
modern: manusia terlalu mudah mengira bahwa teknologi telah menjadikannya
penguasa bumi. Padahal teknologi seharusnya membuat manusia semakin sadar bahwa
kehidupan memiliki keterhubungan yang rumit. Air yang kita gunakan hari ini
berasal dari siklus alam yang jauh lebih tua daripada kehidupan kita. Pohon
yang kita tebang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh kembali. Tanah yang
rusak tidak dapat dipulihkan hanya dalam satu musim. Sungai yang tercemar
mungkin membutuhkan waktu panjang untuk kembali sehat. Karena itu, pembangunan
yang hanya menghitung keuntungan ekonomi hari ini tetapi mengabaikan kerugian
ekologis di masa depan sesungguhnya bukanlah kemajuan, melainkan utang yang
diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kemarau juga seharusnya menjadi ruang bagi
pendidikan untuk berbicara lebih dalam tentang hubungan manusia dengan bumi.
Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa perubahan iklim menyebabkan suhu
meningkat atau musim berubah. Mereka perlu memahami bahwa setiap tindakan
manusia memiliki konsekuensi ekologis. Mereka perlu belajar bahwa sungai bukan
sekadar tempat mengalirnya air, tetapi ruang kehidupan; bahwa pohon bukan hanya
bagian dari pemandangan, tetapi penjaga tanah dan air; bahwa menghemat air
bukan sekadar kebiasaan rumah tangga, tetapi bentuk penghormatan terhadap
kehidupan. Pendidikan lingkungan harus membentuk kesadaran bahwa bumi bukan
warisan milik satu generasi. Kita hanya meminjamnya dari mereka yang belum
lahir.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti
memandang kemarau hanya sebagai musim yang harus dilewati. Kemarau harus
menjadi cermin yang memantulkan kembali cara kita memperlakukan alam. Jika
sungai mengering, mungkin alam sedang bertanya kepada kita bagaimana kita
menjaga sumber air. Jika tanah semakin tandus, mungkin alam sedang
mempertanyakan cara kita mengelola lahan. Jika musim semakin sulit ditebak,
mungkin alam sedang mengingatkan bahwa manusia bukan pusat dari seluruh kehidupan.
Bumi tidak membutuhkan manusia untuk menyelamatkannya dalam arti yang sering
kita bayangkan. Justru manusialah yang membutuhkan bumi agar tetap menjadi
tempat yang layak dihuni.
Pada akhirnya, kemarau akan selalu datang. Matahari
akan tetap terbit dan tanah akan tetap membutuhkan air. Tetapi pertanyaan
terpenting bukanlah kapan hujan akan turun. Pertanyaan yang lebih dalam adalah
apa yang telah kita lakukan agar ketika hujan datang, bumi masih mampu
menerimanya, menyimpannya, dan membaginya kepada seluruh kehidupan. Perubahan
iklim bukan semata-mata persoalan cuaca. Ia adalah persoalan tentang pilihan
manusia, tentang keserakahan dan kebijaksanaan, tentang pembangunan dan
keadilan, tentang apa yang kita ambil dari alam dan apa yang kita tinggalkan
untuk generasi berikutnya. Mungkin suatu hari nanti anak-anak kita akan
bertanya: ketika kalian tahu bumi sedang berubah, apa yang kalian lakukan?
Jawaban atas pertanyaan itu sedang kita tulis hari ini—melalui setiap pohon
yang kita tanam, setiap sungai yang kita jaga, setiap tetes air yang kita
hemat, dan setiap keputusan yang kita ambil untuk berhenti memperlakukan alam
seolah-olah ia tidak pernah akan habis.
