![]() |
| Peta UEA, Arab Saudi dan Yaman. Foto: hyotographics/Shutterstock |
Laporan The Wall Street Journal pada Selasa (24/3)
menyebut Arab Saudi dan UEA kini mulai mendukung militer AS, meski sebelumnya
menyatakan ingin tetap di luar perang.
Perubahan sikap ini dipicu serangan berulang ke
pangkalan militer dan fasilitas energi mereka.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) disebut
semakin dekat untuk membawa Arab Saudi terlibat dalam konflik. Riyadh bahkan
dikabarkan telah mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara King Fahd di
Semenanjung Arab.
Padahal sebelumnya, Saudi menegaskan fasilitasnya
tidak akan digunakan untuk menyerang Iran. Namun, sikap itu mulai berubah
seiring meningkatnya tekanan akibat serangan.
![]() |
| Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP |
“Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran
tidaklah tanpa batas,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan,
seperti dilansir The New York Post.
JUST IN: 🇸🇦🇦🇪 Saudi Arabia and the United Arab Emirates have taken steps toward joining the war against Iran, WSJ reports. pic.twitter.com/zS0rGrLZji
— BRICS News (@BRICSinfo) March 24, 2026
“Ide bahwa
negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah salah perhitungan,” lanjutnya.
Di sisi lain, UEA juga mulai mengambil langkah
terhadap kepentingan Iran. Pemerintah menutup sejumlah institusi yang terkait
Iran dan Garda Revolusi (IRGC) di Dubai dan mempertimbangkan pembekuan aset
bernilai miliaran dolar.
“Institusi tertentu yang terkait langsung dengan
rezim Iran dan IRGC akan ditutup melalui langkah yang ditargetkan,” demikian
pernyataan otoritas UEA.
Langkah ini dinilai dapat menekan ekonomi Iran yang
sudah tertekan akibat sanksi dan inflasi.
Selain itu, negara-negara Teluk, dilaporkan The Wall
Street Journal, juga khawatir terhadap ambisi Iran menguasai penuh jalur
strategis Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui
sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran bahkan disebut ingin mengontrol
penuh jalur itu dan memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas.
Meski begitu, keterlibatan langsung dalam perang
juga berisiko bagi negara Teluk. Konflik berpotensi meluas dan berkepanjangan,
bahkan bisa membuat mereka menghadapi Iran tanpa dukungan jika AS menarik diri.***
kumparan.com

