Pada hari ini, ulang tahun istriku tercinta, saya
menyadari bahwa seorang perempuan yang menjadi istri dan ibu sesungguhnya
sedang menjalani bentuk filsafat yang paling konkret. Ia tidak berbicara
tentang makna hidup di ruang kuliah, tetapi menghidupinya di dapur, di kamar
anak-anak, di sela kelelahan yang tidak pernah ia jadikan alasan untuk berhenti
mencintai.
Ia adalah ibu dari Felisha, Felin, dan Fidel. Tetapi
menjadi ibu, saya kira, bukan sekadar melahirkan. Menjadi ibu adalah kesediaan
untuk membagi diri menjadi banyak bagian, lalu tetap utuh. Ia hadir dalam tawa
anak-anak, tetapi juga hadir dalam kecemasan yang tidak pernah mereka ketahui.
Ia menjadi kekuatan yang tidak pernah mengaku kuat.
Di titik ini, saya mulai percaya bahwa cinta
bukanlah perasaan, melainkan keputusan eksistensial. Ia memilih tinggal. Ia
memilih bertahan. Ia memilih mencintai, bahkan ketika dunia tidak selalu ramah.
Filsuf mungkin menyebut manusia sebagai makhluk yang
hidup menuju kematian. Tetapi seorang ibu, seorang istri, hidup menuju
kehidupan orang lain. Ia menunda dirinya, agar orang lain dapat menjadi
dirinya.
Ulang tahun, dengan demikian, bukan sekadar perayaan
tentang dirinya. Ulang tahun adalah cermin bagi saya—tentang betapa banyak yang
telah ia berikan, dan betapa sedikit yang mampu saya balaskan.
Ia tidak pernah meminta dunia. Ia hanya membangun
dunia kecilnya sendiri: sebuah rumah, tiga anak—Felisha, Felin, Fidel—dan
seorang suami yang masih terus belajar menjadi layak bagi cintanya.
Saya kemudian sampai pada satu kesimpulan yang
sederhana tetapi mengguncang: barangkali kebahagiaan tidak pernah benar-benar
kita miliki. Ia hadir dalam bentuk orang lain.
Dan bagi saya, kebahagiaan itu memiliki wajahnya.
Selamat ulang tahun, istriku.
Engkau bukan sekadar lebih tua hari ini.
Engkau lebih abadi.
