banner Ketika Lupa Dipelihara, Pena Memilih Melawan

Ketika Lupa Dipelihara, Pena Memilih Melawan



Suara Numbei NewsMelawan lupa dengan pena adalah bentuk perlawanan paling hening, namun juga paling berbahaya bagi ketidakjujuran. Ia tidak menumbangkan kekuasaan dengan dentuman, tetapi menggerogotinya dengan ingatan. Pena bekerja pelan, nyaris tak terdengar, namun jejaknya melintasi zaman. Di tangannya, waktu tidak dibiarkan berlalu begitu saja; ia diminta bertanggung jawab atas apa yang pernah terjadi.

Lupa bukan sekadar kelemahan ingatan manusia, melainkan sering kali sebuah proyek. Ia dirawat, dipelihara, bahkan diajarkan. Dalam lupa, luka disembunyikan, kesalahan dimutihkan, dan sejarah direduksi menjadi catatan resmi yang rapi namun hampa nurani. Karena itu, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan tindakan moral—sebuah keberanian untuk tidak tunduk pada keheningan yang dipaksakan.

Pena hadir sebagai saksi bagi mereka yang tak memiliki mimbar. Ia memberi ruang bagi suara yang tenggelam oleh hiruk-pikuk kekuasaan dan kesibukan zaman. Ketika tangisan tak lagi didengar, dan jeritan dianggap mengganggu stabilitas, tulisan menjadi satu-satunya rumah bagi kebenaran. Di sana, pengalaman manusia diselamatkan dari penghapusan.

Menulis berarti menolak lupa, meski ingatan sering kali tidak ramah. Ingatan membawa luka, rasa bersalah, dan penyesalan. Namun justru di situlah letak kemanusiaannya. Lupa mungkin memberi ketenangan sesaat, tetapi ingatan memberi arah. Bangsa atau manusia yang memilih lupa akan berjalan ringan tanpa beban, tetapi juga tanpa kompas. Ia mudah tersesat, mudah mengulang kesalahan yang sama dengan wajah yang berbeda.

Pena tidak selalu menulis hal-hal besar. Ia juga mencatat yang kecil: nama-nama yang tak masuk buku sejarah, air mata yang jatuh di sudut kampung, ketidakadilan yang dianggap biasa karena terlalu sering terjadi. Dalam detail-detail itulah kemanusiaan diselamatkan. Sebab sejarah sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh para pemenang, tetapi juga oleh mereka yang kalah namun tetap mengingat.

Melawan lupa dengan pena juga berarti melawan waktu. Tubuh manusia rapuh, ingatan bisa pudar, tetapi kata-kata memberi perpanjangan usia bagi makna. Ketika seseorang menulis, ia seakan berkata kepada masa depan: jangan ulangi ini, atau jika terpaksa mengulanginya, lakukan dengan kesadaran. Tulisan menjadi warisan etis, bukan sekadar arsip.

Di era serba cepat, lupa semakin mudah terjadi. Informasi mengalir deras, tetapi makna sering tercecer. Kita tahu banyak hal, namun mengingat sedikit. Pena, dalam konteks ini, menjadi alat perlambatan. Ia mengajak manusia berhenti sejenak, merenung, dan memberi jarak kritis terhadap apa yang dialami. Menulis adalah upaya melawan dangkalnya zaman.

Lebih jauh, pena bukan hanya alat mengingat, tetapi juga alat merawat harapan. Dengan menulis, manusia percaya bahwa masa depan masih bisa belajar dari masa lalu. Bahwa luka yang dicatat dengan jujur dapat menjadi pelajaran, bukan dendam. Bahwa ingatan tidak harus berakhir pada kebencian, melainkan bisa berbuah kebijaksanaan.

Melawan lupa dengan pena adalah pilihan eksistensial. Ia menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang hidup dan mati, tetapi makhluk yang bertanggung jawab atas makna hidupnya. Selama pena masih bergerak, selama ada orang yang berani menulis dengan kejujuran, lupa tidak pernah sepenuhnya menang.

Sebab pada akhirnya, menulis adalah cara manusia berkata pada dunia dan pada dirinya sendiri: aku ingat, maka aku ada. Dan selama kita memilih ingat, kemanusiaan masih memiliki harapan untuk tetap utuh.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama