banner Makan Bergizi Gratis, Anak Tetap Lapar Harapan: Pelajaran Pahit dari Tragedi Ngada NTT

Makan Bergizi Gratis, Anak Tetap Lapar Harapan: Pelajaran Pahit dari Tragedi Ngada NTT



Suara Numbei News - Tragedi yang menimpa seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seharusnya tidak hanya dibaca sebagai peristiwa duka, tetapi sebagai alarm keras bagi arah kebijakan sosial dan pendidikan di Indonesia. Ketika seorang anak menghadapi tekanan hidup karena keterbatasan kebutuhan sekolah yang sangat mendasar, bangsa ini sesungguhnya sedang dihadapkan pada pertanyaan moral yang jauh lebih besar: apakah negara benar-benar hadir bagi anak-anak yang paling rentan?

Di tengah situasi tersebut, pemerintah sedang menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran yang sangat besar. Program ini secara konsep tentu memiliki niat baik: memperbaiki kualitas gizi anak, mengurangi stunting, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Namun tragedi Ngada mengingatkan bahwa persoalan kesejahteraan anak tidak hanya berhenti pada soal perut kenyang, tetapi juga menyangkut ruang harapan, akses pendidikan, dan perlindungan sosial yang utuh.

Anggaran Besar, Tetapi Apakah Tepat Menyentuh Luka Anak?

Program MBG menunjukkan keberanian negara mengalokasikan anggaran besar demi masa depan generasi muda. Namun pertanyaan kritisnya bukan sekadar pada besarnya anggaran, melainkan pada ketepatan arah kebijakan.

Tragedi Ngada memperlihatkan kenyataan pahit bahwa masih ada anak-anak yang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan paling dasar. Dalam konteks ini, negara seolah menghadapi paradoks: di satu sisi menggelontorkan anggaran besar untuk pemenuhan gizi, tetapi di sisi lain masih terdapat celah perlindungan sosial yang membuat anak-anak rentan kehilangan rasa percaya diri dan harapan.

Pendidikan bukan hanya tentang memastikan anak hadir di sekolah dengan tubuh sehat, tetapi juga memastikan mereka hadir dengan rasa aman, dihargai, dan memiliki akses terhadap kebutuhan belajar.

Iris Murdoch dan Kritik terhadap Ego Kebijakan

Filsuf Iris Murdoch mengingatkan bahwa kegagalan moral sering muncul ketika manusia atau lembaga terjebak dalam ego. Ego dalam konteks kebijakan dapat muncul ketika negara lebih fokus pada pencapaian program yang terlihat besar dan monumental, tetapi kurang memperhatikan realitas konkret masyarakat kecil.

Murdoch menawarkan konsep unselfing, yakni keberanian keluar dari kepentingan diri dan benar-benar melihat kebutuhan orang lain secara jernih. Dalam perspektif ini, kebijakan publik seharusnya tidak hanya mengejar simbol keberhasilan, tetapi berani masuk ke ruang-ruang sunyi tempat masyarakat rentan berjuang setiap hari.

Tragedi Ngada menjadi pengingat bahwa keberhasilan kebijakan tidak bisa hanya diukur dari jumlah anggaran atau luasnya program, tetapi dari sejauh mana kebijakan itu mampu menyentuh kehidupan anak-anak yang paling rapuh.

Ketika Gizi Terpenuhi, Tetapi Tekanan Sosial Tetap Ada

Program MBG berangkat dari asumsi bahwa persoalan anak banyak berkaitan dengan kesehatan fisik. Asumsi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi menjadi tidak lengkap jika mengabaikan dimensi sosial dan psikologis anak.

Seorang anak dari keluarga miskin tidak hanya berjuang melawan rasa lapar, tetapi juga menghadapi tekanan sosial yang sering tidak terlihat. Ia berhadapan dengan rasa malu, perasaan tertinggal dari teman sebaya, dan ketakutan tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah.

Jika negara hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi tanpa memperkuat akses perlindungan sosial dan pendidikan inklusif, maka kebijakan berisiko menjadi parsial. Anak-anak mungkin mendapatkan makanan yang lebih baik, tetapi tetap hidup dalam tekanan sosial yang berat.

Pendidikan dan Solidaritas yang Terfragmentasi

Tragedi Ngada juga memperlihatkan bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih berjalan secara terfragmentasi. Program gizi berjalan sendiri, program bantuan sosial berjalan sendiri, dan sistem pendidikan berjalan dengan logika administratifnya sendiri.

Padahal kehidupan anak tidak pernah berjalan dalam sektor-sektor terpisah. Anak membutuhkan pendekatan holistik: kesehatan, pendidikan, dukungan psikologis, dan jaminan sosial yang terintegrasi.

Dalam kerangka Murdoch, kegagalan integrasi ini mencerminkan bentuk ego struktural—ketika lembaga berjalan berdasarkan logika sektoral, bukan berdasarkan realitas hidup manusia.

Bahaya Kebijakan yang Terlalu Simbolik

Kebijakan dengan anggaran besar sering memiliki daya tarik politik yang kuat. Ia mudah terlihat, mudah dipromosikan, dan mudah dijadikan simbol keberhasilan pembangunan. Namun tragedi Ngada mengingatkan bahwa pembangunan sosial tidak bisa hanya bertumpu pada simbol.

Keberhasilan sejati kebijakan sosial terletak pada kemampuannya mencegah anak-anak merasa sendirian menghadapi kesulitan hidup. Ketika masih ada anak yang kehilangan rasa aman dalam menjalani pendidikan, maka pembangunan sosial belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.

Mengarahkan Ulang Prioritas Perlindungan Anak

Tragedi ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Program MBG tetap penting, tetapi harus diiringi dengan penguatan kebijakan lain, seperti:

·        Jaminan perlengkapan sekolah bagi anak dari keluarga miskin

·        Sistem deteksi dini terhadap kerentanan sosial peserta didik

·        Penguatan peran sekolah sebagai ruang perlindungan sosial

·        Integrasi data kemiskinan agar tidak ada keluarga rentan yang terlewat

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Murdoch bahwa moralitas bukan sekadar niat baik, tetapi perhatian yang mendalam terhadap realitas kehidupan orang lain.

Luka Ngada sebagai Cermin Masa Depan Bangsa

Setiap anak adalah cermin masa depan Indonesia. Ketika seorang anak kehilangan harapan, bangsa ini sesungguhnya kehilangan sebagian potensi terbaiknya.

Tragedi Ngada tidak boleh hanya menjadi kisah duka yang dilupakan setelah perhatian publik mereda. Ia harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap arah kebijakan sosial nasional.

Anggaran besar memang penting, tetapi keberanian melihat kebutuhan paling sederhana dari anak-anak jauh lebih penting. Negara tidak hanya dituntut memberi makan, tetapi juga menjaga harapan.

Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan

Belajar dari pemikiran Iris Murdoch, bangsa ini perlu berani melepaskan ego kebijakan—ego yang terjebak pada kebanggaan program besar tanpa memastikan dampaknya menyentuh kehidupan nyata masyarakat kecil.

Makan bergizi dapat membuat anak tumbuh sehat, tetapi hanya keadilan sosial dan pendidikan yang manusiawi yang dapat membuat mereka tumbuh dengan harapan.

Dan masa depan bangsa, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh seberapa kenyang perut anak-anak Indonesia, tetapi oleh seberapa kuat bangsa ini menjaga mimpi mereka agar tetap hidup.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama