banner Ibu dari Anak-Anakku, Penjaga Kehidupan yang Sunyi dari Tepuk Tangan

Ibu dari Anak-Anakku, Penjaga Kehidupan yang Sunyi dari Tepuk Tangan



Suara Numbei NewsSabtu, 21 Februari 2026, saya diam-diam berpikir bahwa ulang tahun bukanlah peristiwa tentang bertambahnya angka, melainkan tentang bertambahnya makna. Kita terlalu sering merayakan usia sebagai hitungan matematis, padahal usia sesungguhnya adalah akumulasi dari kesabaran yang tidak tercatat, dari air mata yang tidak diumumkan, dan dari cinta yang tidak pernah menuntut balasan.

Pada hari ini, ulang tahun istriku tercinta, saya menyadari bahwa seorang perempuan yang menjadi istri dan ibu sesungguhnya sedang menjalani bentuk filsafat yang paling konkret. Ia tidak berbicara tentang makna hidup di ruang kuliah, tetapi menghidupinya di dapur, di kamar anak-anak, di sela kelelahan yang tidak pernah ia jadikan alasan untuk berhenti mencintai.

Ia adalah ibu dari Felisha, Felin, dan Fidel. Tetapi menjadi ibu, saya kira, bukan sekadar melahirkan. Menjadi ibu adalah kesediaan untuk membagi diri menjadi banyak bagian, lalu tetap utuh. Ia hadir dalam tawa anak-anak, tetapi juga hadir dalam kecemasan yang tidak pernah mereka ketahui. Ia menjadi kekuatan yang tidak pernah mengaku kuat.

Di titik ini, saya mulai percaya bahwa cinta bukanlah perasaan, melainkan keputusan eksistensial. Ia memilih tinggal. Ia memilih bertahan. Ia memilih mencintai, bahkan ketika dunia tidak selalu ramah.

Filsuf mungkin menyebut manusia sebagai makhluk yang hidup menuju kematian. Tetapi seorang ibu, seorang istri, hidup menuju kehidupan orang lain. Ia menunda dirinya, agar orang lain dapat menjadi dirinya.

Ulang tahun, dengan demikian, bukan sekadar perayaan tentang dirinya. Ulang tahun adalah cermin bagi saya—tentang betapa banyak yang telah ia berikan, dan betapa sedikit yang mampu saya balaskan.

Ia tidak pernah meminta dunia. Ia hanya membangun dunia kecilnya sendiri: sebuah rumah, tiga anak—Felisha, Felin, Fidel—dan seorang suami yang masih terus belajar menjadi layak bagi cintanya.

Saya kemudian sampai pada satu kesimpulan yang sederhana tetapi mengguncang: barangkali kebahagiaan tidak pernah benar-benar kita miliki. Ia hadir dalam bentuk orang lain.

Dan bagi saya, kebahagiaan itu memiliki wajahnya.

Selamat ulang tahun, istriku.

Engkau bukan sekadar lebih tua hari ini.

Engkau lebih abadi.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama