banner Ketika Buku dan Pena Menjadi Barang Mewah: Catatan Kritis dan Seruan Nurani dari Tanah NTT

Ketika Buku dan Pena Menjadi Barang Mewah: Catatan Kritis dan Seruan Nurani dari Tanah NTT

Surat YBR untuk sang ibu/Foto: Istimewa


Suara Numbei News - Kisah pilu tentang seorang anak SD berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, bukan sekadar berita duka. Peristiwa itu adalah cermin retak dari wajah pendidikan, kemiskinan, dan kepedulian sosial kita. Seorang anak yang seharusnya bergulat dengan soal matematika dan cerita bergambar, justru bergulat dengan rasa putus asa karena tidak memiliki buku dan pena. Tragisnya, pergulatan itu berakhir dengan kehilangan yang tidak tergantikan.

Peristiwa ini bukan hanya menyayat hati keluarga, tetapi juga menampar kesadaran kolektif bangsa. Ketika seorang anak merasa masa depannya runtuh hanya karena tidak memiliki alat tulis, maka yang gagal bukan hanya keluarga atau lingkungan, tetapi juga sistem yang seharusnya melindungi hak dasar anak untuk belajar dan tumbuh.

Pendidikan Gratis yang Masih Menyisakan Beban

Selama ini, pendidikan sering digaungkan sebagai gratis dan terbuka bagi semua. Namun kenyataannya, “gratis” sering hanya berhenti pada biaya sekolah formal. Di lapangan, pendidikan tetap memiliki ongkos sosial dan ekonomi yang tidak kecil. Buku tulis, pena, seragam, transportasi, bahkan biaya makan, menjadi beban tersembunyi yang sering tidak terlihat oleh kebijakan.

Bagi keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, kebutuhan sederhana itu bisa berubah menjadi kemewahan. Anak-anak dari keluarga rentan sering harus memilih antara tetap sekolah dengan keterbatasan atau menyerah pada keadaan. Dalam banyak kasus, mereka tetap bersekolah, tetapi membawa beban psikologis yang berat—rasa malu, rendah diri, dan takut dianggap berbeda.

Di sinilah tragedi kemiskinan struktural bekerja secara senyap. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kelaparan yang terlihat, tetapi dalam bentuk keterbatasan akses yang mematahkan harapan secara perlahan.

Luka Sosial yang Lebih Dalam dari Angka Statistik

Sering kali kemiskinan diukur melalui angka statistik: persentase penduduk miskin, garis kemiskinan, atau indikator kesejahteraan. Namun tragedi seperti ini menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki dimensi psikologis dan emosional yang jauh lebih kompleks.

Seorang anak tidak hanya membutuhkan fasilitas belajar, tetapi juga rasa diterima, dihargai, dan diyakinkan bahwa ia memiliki masa depan. Ketika seorang anak merasa dirinya menjadi beban karena meminta kebutuhan sekolah, maka di situlah luka sosial mulai terbentuk.

Lebih menyedihkan lagi, perasaan putus asa itu sering muncul dalam kesunyian. Banyak anak memilih diam, menyimpan kesedihan, dan tidak tahu kepada siapa mereka harus bercerita. Dalam konteks ini, sekolah seharusnya menjadi ruang aman yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga merawat kesehatan mental dan emosional peserta didik.

Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Sekadar Empati Sesaat

Tragedi ini tidak cukup disikapi dengan belasungkawa dan simpati di media sosial. Empati tanpa aksi hanya akan menjadi kesedihan yang cepat berlalu. Peristiwa ini harus menjadi momentum refleksi bersama: pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan data kemiskinan benar-benar akurat dan menjangkau keluarga yang membutuhkan. Bantuan sosial harus hadir bukan hanya dalam bentuk program, tetapi juga dalam mekanisme yang cepat, responsif, dan tepat sasaran.

Sekolah juga perlu membangun sistem deteksi dini terhadap siswa yang mengalami kesulitan ekonomi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga harapan. Kepekaan sosial guru dapat menjadi benteng pertama yang menyelamatkan anak-anak dari rasa putus asa.

Sementara itu, masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting. Budaya gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan bangsa harus terus dihidupkan. Kadang, satu buku tulis yang diberikan dengan kepedulian bisa menjadi penyelamat masa depan seorang anak.

Menghidupkan Solidaritas Pendidikan

Tragedi ini sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa solidaritas sosial. Banyak daerah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi tantangan geografis, ekonomi, dan infrastruktur yang kompleks. Anak-anak di daerah terpencil sering harus berjalan jauh, belajar dengan fasilitas terbatas, dan menghadapi tekanan ekonomi keluarga.

Namun di tengah keterbatasan itu, sering muncul semangat belajar yang luar biasa. Kisah-kisah anak yang tetap bersekolah meski harus berjalan berkilo-kilometer menunjukkan bahwa harapan masih hidup. Yang mereka butuhkan hanyalah dukungan agar harapan itu tidak padam.

Solidaritas pendidikan bisa dimulai dari langkah sederhana: program donasi alat tulis, beasiswa komunitas, hingga gerakan orang tua asuh. Lebih dari itu, solidaritas juga berarti membangun sistem pendidikan yang benar-benar inklusif dan berkeadilan.

Menjaga Harapan Anak Indonesia

Peristiwa di Ngada harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh gedung sekolah megah atau kurikulum canggih semata. Masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana negara dan masyarakat menjaga harapan anak-anaknya.

Setiap anak berhak bermimpi tanpa dibatasi oleh kemiskinan. Setiap anak berhak belajar tanpa merasa menjadi beban bagi keluarganya. Ketika satu anak kehilangan harapan, sesungguhnya bangsa sedang kehilangan satu potensi masa depan.

Tragedi ini memang menyisakan duka mendalam. Namun duka seharusnya tidak berhenti sebagai kesedihan, melainkan menjadi energi perubahan. Kita perlu memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang merasa masa depannya runtuh hanya karena tidak memiliki buku dan pena.

Di tengah segala keterbatasan, harapan harus tetap dijaga. Karena dari harapan itulah lahir generasi yang mampu memutus rantai kemiskinan dan membawa perubahan bagi negeri.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama