banner Tongkat Gembala Baru Larantuka, Mgr Hans Monteiro Diharap Hadirkan Gereja yang Menyelamatkan

Tongkat Gembala Baru Larantuka, Mgr Hans Monteiro Diharap Hadirkan Gereja yang Menyelamatkan



Suara Numbei News - Suara Numbei News - Romo Hans Monteiro yang ditunjuk Paus Leo XIV sebagai Uskup Larantuka menggantikan Mgr Fransiskus Kopong Kung, resmi ditahbiskan pada Rabu pagi (11/2/2026). Prosesi penahbisan digelar di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka mulai pukul 08.00 Wita.

Ribuan umat Katolik dari dua kabupaten, yakni Flores Timur dan Lembata, memadati katedral untuk menyaksikan langsung penahbisan imam Projo Keuskupan Larantuka tersebut.

Penahbisan Uskup Hans dihadiri 34 uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia. Hadir pula pejabat Nuntio Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, Gubernur NTT, sekitar 300 imam Katolik, serta sejumlah pejabat daerah dari Flores Timur dan Lembata.

Mgr Fransiskus Kopong Kung bertindak sebagai uskup penahbis utama. Ia didampingi dua uskup ko-konsekrator, yakni Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu.

Prosesi penahbisan berlangsung meriah dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Komsos Keuskupan Larantuka dan Komsos Keuskupan Agung Ende.

Sekretaris Jenderal Keuskupan Larantuka, Fransiskus Kwaelaga, mengatakan, para uskup telah tiba sejak sehari sebelumnya untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.

“Jumlah sekarang 1 pejabat nuntio, Kedutan besar Vatikan di Jakarta, Mgr. Michael A. Pawlowicz, 28 Uskup, 5 Uskup emeritus serta utusan keuskupan yang mewakili uskup 6 orang,” kata Fransiskus Kwaelaga, Rabu pagi.

Sakramen Keselamatan

Dalam khotbahnya saat misa penahbisan Romo Yohanes Hans Monteiro, Uskup Agung Ende, Monsinyur (Mgr) Paulus Budi Kleden, SVD, menyinggung berbagai persoalan sosial mulai dari kemiskinan, perhatian terhadap anak-anak, pinjaman online, hingga perdagangan orang.

Uskup Budi juga menjelaskan makna motto Uskup Hans Monteiro, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan), yang disebutnya sebagai inti dari persatuan umat.

“Memberi perhatian yang istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa dari berbagai bentuk kekerasan dan kemiskinan. Kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian dan waktu. Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan bagi mereka yang berada di ujung keputusan terutama anak-anak. Kita turut bertanggung jawab atas luka kemiskinan yang menyayat, kemiskinan dengan berbagai konsekuensinya,” kata Uskup Budi.

Dia menegaskan, terdapat jurang yang lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan masyarakat yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Kondisi itu, menurut dia, menuntut semua pihak untuk terus menjaga persatuan.

“Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental di wilayah pinggiran. Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain,” imbuhnya.

Selain soal kemiskinan, Uskup Budi juga menyinggung kondisi para petani dan nelayan yang terjebak dalam cengkeraman tengkulak, serta keluarga-keluarga yang terjerat pelaku keuangan yang tidak hanya memiskinkan, tetapi juga merendahkan martabat manusia.

“Seperti pinjol, koperasi harian atau mingguan,” ujarnya.

Budi Kleden juga mengajak umat Katolik untuk berani melawan praktik perdagangan orang serta menghentikan pembabatan hutan yang merusak lingkungan.

Dia menegaskan, gereja tidak hanya hadir sebagai struktur yang tertata rapi, tetapi juga harus menjadi sakramen keselamatan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan.

“Pencemaran air, serta eksploitasi kekayaan alam yang menghancurkan ekosistem dan menggoyangkan kesatuan masyarakat,” tandasnya. (dtc) ***



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama