Orang-orang yang
berjalan di jalan itu dipercaya karena kemampuan mereka menyalakan pelita di
ruang-ruang belajar. Mereka dinilai dari cara mereka merawat kata, menghidupkan
angka, dan menumbuhkan keberanian berpikir di hati anak-anak yang masih belajar
mengenal dunia.
Namun, belakangan, di
sepanjang jalan setapak itu mulai tumbuh pintu-pintu kecil yang sebelumnya
tidak pernah ada. Pintu-pintu itu tidak menanyakan seberapa terang pelita yang
dibawa para pejalan. Ia justru lebih sering menanyakan hal-hal yang tidak selalu
terlihat dalam perjalanan menuju rumah pengetahuan.
Sebagian pejalan mulai
merasa bahwa langkah mereka sedang diukur bukan lagi dari jejak pengabdian,
melainkan dari hal-hal yang berada jauh di dalam ruang pribadi yang selama ini
dijaga dengan sunyi. Jalan yang dahulu terasa lapang perlahan menjadi lorong
yang penuh penilaian yang tidak selalu terdengar, tetapi terasa.
Di tanah Nusa Tenggara
Timur, orang-orang mengenal banyak peristiwa sakral yang tumbuh dari kesadaran
bersama. Ada upacara-upacara yang tidak pernah dipanggil dengan paksaan. Ia
lahir dari rasa hormat kepada keluarga, leluhur, dan semesta yang dipercaya
menjaga keseimbangan hidup. Nilainya hidup karena dijalani, bukan karena
diperlihatkan.
Tetapi ketika sesuatu
yang sakral diminta hadir dalam bentuk tanda yang harus diperlihatkan, makna
sering kali berubah menjadi sekadar bukti. Dan ketika bukti lebih penting
daripada kesadaran, sesuatu yang dahulu hidup dalam penghormatan perlahan bisa
kehilangan ruhnya.
Di antara para tetua
kampung, sering diceritakan bahwa beberapa perkara dalam hidup manusia memang
tumbuh dalam ruang keluarga dan percakapan batin yang tidak selalu perlu dibawa
ke ruang ramai. Bahkan hukum di negeri ini pun, dalam banyak hal, masih memberi
batas bahwa ada wilayah yang hanya dapat disentuh oleh mereka yang memiliki
ikatan paling dekat dengan seseorang.
Namun, jalan setapak
menuju rumah pengetahuan tampaknya sedang belajar arah baru. Ia mulai mengenal
pagar-pagar yang berdiri dengan alasan menjaga ketertiban. Pagar-pagar itu tampak
tenang, tetapi perlahan dapat membuat sebagian pejalan merasa bahwa tidak semua
langkah dinilai dari terang yang mereka bawa.
Sebagian pejalan
mungkin memilih tetap berjalan dengan kepala tegak. Sebagian lain mungkin
berjalan dengan hati yang lebih berat. Dan mungkin ada pula yang diam-diam
bertanya apakah rumah pengetahuan masih menilai mereka dari cahaya yang mereka
nyalakan untuk anak-anak, atau dari bayangan yang melekat pada kehidupan
pribadi mereka.
Padahal sejak lama,
orang-orang percaya bahwa rumah pengetahuan dibangun untuk menumbuhkan
kebebasan berpikir. Ia seharusnya menjadi tempat di mana manusia belajar
menjadi utuh, bukan tempat di mana manusia merasa diawasi dalam setiap lapisan
hidupnya.
Jika jalan menuju rumah
itu terlalu dipenuhi pintu-pintu yang menilai hal-hal yang tidak selalu
berkaitan dengan pelita yang dibawa, maka jalan itu berisiko kehilangan para
pejalan terbaiknya. Bukan karena mereka tidak mampu berjalan, tetapi karena
mereka merasa jalan itu tidak lagi mempercayai langkah mereka.
Sementara itu,
anak-anak masih berjalan di belakang mereka. Mereka melihat bagaimana orang
dewasa menjaga jalan menuju rumah pengetahuan. Mereka belajar bukan hanya dari
pelajaran yang diajarkan, tetapi juga dari cara jalan itu dipelihara.
Mungkin suatu hari,
mereka akan mengingat bahwa rumah pengetahuan yang besar selalu berdiri di atas
kepercayaan. Bahwa karakter tidak pernah tumbuh dari tekanan, melainkan dari
keteladanan yang hidup dalam keseharian.
Dan ketika senja turun
di antara bukit-bukit batu dan ladang lontar, jalan setapak itu tetap
terbentang. Ia masih menunggu langkah-langkah yang percaya bahwa pendidikan
bukan hanya tentang aturan, tetapi tentang menjaga martabat manusia.
Sebab jalan menuju
cahaya tidak pernah benar-benar membutuhkan pagar yang terlalu banyak. Ia hanya
membutuhkan kepercayaan agar setiap pejalan berani membawa pelitanya sendiri.
