banner Ketika Negara Hadir di Piring, tetapi Absen dalam Tanggung Jawab: Sepucuk Surat Terbuka

Ketika Negara Hadir di Piring, tetapi Absen dalam Tanggung Jawab: Sepucuk Surat Terbuka


Bapak Presiden,

Tidak ada yang lebih mudah menggerakkan harapan rakyat selain makanan.

Ia sederhana. Ia konkret. Ia menyentuh perut, bukan hanya pikiran. Maka ketika negara datang dengan program Makan Bergizi Gratis, publik melihatnya bukan sekadar sebagai kebijakan, tetapi sebagai janji peradaban: bahwa republik ini akhirnya turun tangan memastikan anak-anaknya tidak tumbuh dalam lapar, tidak belajar dalam kekurangan gizi, dan tidak bermimpi dalam kelemahan tubuh.

Program ini terdengar seperti jawaban atas dosa lama negara—dosa pembiaran.

Tetapi justru karena ia membawa nama yang begitu mulia, maka setiap cacat di dalamnya menjadi luka yang jauh lebih dalam.

Di sejumlah tempat, program ini tidak hadir sebagai penyelamat, melainkan sebagai sumber masalah baru. Anak-anak yang seharusnya menjadi penerima manfaat justru mengalami gangguan kesehatan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman berubah menjadi ruang panik. Orang tua yang seharusnya bersyukur justru diliputi kecemasan.

Ini bukan sekadar persoalan teknis.

Ini adalah persoalan kepercayaan.

Bapak Presiden,

Negara modern berdiri bukan hanya di atas wilayah, tetapi di atas legitimasi moral. Legitimasi itu lahir dari keyakinan rakyat bahwa kekuasaan bekerja untuk kebaikan mereka, bukan sekadar untuk memenuhi ambisi politik atau membangun warisan simbolik.

Masalahnya, program Makan Bergizi Gratis sejak awal telah diposisikan bukan hanya sebagai kebijakan sosial, tetapi sebagai ikon politik. Ia dipromosikan dengan intensitas tinggi. Ia dijadikan bukti keberpihakan. Ia dijadikan narasi tentang masa depan.

Namun, narasi yang terlalu cepat sering kali mengalahkan kesiapan yang sesungguhnya.

Negara tampak berlari lebih cepat daripada kemampuannya sendiri untuk memastikan keselamatan.

Dan di sinilah persoalan paling serius muncul: ketika simbol lebih diutamakan daripada substansi.

Publik mulai bertanya—dan pertanyaan ini sah secara moral maupun demokratis:

Apakah program ini dibangun di atas fondasi sistem yang benar-benar siap?

Apakah pengawasan kualitas dilakukan secara ketat dan independen?

Apakah keselamatan anak-anak benar-benar menjadi prioritas utama, atau hanya menjadi asumsi yang dianggap otomatis aman?

Bapak Presiden,

Kekuasaan memiliki kecenderungan berbahaya: ia bisa membuat para pengelolanya percaya bahwa niat baik sudah cukup.

Padahal, dalam etika publik, niat baik tidak pernah cukup.

Yang menentukan bukan apa yang ingin dilakukan negara, tetapi apa yang benar-benar dialami rakyat.

Dan ketika rakyat mengalami dampak negatif dari sebuah program negara, maka negara tidak bisa bersembunyi di balik niat.

Negara harus berdiri di depan.

Negara harus bertanggung jawab.

Negara harus berani mengakui jika ada kegagalan.

Sayangnya, yang sering terjadi dalam tradisi kekuasaan kita adalah kebalikannya. Negara lebih cepat membela diri daripada mengevaluasi diri. Kritik dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai koreksi. Suara publik dianggap gangguan, bukan sebagai bagian dari mekanisme demokrasi.

Padahal, justru kritik adalah bentuk terakhir dari harapan.

Rakyat yang masih mengkritik adalah rakyat yang masih percaya bahwa negara bisa diperbaiki.

Yang berbahaya adalah ketika rakyat berhenti berharap.

Bapak Presiden,

Ada dimensi lain yang lebih dalam dari persoalan ini, yaitu dimensi keadilan sosial.

Program Makan Bergizi Gratis sebagian besar menyasar sekolah-sekolah biasa, sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah di daerah, sekolah-sekolah yang siswanya tidak memiliki banyak pilihan.

Anak-anak dari keluarga sederhana tidak memiliki kemewahan untuk menolak.

Mereka mempercayai apa yang diberikan negara.

Mereka memakan apa yang disediakan negara.

Dan justru karena itulah, tanggung jawab negara menjadi berlipat ganda.

Negara tidak sedang memberi bantuan kepada objek statistik.

Negara sedang menyentuh tubuh manusia.

Tubuh anak-anak.

Tubuh masa depan bangsa.

Setiap kelalaian, sekecil apa pun, bukan sekadar kesalahan administratif.

Ia adalah kegagalan moral.

Bapak Presiden,

Sejarah politik penuh dengan contoh bagaimana program-program besar runtuh bukan karena niatnya salah, tetapi karena kesombongan dalam pelaksanaannya.

Kesombongan untuk percaya bahwa negara pasti benar.

Kesombongan untuk percaya bahwa kritik pasti berlebihan.

Kesombongan untuk percaya bahwa citra lebih penting daripada kenyataan.

Jika program ini ingin menjadi warisan yang membanggakan, maka satu-satunya jalan adalah kerendahan hati untuk mengevaluasi secara total.

Audit independen harus dilakukan.

Transparansi harus dibuka.

Kesalahan harus diakui.

Dan jika perlu, program harus dihentikan sementara sampai benar-benar siap.

Karena tidak ada program, betapapun populernya, yang lebih berharga daripada keselamatan rakyat.

Bapak Presiden,

Kekuasaan selalu sementara.

Tetapi kepercayaan publik jauh lebih rapuh.

Ia bisa runtuh bukan karena satu kesalahan besar, tetapi karena akumulasi kekecewaan kecil yang terus diabaikan.

Hari ini mungkin publik masih memberi kesempatan.

Tetapi kesempatan itu tidak tak terbatas.

Jika negara gagal melindungi mereka yang paling rentan, maka negara kehilangan alasan moral untuk meminta kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan hilang, yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa legitimasi.

Kekuasaan yang mungkin masih kuat secara administratif, tetapi kosong secara moral.

Bapak Presiden,

Anak-anak Indonesia tidak membutuhkan program yang terdengar hebat.

Mereka membutuhkan program yang benar-benar aman.

Mereka tidak membutuhkan retorika tentang masa depan.

Mereka membutuhkan perlindungan hari ini.

Dan negara, jika ingin tetap layak disebut sebagai pelindung, harus membuktikan bahwa setiap kebijakannya lahir bukan dari ambisi, tetapi dari tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan terletak pada seberapa besar program yang diluncurkan,

tetapi pada seberapa kecil rakyat yang dikorbankan karenanya.

Hormat kami,

Seorang warga negara
Yang percaya bahwa mencintai negara juga berarti berani mengingatkannya

 




Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama