![]() |
| Seorang ibu di Kabupaten Malaka menunjukkan hasil karya kain adat motif garuda |
Pada masa ketika kerja
belum dipercepat oleh target dan angka, kampung selalu memulai sesuatu dengan
menunggu. Menunggu matahari naik cukup tinggi, menunggu air tenang, menunggu
hati orang-orang seimbang. Di tengah kampung berdiri fatu lulik, batu tua yang
tidak pernah dipindahkan. Di sanalah kata-kata disimpan agar tidak liar, dan
rencana ditimbang agar tidak rakus.
Ketika seorang tetua
memanggil Sabete Seladi, suara itu
tidak memerintah. Ia mengingatkan. Seperti we
yang mengalir ke sawah tanpa dipaksa, orang-orang datang membawa apa yang
mereka punya: tangan, waktu, dan kesediaan. Tanah disentuh dengan sopan, batu
dipikul dengan diam, dan keringat menjadi bahasa yang paling jujur.
Jalan yang lahir dari Sabete Seladi tidak pernah tergesa. Ia
tumbuh seperti jagung di musim kering—pelan, tetapi tahu kapan harus kuat.
Setiap orang mengenali bagian jalannya sendiri. Karena itu, ketika hujan datang
atau batu bergeser, tak perlu dipanggil, kampung sudah tahu apa yang harus
dilakukan.
Namun waktu bergerak
tanpa menunggu. Bahasa berubah. Kesabaran mulai dianggap lambat. Kata-kata baru
datang bersama sepatu bersih dan peta berwarna. Mereka berbicara tentang
percepatan, tentang masa depan yang harus dikejar sebelum terlambat. Tanah
mendengar, tetapi tidak diajak bicara.
Fatu lulik tetap
berdiri, namun tak lagi disentuh. Ia menjadi latar, bukan pusat. Upacara
dipercepat, doa dipersingkat, dan Sabete
Seladi disebut hanya sebagai hiasan di awal kalimat. Jalan mulai dibuka
sebelum semua hati tiba.
Aspal datang seperti
janji yang mengkilap. Ia menutup rai dengan keyakinan bahwa semuanya akan
bertahan lama. Orang-orang bertepuk tangan, kamera menangkap senyum, dan papan
nama dipasang dengan rapi. Tetapi air melihat sesuatu yang tidak dilihat
manusia.
Ketika hujan turun, we mencari jalannya sendiri. Ia
mengingat alur lama yang dulu dibuat bersama tanah. Di bawah lapisan aspal, air
bergerak pelan, menggerus tanpa suara. Retakan muncul bukan sebagai amarah,
tetapi sebagai peringatan.
Anak-anak berlari di
jalan baru itu. Mereka belum tahu bahwa tanah di bawah kaki mereka sedang
bertanya. Orang-orang dewasa mulai mengeluh, tetapi keluhan hanya naik ke udara
lalu jatuh kembali tanpa arah.
Seorang
tua duduk dekat fatu lulik yang kini berlumut. Ia menempelkan telinga ke batu,
seolah mendengar sesuatu.
“Tanah sedang lelah,” katanya pada cucunya.
“Kenapa?”
“Karena terlalu sering disuruh, jarang dimintai izin.”
Musim berganti, retakan
melebar. Batu penahan bergeser. Jalan yang dibangun cepat menjadi jalan yang
cepat menua. Tidak ada yang merasa benar-benar bertanggung jawab, karena sejak
awal, tidak semua merasa dilibatkan.
Pada suatu pagi, tanpa
pengumuman, warga berkumpul. Tidak ada pidato. Tidak ada papan proyek. Mereka
membawa air, batu, dan alat yang sudah tua. Mereka tidak menyebut Sabete
Seladi, tetapi bekerja seperti sedang mengingatnya kembali.
Bee diarahkan ulang agar
tidak melukai tanah. Fatu disusun dengan sabar. Tanah disentuh kembali dengan
rasa malu yang pelan. Tidak ada foto, tetapi ada keheningan yang penuh arti.
Anak-anak
berhenti bermain dan memperhatikan.
“Kenapa sekarang jalannya diperbaiki pelan?”
Seorang ibu menjawab,
“Karena kita sedang belajar mendengar lagi.”
Di kejauhan, papan nama
jalan mulai miring. Tulisan masih terbaca, tetapi tak lagi penting. Yang
penting adalah bekas telapak kaki yang bekerja bersama.
Sejak hari itu,
orang-orang di kampung mulai mengerti tanpa perlu rapat panjang: bahwa
pembangunan yang melupakan tanah akan selalu dikejar oleh perbaikan; bahwa
jalan yang lahir tanpa Sabete Seladi akan terus menuntut ongkos yang tidak
tercatat.
Fatu lulik kembali
dibersihkan. Bukan untuk disembah, tetapi untuk diingat. Tanah tidak diminta
memaafkan, hanya diajak berjalan pelan.
Di Malaka, lulik bukan
cerita lama. Ia adalah cara agar kekuasaan tidak berjalan sendirian, agar
pembangunan tidak berlari meninggalkan manusia, dan agar tanah tetap mengenali
langkah siapa yang melewatinya.
Dan tanah, yang sejak
awal sabar, kembali berbisik tanpa suara:
Bangunlah aku dengan sabar, atau aku akan mengajarkanmu arti menunggu.
Di situlah Rai Malaka
terus bertahan—bukan dengan kerasnya aspal, tetapi dengan ingatan yang tidak
pernah benar-benar hilang.
.jpg)