![]() |
| Surat YBR untuk sang ibu/Foto: Istimewa |
Peristiwa ini bukan
hanya menyayat hati keluarga, tetapi juga menampar kesadaran kolektif bangsa.
Ketika seorang anak merasa masa depannya runtuh hanya karena tidak memiliki
alat tulis, maka yang gagal bukan hanya keluarga atau lingkungan, tetapi juga
sistem yang seharusnya melindungi hak dasar anak untuk belajar dan tumbuh.
Pendidikan Gratis yang Masih Menyisakan Beban
Selama ini, pendidikan
sering digaungkan sebagai gratis dan terbuka bagi semua. Namun kenyataannya,
“gratis” sering hanya berhenti pada biaya sekolah formal. Di lapangan,
pendidikan tetap memiliki ongkos sosial dan ekonomi yang tidak kecil. Buku
tulis, pena, seragam, transportasi, bahkan biaya makan, menjadi beban
tersembunyi yang sering tidak terlihat oleh kebijakan.
Bagi keluarga yang
hidup dalam kemiskinan ekstrem, kebutuhan sederhana itu bisa berubah menjadi kemewahan.
Anak-anak dari keluarga rentan sering harus memilih antara tetap sekolah dengan
keterbatasan atau menyerah pada keadaan. Dalam banyak kasus, mereka tetap
bersekolah, tetapi membawa beban psikologis yang berat—rasa malu, rendah diri,
dan takut dianggap berbeda.
Di sinilah tragedi
kemiskinan struktural bekerja secara senyap. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk
kelaparan yang terlihat, tetapi dalam bentuk keterbatasan akses yang mematahkan
harapan secara perlahan.
Luka Sosial yang Lebih Dalam dari Angka Statistik
Sering kali kemiskinan
diukur melalui angka statistik: persentase penduduk miskin, garis kemiskinan,
atau indikator kesejahteraan. Namun tragedi seperti ini menunjukkan bahwa
kemiskinan memiliki dimensi psikologis dan emosional yang jauh lebih kompleks.
Seorang anak tidak
hanya membutuhkan fasilitas belajar, tetapi juga rasa diterima, dihargai, dan
diyakinkan bahwa ia memiliki masa depan. Ketika seorang anak merasa dirinya
menjadi beban karena meminta kebutuhan sekolah, maka di situlah luka sosial
mulai terbentuk.
Lebih menyedihkan lagi,
perasaan putus asa itu sering muncul dalam kesunyian. Banyak anak memilih diam,
menyimpan kesedihan, dan tidak tahu kepada siapa mereka harus bercerita. Dalam
konteks ini, sekolah seharusnya menjadi ruang aman yang tidak hanya mendidik
secara akademik, tetapi juga merawat kesehatan mental dan emosional peserta
didik.
Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Sekadar Empati Sesaat
Tragedi ini tidak cukup
disikapi dengan belasungkawa dan simpati di media sosial. Empati tanpa aksi
hanya akan menjadi kesedihan yang cepat berlalu. Peristiwa ini harus menjadi
momentum refleksi bersama: pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga.
Pemerintah memiliki
tanggung jawab memastikan data kemiskinan benar-benar akurat dan menjangkau keluarga
yang membutuhkan. Bantuan sosial harus hadir bukan hanya dalam bentuk program,
tetapi juga dalam mekanisme yang cepat, responsif, dan tepat sasaran.
Sekolah juga perlu
membangun sistem deteksi dini terhadap siswa yang mengalami kesulitan ekonomi.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga harapan. Kepekaan sosial guru
dapat menjadi benteng pertama yang menyelamatkan anak-anak dari rasa putus asa.
Sementara itu,
masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting. Budaya gotong royong yang
selama ini menjadi kekuatan bangsa harus terus dihidupkan. Kadang, satu buku
tulis yang diberikan dengan kepedulian bisa menjadi penyelamat masa depan
seorang anak.
Menghidupkan Solidaritas Pendidikan
Tragedi ini sekaligus
mengingatkan bahwa pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa solidaritas
sosial. Banyak daerah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, masih
menghadapi tantangan geografis, ekonomi, dan infrastruktur yang kompleks.
Anak-anak di daerah terpencil sering harus berjalan jauh, belajar dengan fasilitas
terbatas, dan menghadapi tekanan ekonomi keluarga.
Namun di tengah
keterbatasan itu, sering muncul semangat belajar yang luar biasa. Kisah-kisah
anak yang tetap bersekolah meski harus berjalan berkilo-kilometer menunjukkan
bahwa harapan masih hidup. Yang mereka butuhkan hanyalah dukungan agar harapan
itu tidak padam.
Solidaritas pendidikan
bisa dimulai dari langkah sederhana: program donasi alat tulis, beasiswa
komunitas, hingga gerakan orang tua asuh. Lebih dari itu, solidaritas juga
berarti membangun sistem pendidikan yang benar-benar inklusif dan berkeadilan.
Menjaga Harapan Anak Indonesia
Peristiwa di Ngada
harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh gedung
sekolah megah atau kurikulum canggih semata. Masa depan bangsa ditentukan oleh
bagaimana negara dan masyarakat menjaga harapan anak-anaknya.
Setiap anak berhak
bermimpi tanpa dibatasi oleh kemiskinan. Setiap anak berhak belajar tanpa
merasa menjadi beban bagi keluarganya. Ketika satu anak kehilangan harapan,
sesungguhnya bangsa sedang kehilangan satu potensi masa depan.
Tragedi ini memang
menyisakan duka mendalam. Namun duka seharusnya tidak berhenti sebagai
kesedihan, melainkan menjadi energi perubahan. Kita perlu memastikan bahwa
tidak ada lagi anak yang merasa masa depannya runtuh hanya karena tidak
memiliki buku dan pena.
Di tengah segala
keterbatasan, harapan harus tetap dijaga. Karena dari harapan itulah lahir
generasi yang mampu memutus rantai kemiskinan dan membawa perubahan bagi
negeri.
