Ribuan umat Katolik
dari dua kabupaten, yakni Flores Timur dan Lembata, memadati katedral untuk
menyaksikan langsung penahbisan imam Projo Keuskupan Larantuka tersebut.
Penahbisan Uskup Hans
dihadiri 34 uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia. Hadir pula pejabat
Nuntio Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, Gubernur NTT, sekitar 300 imam
Katolik, serta sejumlah pejabat daerah dari Flores Timur dan Lembata.
Mgr Fransiskus Kopong
Kung bertindak sebagai uskup penahbis utama. Ia didampingi dua uskup
ko-konsekrator, yakni Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere
Mgr Ewaldus Martinus Sedu.
Prosesi penahbisan berlangsung
meriah dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Komsos Keuskupan Larantuka
dan Komsos Keuskupan Agung Ende.
Sekretaris Jenderal
Keuskupan Larantuka, Fransiskus Kwaelaga, mengatakan, para uskup telah tiba
sejak sehari sebelumnya untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.
“Jumlah sekarang 1
pejabat nuntio, Kedutan besar Vatikan di Jakarta, Mgr. Michael A. Pawlowicz, 28
Uskup, 5 Uskup emeritus serta utusan keuskupan yang mewakili uskup 6 orang,”
kata Fransiskus Kwaelaga, Rabu pagi.
Dalam khotbahnya saat
misa penahbisan Romo Yohanes Hans Monteiro, Uskup Agung Ende, Monsinyur (Mgr)
Paulus Budi Kleden, SVD, menyinggung berbagai persoalan sosial mulai dari
kemiskinan, perhatian terhadap anak-anak, pinjaman online, hingga perdagangan
orang.
Uskup Budi juga
menjelaskan makna motto Uskup Hans Monteiro, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una
Spes (satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan), yang disebutnya sebagai inti
dari persatuan umat.
“Memberi perhatian yang
istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa dari berbagai bentuk
kekerasan dan kemiskinan. Kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan
empati, kemiskinan perhatian dan waktu. Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan
kepekaan bagi mereka yang berada di ujung keputusan terutama anak-anak. Kita
turut bertanggung jawab atas luka kemiskinan yang menyayat, kemiskinan dengan
berbagai konsekuensinya,” kata Uskup Budi.
Dia menegaskan,
terdapat jurang yang lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan
masyarakat yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Kondisi itu, menurut dia,
menuntut semua pihak untuk terus menjaga persatuan.
“Antara yang berada di
pusat kekuasaan dan yang terpental di wilayah pinggiran. Kita sering membangun
tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup
dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain,” imbuhnya.
Selain soal kemiskinan,
Uskup Budi juga menyinggung kondisi para petani dan nelayan yang terjebak dalam
cengkeraman tengkulak, serta keluarga-keluarga yang terjerat pelaku keuangan
yang tidak hanya memiskinkan, tetapi juga merendahkan martabat manusia.
“Seperti pinjol,
koperasi harian atau mingguan,” ujarnya.
Budi Kleden juga
mengajak umat Katolik untuk berani melawan praktik perdagangan orang serta
menghentikan pembabatan hutan yang merusak lingkungan.
Dia menegaskan, gereja
tidak hanya hadir sebagai struktur yang tertata rapi, tetapi juga harus menjadi
sakramen keselamatan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan.
“Pencemaran air, serta
eksploitasi kekayaan alam yang menghancurkan ekosistem dan menggoyangkan
kesatuan masyarakat,” tandasnya. (dtc) ***
