Ada jalan yang masih menyisakan batu dan tanah.
Ada jalan yang setiap hari dilalui kaki-kaki kecil
menuju sekolah, roda kendaraan menuju pasar, dan langkah orang-orang yang
sedang mencari penghidupan.
Tetapi ada pula jalan yang lebih panjang dari
sekadar jarak.
Jalan kehidupan.
Di sanalah manusia belajar bahwa perjalanan bukan
hanya perkara bergerak dari satu tempat menuju tempat lain. Perjalanan adalah
tentang bagaimana seseorang bertahan ketika jalan tidak sebagaimana yang ia
bayangkan.
Dari Setapak Rai Numbei, kami memandang perjalanan
bukan sekadar sebagai sebuah gerak.
Ia adalah cerita.
Cerita tentang kampung-kampung yang masih menunggu
jalan yang layak. Tentang anak-anak yang menempuh jarak demi pendidikan.
Tentang petani yang membawa hasil kebun melewati jalan yang sulit. Tentang guru
yang tetap datang meski medan tidak selalu bersahabat. Tentang orang-orang
kecil yang setiap hari berjalan jauh, tetapi jarang disebut dalam berita
tentang kemajuan.
Sebab pembangunan sering kali diukur dari apa yang
telah berdiri.
Jalan yang telah diaspal.
Jembatan yang telah dibangun.
Gedung yang telah diresmikan.
Angka-angka yang telah dicapai.
Tetapi kita sering lupa bertanya:
Apakah semua itu benar-benar telah mengubah
perjalanan manusia yang berada di bawahnya?
Pertanyaan itu penting.
Sebab sebuah jalan tidak hanya menghubungkan dua
tempat. Ia seharusnya menghubungkan manusia dengan kesempatan.
Jembatan bukan sekadar beton dan besi. Ia seharusnya
menjadi penghubung antara harapan dan masa depan.
Sekolah bukan sekadar bangunan. Ia seharusnya
menjadi jalan bagi anak-anak untuk keluar dari lingkaran keterbatasan.
Dan pembangunan tidak seharusnya berhenti pada
seremoni.
Pembangunan baru memiliki makna ketika ia sampai
pada kehidupan manusia.
Di sepanjang jalan, kita menemukan irama yang
berbeda.
Ada yang melaju dengan kendaraan mewah.
Ada yang berjalan kaki.
Ada yang memiliki jalan tol menuju masa depan.
Ada yang harus melewati jalan berbatu untuk sekadar
mempertahankan hidup hari ini.
Di sinilah perjalanan juga menjadi cermin
ketidakadilan.
Tidak semua orang memulai perjalanan dari titik yang
sama.
Tidak semua anak lahir dengan kesempatan yang sama.
Tidak semua keluarga memiliki akses yang sama
terhadap pendidikan, kesehatan, teknologi, pekerjaan, dan kehidupan yang layak.
Karena itu, berbicara tentang perjalanan berarti
juga berbicara tentang keadilan atas jalan.
Siapa yang jalannya sudah dibuka?
Siapa yang masih menunggu?
Siapa yang harus berjalan lebih jauh hanya untuk
mendapatkan sesuatu yang bagi orang lain begitu dekat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin tidak
selalu nyaman.
Tetapi media tidak lahir hanya untuk membuat kita
nyaman.
Media juga harus menjadi cermin.
Dan ketika diperlukan, ia harus menjadi suara yang
mengetuk pintu-pintu kekuasaan.
Setapak Rai Numbei percaya bahwa sebuah kampung
tidak boleh hanya menjadi latar belakang pembangunan. Kampung harus menjadi
tujuan dari pembangunan itu sendiri.
Sebab di kampung-kampung itulah kehidupan sebenarnya
berlangsung.
Di tanah yang berdebu.
Di kebun-kebun yang jauh.
Di rumah-rumah sederhana.
Di ruang kelas yang mungkin belum sempurna.
Di jalan-jalan yang masih menunggu perhatian.
Di sana, masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak
kata-kata besar.
Mereka membutuhkan jalan yang benar-benar bisa
dilalui.
Sekolah yang benar-benar bisa digunakan.
Pelayanan yang benar-benar hadir.
Dan kebijakan yang benar-benar terasa.
Maka, jika hari ini perjalanan terasa panjang,
jangan buru-buru menganggap bahwa kita telah salah arah.
Barangkali jalan yang sulit sedang mengajarkan
ketabahan.
Namun pemerintah, pemimpin, dan seluruh mereka yang
memegang amanah publik juga perlu bertanya:
Mengapa sebagian rakyat harus menempuh jalan yang
begitu panjang untuk mendapatkan hak yang seharusnya dekat?
Sebab kesabaran rakyat bukan alasan untuk membiarkan
ketimpangan berlangsung selamanya.
Harapan bukan alasan untuk menunda keadilan.
Dan keterbatasan bukan alasan untuk menyerah pada
keadaan.
Kita boleh berjalan perlahan.
Tetapi arah harus jelas.
Kita boleh belum sampai.
Tetapi perjalanan harus membawa perubahan.
Dan kita boleh memiliki banyak kekurangan.
Tetapi jangan sampai kehilangan keberanian untuk
bertanya, mengkritik, dan memperbaiki.
Pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan siapa yang
paling cepat tiba.
Sebab ada perjalanan yang cepat tetapi tidak
meninggalkan makna.
Ada pula perjalanan yang panjang, melelahkan, bahkan
penuh luka, tetapi justru melahirkan manusia-manusia yang lebih kuat dan lebih
mengerti arti kehidupan.
Mungkin suatu hari nanti kita akan menoleh ke
belakang.
Kita akan melihat jalan tanah yang pernah kita
keluhkan.
Batu-batu yang pernah menghambat langkah.
Jembatan yang dahulu hanya menjadi impian.
Sekolah yang pernah berdiri dalam keterbatasan.
Dan kampung yang pernah dianggap terlalu jauh dari
pusat perhatian.
Lalu kita akan sadar:
ternyata perjalanan itu tidak sia-sia.
Sebab setiap langkah meninggalkan jejak.
Setiap perjuangan meninggalkan cerita.
Dan setiap jalan, betapapun panjangnya, selalu
menyimpan kemungkinan menuju masa depan yang lebih baik.
Dari Setapak Rai Numbei, kami percaya:
jalan bukan hanya tempat untuk dilewati.
Jalan adalah ruang tempat kehidupan diuji.
Tempat ketidakadilan terlihat.
Tempat harapan tumbuh.
Tempat manusia belajar tentang kesabaran.
Dan tempat kita akhirnya memahami bahwa kemajuan
bukan tentang seberapa jauh sebuah daerah terlihat dari pusat kekuasaan, tetapi
seberapa dekat negara hadir dalam kehidupan rakyatnya.
Karena itu, teruslah berjalan.
Tetapi jangan hanya berjalan.
Lihat jalan itu.
Lihat siapa yang masih tertinggal di belakang.
Dengarkan mereka yang suaranya nyaris tenggelam oleh
bising pembangunan.
Tanyakan ke mana arah perjalanan ini.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari
seberapa tinggi ia membangun gedung, tetapi juga dari seberapa manusiawi jalan
yang harus ditempuh rakyatnya untuk mencapai masa depan.
***
Setapak Rai Numbei
Menapaki tanah, membaca zaman, dan menyuarakan
kehidupan.
