Di sebuah kampung kecil
yang dikelilingi hamparan ladang dan rumah beratap seng, Tua Mateus duduk di
bale-bale bambu di depan rumahnya. Tangannya memegang rokok linting yang hampir
padam, sementara matanya menatap jalan setapak merah yang berubah menjadi
lumpur licin setelah hujan sore.
Jalan itu bukan sekadar
jalan. Ia adalah urat nadi kampung. Dari sanalah orang berjalan menuju kebun,
ke gereja, ke pasar, dan ke rumah duka ketika ada yang dipanggil pulang oleh
tanah leluhur.
Hari itu, jalan setapak
tampak lebih sepi dari biasanya.
Di bawah pohon asam tua
yang berdiri seperti penjaga waktu, dua laki-laki berdiri saling membelakangi.
Mereka masih bersaudara sepupu. Mereka dibesarkan dalam satu rumah adat, makan
sirih pinang dari wadah yang sama, dan menari likurai dalam pesta adat yang
sama. Namun sejak pemilihan kepala daerah berlalu, mereka menjadi dua garis yang
tak pernah lagi berpotongan.
Tua Mateus menghela
napas panjang.
“Tanah Malaka ini,” katanya pelan kepada cucunya, Sani, “terlalu luas untuk
menyimpan dendam. Tapi manusia sering kali membuat hatinya lebih sempit dari
halaman rumahnya sendiri.”
Sani menatap kedua
lelaki itu dengan bingung. Ia belum sepenuhnya mengerti mengapa orang dewasa
bisa berhenti berbicara hanya karena pilihan politik.
Guntur kembali
menggelegar. Suaranya menggema di antara rumah-rumah panggung dan kebun jagung
yang mulai menguning. Bagi Tua Mateus, suara itu seperti mengingatkan bahwa
manusia sering meniru langit—keras, gaduh, tetapi tidak selalu membawa
kesuburan.
Di kampung itu, politik
telah berubah menjadi cerita yang pahit. Ketika musim kampanye datang,
mobil-mobil besar masuk membawa musik keras dan janji yang tinggi. Orang-orang
disatukan oleh kaos warna-warni dan kata-kata yang terdengar manis seperti madu
hutan. Namun setelah musim berlalu, warna itu berubah menjadi sekat yang
memisahkan meja makan dan pesta adat.
Rumah adat yang dulu
menjadi tempat musyawarah kini sering sunyi. Orang datang hanya ketika ada
kepentingan, bukan lagi karena rasa persaudaraan. Bahkan dalam upacara adat,
orang duduk berkelompok, menimbang siapa kawan dan siapa lawan, seolah darah
persaudaraan bisa berubah warna seperti bendera.
“Dulu,” kata Tua
Mateus, “leluhur kita berperang untuk menjaga tanah dan martabat suku. Sekarang
orang berperang hanya untuk menjaga kursi yang bisa berpindah tangan dalam satu
musim.”
Hujan yang tersisa
menetes dari daun lontar, jatuh satu per satu seperti air mata yang tak diakui.
Jalan setapak di depan rumah menjadi saksi bisu bagaimana kampung perlahan
berubah. Banyak orang masih menyapa, tetapi sapaan mereka seperti daun
kering—ringan, rapuh, dan mudah diterbangkan angin curiga.
Tiba-tiba, seorang
perempuan tua berjalan melewati jalan setapak sambil membawa bakul berisi ubi.
Kakinya terpeleset, dan ubi-ubi itu berguling bercampur lumpur merah. Kedua
lelaki yang saling membelakangi itu melihat peristiwa itu. Mereka bergerak
sedikit, lalu berhenti, seolah dendam politik lebih berat daripada beban
seorang ibu tua.
Tua Mateus berdiri.
Langkahnya lambat, tetapi pasti. Ia memungut ubi-ubi itu satu per satu,
membersihkannya dengan kain lusuh yang ia bawa.
“Kalau tanah Malaka bisa
bicara,” katanya sambil jongkok di lumpur, “ia pasti malu melihat anak-anaknya
lebih setia pada dendam daripada pada adat yang mengajarkan persaudaraan.”
Guntur kembali
terdengar, namun kali ini lebih jauh, seperti suara yang mulai kehilangan arah.
Langit perlahan membuka celah cahaya, memperlihatkan warna senja yang lembut di
atas perbukitan.
Sani duduk di samping
kakeknya.
“Opa,” katanya pelan, “kenapa orang sulit berdamai setelah politik selesai?”
Tua Mateus tersenyum
pahit.
“Karena banyak orang menjadikan politik sebagai harga diri, bukan sebagai cara
melayani. Ketika mereka kalah, mereka merasa kehilangan kehormatan. Padahal
kehormatan manusia tidak pernah lahir dari kursi kekuasaan, tetapi dari
kemampuannya menjaga persaudaraan.”
Angin sore bertiup
pelan, membawa suara lonceng gereja dari kejauhan. Suara itu biasanya memanggil
orang untuk berdoa bersama. Namun kini, banyak hati yang datang dengan doa,
tetapi pulang membawa prasangka.
Senja semakin
tenggelam. Jalan setapak itu masih basah, memantulkan langit yang perlahan
menjadi ungu. Kedua lelaki yang tadi berdiri membelakangi akhirnya berjalan
melewati jalan yang sama, dengan jarak beberapa langkah, tanpa kata, tanpa
tatap mata.
Tua Mateus menatap
mereka lama.
“Malaka ini,” gumamnya, “dibangun oleh adat yang mengajarkan bahwa saudara
adalah harta paling mahal. Tapi politik sering datang seperti badai, membuat
orang lupa bahwa tanah ini diwariskan bukan untuk diperebutkan, melainkan untuk
dijaga bersama.”
Di kejauhan, guntur
terakhir menghilang di balik laut. Hujan berhenti sepenuhnya. Hanya tersisa bau
tanah basah dan jejak kaki manusia yang saling bersilang di jalan setapak
merah.
Sani memandang jalan
itu dengan mata yang belum mengenal kebencian. Ia melihat lumpur, tetapi juga
melihat kemungkinan. Ia melihat bekas langkah yang saling tumpang tindih,
seolah mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar berjalan sendiri.
Dan di tanah Malaka
yang sunyi, di antara ladang jagung dan rumah adat yang menyimpan cerita
leluhur, kehidupan terus berjalan—mencari cara agar suatu hari politik tidak
lagi menjadi guntur yang memecah persaudaraan, tetapi menjadi hujan yang
menumbuhkan kembali rasa satu darah, satu tanah, dan satu hati.
