Judul Broken Strings bukan metafora yang
kebetulan. Senar adalah bagian paling vital dari sebuah alat musik; tanpanya,
musik tak pernah lahir. Namun senar pula yang paling mudah putus. Di titik ini,
Aurellie seperti sedang berbicara tentang manusia: makhluk yang keindahannya justru
bergantung pada bagian paling rapuh dalam dirinya. Kepatahan bukan anomali,
melainkan bagian inheren dari eksistensi.
Buku ini bergerak dalam
wilayah yang kerap dihindari: ruang antara kesedihan dan penerimaan. Aurellie
tidak mengglorifikasi luka, tetapi juga tidak berusaha menyingkirkannya. Ia
memposisikan luka sebagai bahasa—bahasa yang sering kita abaikan karena
dianggap tidak produktif, tidak kuat, atau tidak layak dipamerkan. Padahal,
justru di situlah kejujuran manusia bermula.
Secara filosofis, Broken Strings bersentuhan dengan
pemikiran eksistensial tentang makna penderitaan. Seperti yang pernah
disiratkan para pemikir eksistensialis, manusia tidak menemukan makna hidup
meski bebas dari penderitaan, tetapi justru melalui pergulatannya dengan rasa
sakit. Aurellie menghadirkan gagasan ini secara halus, tidak akademis, tetapi
sangat terasa: bahwa luka bukan lawan kehidupan, melainkan salah satu pintu
masuk menuju pemahaman diri.
Di tengah budaya modern
yang menuntut kebahagiaan instan, buku ini tampil sebagai kritik lembut namun
tajam. Media sosial, budaya motivasi berlebihan, dan narasi “harus kuat”
seringkali menjadikan luka sebagai aib. Broken Strings menolak logika itu. Ia
berkata: tidak semua kesedihan harus segera diubah menjadi prestasi, tidak
semua trauma harus segera disulap menjadi cerita sukses. Ada luka yang perlu
didiamkan sejenak agar bisa dimengerti.
Gaya bahasa Aurellie
bersahaja, namun sarat resonansi emosional. Kalimat-kalimatnya tidak dibangun
untuk mengesankan, melainkan untuk menyentuh. Ia menulis seolah sedang
berbicara kepada dirinya sendiri—dan secara ajaib, pembaca merasa sedang diajak
berbicara tentang dirinya. Inilah kualitas sastra yang paling sulit:
menghadirkan pengalaman personal yang terasa universal.
Buku ini juga mengajarkan
bahwa penyembuhan bukan garis lurus. Ia berliku, sering mundur, kadang terasa
stagnan. Broken Strings tidak
menawarkan ilusi “akhir bahagia” sebagai tujuan mutlak. Sebaliknya, ia mengajak
pembaca memahami bahwa hidup adalah proses merawat kepatahan, bukan
menghapusnya. Seperti senar yang diganti, disetel ulang, lalu kembali
berbunyi—meski dengan nada yang berbeda.
Secara kritis, Broken Strings dapat dibaca sebagai
perlawanan terhadap cara masyarakat modern memandang kerentanan. Di dunia yang
memuja kecepatan, efisiensi, dan pencitraan diri, kerentanan dianggap
kelemahan. Aurellie membalik logika itu: kerentanan justru adalah bentuk
keberanian paling jujur. Berani mengakui diri yang belum selesai, yang masih
belajar berdamai dengan masa lalu.
Lebih jauh, buku ini
juga berbicara tentang relasi—dengan diri sendiri dan dengan orang lain.
Kepatahan sering lahir dari relasi: cinta yang gagal, harapan yang tidak
terpenuhi, kepercayaan yang dikhianati. Namun Aurellie tidak terjebak pada
narasi menyalahkan. Ia mengajak pembaca melihat relasi sebagai ruang belajar:
tempat kita mengenal batas, memahami kehilangan, dan menemukan ulang arti
memberi serta menerima.
Inspirasi terbesar dari
Broken Strings bukanlah ajakan untuk menjadi kuat dalam pengertian klasik, melainkan
ajakan untuk menjadi otentik. Untuk berhenti berpura-pura utuh ketika
sebenarnya sedang retak. Untuk mengizinkan diri merasa lemah tanpa harus merasa
kalah. Dalam kejujuran itulah, manusia menemukan bentuk kekuatan yang lebih
dewasa dan berakar.
Pada akhirnya, Broken
Strings adalah pengingat bahwa hidup tidak selalu tentang memperbaiki apa yang
rusak, tetapi tentang memaknai apa yang tersisa. Senar yang putus tidak
menghapus nilai alat musik; ia hanya mengubah cara kita mendengarkan. Demikian
pula manusia: kepatahan tidak menghilangkan martabat, justru sering kali
memperdalam kemanusiaan.
Buku ini tidak
menawarkan jawaban final, dan mungkin itulah keindahannya. Ia membiarkan
pembaca bertanya, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Dalam dunia
yang bising oleh kepastian palsu, Broken Strings memilih menjadi sunyi yang
jujur. Dan dari kesunyian itulah, perlahan, musik kehidupan kembali
terdengar—tidak sempurna, tetapi nyata.
