Di tengah situasi
tersebut, pemerintah sedang menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG)
dengan anggaran yang sangat besar. Program ini secara konsep tentu memiliki
niat baik: memperbaiki kualitas gizi anak, mengurangi stunting, dan mendukung
tumbuh kembang generasi muda. Namun tragedi Ngada mengingatkan bahwa persoalan
kesejahteraan anak tidak hanya berhenti pada soal perut kenyang, tetapi juga
menyangkut ruang harapan, akses pendidikan, dan perlindungan sosial yang utuh.
Anggaran Besar, Tetapi Apakah Tepat Menyentuh Luka
Anak?
Program MBG menunjukkan
keberanian negara mengalokasikan anggaran besar demi masa depan generasi muda.
Namun pertanyaan kritisnya bukan sekadar pada besarnya anggaran, melainkan pada
ketepatan arah kebijakan.
Tragedi Ngada
memperlihatkan kenyataan pahit bahwa masih ada anak-anak yang menghadapi
kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan paling dasar. Dalam konteks ini, negara
seolah menghadapi paradoks: di satu sisi menggelontorkan anggaran besar untuk
pemenuhan gizi, tetapi di sisi lain masih terdapat celah perlindungan sosial
yang membuat anak-anak rentan kehilangan rasa percaya diri dan harapan.
Pendidikan bukan hanya
tentang memastikan anak hadir di sekolah dengan tubuh sehat, tetapi juga
memastikan mereka hadir dengan rasa aman, dihargai, dan memiliki akses terhadap
kebutuhan belajar.
Iris Murdoch dan Kritik terhadap Ego Kebijakan
Filsuf Iris Murdoch
mengingatkan bahwa kegagalan moral sering muncul ketika manusia atau lembaga
terjebak dalam ego. Ego dalam konteks kebijakan dapat muncul ketika negara
lebih fokus pada pencapaian program yang terlihat besar dan monumental, tetapi
kurang memperhatikan realitas konkret masyarakat kecil.
Murdoch menawarkan
konsep unselfing, yakni keberanian
keluar dari kepentingan diri dan benar-benar melihat kebutuhan orang lain
secara jernih. Dalam perspektif ini, kebijakan publik seharusnya tidak hanya
mengejar simbol keberhasilan, tetapi berani masuk ke ruang-ruang sunyi tempat
masyarakat rentan berjuang setiap hari.
Tragedi Ngada menjadi
pengingat bahwa keberhasilan kebijakan tidak bisa hanya diukur dari jumlah
anggaran atau luasnya program, tetapi dari sejauh mana kebijakan itu mampu
menyentuh kehidupan anak-anak yang paling rapuh.
Ketika Gizi Terpenuhi, Tetapi Tekanan Sosial Tetap
Ada
Program MBG berangkat
dari asumsi bahwa persoalan anak banyak berkaitan dengan kesehatan fisik.
Asumsi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi menjadi tidak lengkap jika
mengabaikan dimensi sosial dan psikologis anak.
Seorang anak dari
keluarga miskin tidak hanya berjuang melawan rasa lapar, tetapi juga menghadapi
tekanan sosial yang sering tidak terlihat. Ia berhadapan dengan rasa malu,
perasaan tertinggal dari teman sebaya, dan ketakutan tidak mampu memenuhi
tuntutan sekolah.
Jika negara hanya fokus
pada pemenuhan kebutuhan gizi tanpa memperkuat akses perlindungan sosial dan
pendidikan inklusif, maka kebijakan berisiko menjadi parsial. Anak-anak mungkin
mendapatkan makanan yang lebih baik, tetapi tetap hidup dalam tekanan sosial
yang berat.
Pendidikan dan Solidaritas yang Terfragmentasi
Tragedi Ngada juga
memperlihatkan bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih berjalan
secara terfragmentasi. Program gizi berjalan sendiri, program bantuan sosial
berjalan sendiri, dan sistem pendidikan berjalan dengan logika administratifnya
sendiri.
Padahal kehidupan anak
tidak pernah berjalan dalam sektor-sektor terpisah. Anak membutuhkan pendekatan
holistik: kesehatan, pendidikan, dukungan psikologis, dan jaminan sosial yang
terintegrasi.
Dalam kerangka Murdoch,
kegagalan integrasi ini mencerminkan bentuk ego struktural—ketika lembaga
berjalan berdasarkan logika sektoral, bukan berdasarkan realitas hidup manusia.
Bahaya Kebijakan yang Terlalu Simbolik
Kebijakan dengan
anggaran besar sering memiliki daya tarik politik yang kuat. Ia mudah terlihat,
mudah dipromosikan, dan mudah dijadikan simbol keberhasilan pembangunan. Namun
tragedi Ngada mengingatkan bahwa pembangunan sosial tidak bisa hanya bertumpu
pada simbol.
Keberhasilan sejati
kebijakan sosial terletak pada kemampuannya mencegah anak-anak merasa sendirian
menghadapi kesulitan hidup. Ketika masih ada anak yang kehilangan rasa aman
dalam menjalani pendidikan, maka pembangunan sosial belum sepenuhnya menyentuh
akar persoalan.
Mengarahkan Ulang Prioritas Perlindungan Anak
Tragedi ini seharusnya
menjadi momentum refleksi nasional. Program MBG tetap penting, tetapi harus
diiringi dengan penguatan kebijakan lain, seperti:
·
Jaminan
perlengkapan sekolah bagi anak dari keluarga miskin
·
Sistem deteksi
dini terhadap kerentanan sosial peserta didik
·
Penguatan peran
sekolah sebagai ruang perlindungan sosial
·
Integrasi data
kemiskinan agar tidak ada keluarga rentan yang terlewat
Pendekatan ini sejalan
dengan gagasan Murdoch bahwa moralitas bukan sekadar niat baik, tetapi
perhatian yang mendalam terhadap realitas kehidupan orang lain.
Luka Ngada sebagai Cermin Masa Depan Bangsa
Setiap anak adalah
cermin masa depan Indonesia. Ketika seorang anak kehilangan harapan, bangsa ini
sesungguhnya kehilangan sebagian potensi terbaiknya.
Tragedi Ngada tidak
boleh hanya menjadi kisah duka yang dilupakan setelah perhatian publik mereda.
Ia harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap arah kebijakan sosial nasional.
Anggaran besar memang
penting, tetapi keberanian melihat kebutuhan paling sederhana dari anak-anak
jauh lebih penting. Negara tidak hanya dituntut memberi makan, tetapi juga
menjaga harapan.
Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan
Belajar dari pemikiran
Iris Murdoch, bangsa ini perlu berani melepaskan ego kebijakan—ego yang
terjebak pada kebanggaan program besar tanpa memastikan dampaknya menyentuh
kehidupan nyata masyarakat kecil.
Makan bergizi dapat
membuat anak tumbuh sehat, tetapi hanya keadilan sosial dan pendidikan yang
manusiawi yang dapat membuat mereka tumbuh dengan harapan.
Dan masa depan bangsa,
pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh seberapa kenyang perut anak-anak
Indonesia, tetapi oleh seberapa kuat bangsa ini menjaga mimpi mereka agar tetap
hidup.
