Inilah ironi terbesar pendidikan kita hari ini—literasi
dijalankan, tetapi tidak dihidupkan.
Jam literasi telah direduksi menjadi rutinitas
administratif. Ia hadir sebagai program, bukan sebagai kesadaran. Guru
mengawasi, siswa menjalani, sekolah melaporkan. Selesai. Tidak ada dialog,
tidak ada refleksi, apalagi kegelisahan intelektual. Padahal dalam perspektif Ilmu
Literasi, membaca adalah proses aktif membangun makna, bukan sekadar aktivitas
visual memindai teks.
Lebih parah lagi, praktik ini diam-diam sedang
membentuk generasi yang terbiasa “terlihat membaca” tanpa benar-benar berpikir.
Sekolah Gagal
Memaknai Literasi
Pengalaman sehari-hari di ruang kelas menunjukkan
satu fakta sederhana: siswa tidak benar-benar membaca, mereka hanya menjalankan
instruksi. Setelah 15 menit, ketika ditanya isi bacaan, sebagian besar terdiam.
Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena sistem tidak pernah menuntut mereka
untuk memahami.
Di titik ini, sekolah gagal menjalankan fungsi
dasarnya—membentuk manusia yang mampu berpikir.
Teori Constructivism menegaskan bahwa pengetahuan
dibangun melalui interaksi aktif. Namun yang terjadi di sekolah justru
sebaliknya: siswa diposisikan sebagai objek pasif. Mereka membaca tanpa tujuan,
tanpa pertanyaan, tanpa ruang untuk menafsirkan.
Literasi pun kehilangan ruhnya.
Guru: Antara
Pengawas dan Teladan yang Absen
Masalah lain yang jarang disadari: guru sendiri
tidak hadir sebagai pembaca. Dalam banyak situasi, guru hanya berdiri atau
duduk mengawasi, sementara siswa diminta membaca. Ini bukan sekadar soal
metode, tetapi soal keteladanan.
Dalam teori pembelajaran sosial Albert Bandura,
perilaku belajar terbentuk melalui observasi. Jika guru tidak membaca, siswa
menangkap pesan yang sangat jelas: membaca bukan kebutuhan, hanya kewajiban.
Akibatnya, literasi tidak pernah menjadi budaya—ia
berhenti sebagai formalitas.
Literasi Tanpa
Relevansi adalah Kekosongan
Salah satu akar masalah lainnya adalah keterputusan
antara bacaan dan kehidupan siswa. Banyak teks yang diberikan tidak menyentuh
realitas mereka. Tidak ada jembatan antara isi buku dan pengalaman hidup.
Di sinilah gagasan Paulo Freire menjadi relevan:
membaca harus menjadi alat untuk memahami dunia, bukan sekadar memahami kata.
Tanpa itu, literasi hanya akan melahirkan kepatuhan, bukan kesadaran.
Sekolah tampaknya lupa bahwa tujuan membaca bukan
menyelesaikan halaman, tetapi membangun cara berpikir.
Tindakan
Konkret: Menghidupkan Kembali Literasi
Jika sekolah serius ingin menyelamatkan literasi,
maka perubahan tidak bisa setengah hati. Beberapa langkah berikut bukan sekadar
alternatif, tetapi keharusan:
Pertama, paksa lahirnya makna.
Setelah membaca, siswa harus berbicara: menyampaikan
ide, mengajukan pertanyaan, bahkan meragukan isi teks. Tanpa itu, membaca
hanyalah aktivitas kosong.
Kedua, wajibkan refleksi tertulis.
Pendekatan reader-response dari Louise Rosenblatt
menunjukkan bahwa makna lahir dari interaksi personal dengan teks. Jurnal
sederhana jauh lebih bermakna daripada membaca tanpa jejak.
Ketiga, hadirkan guru sebagai pembaca.
Bukan instruktur, bukan pengawas—tetapi teladan.
Satu tindakan sederhana: membaca bersama siswa, bisa mengubah persepsi mereka
tentang literasi.
Keempat, kaitkan bacaan dengan realitas.
Tanyakan: apa hubungan teks ini dengan hidupmu?
Tanpa konteks, membaca hanya akan menjadi beban kognitif, bukan pengalaman.
Kelima, akui bahwa literasi tidak tunggal.
Pendekatan Multiliteracies menegaskan bahwa teks
hari ini tidak hanya berbentuk buku. Dunia digital, visual, dan naratif harus
masuk ke ruang kelas jika sekolah ingin tetap relevan.
Penutup: Membaca
atau Sekadar Berpura-pura?
Pertanyaan paling jujur yang harus dijawab sekolah
hari ini adalah:
apakah siswa benar-benar membaca, atau hanya sedang berpura-pura membaca?
Jika jawabannya yang kedua, maka jam literasi tidak
lebih dari ilusi pendidikan—terlihat hidup di atas kertas, tetapi mati dalam
praktik.
Dan jika ini terus dibiarkan, kita tidak sedang
gagal mengajarkan membaca. Kita sedang gagal membentuk manusia yang mampu berpikir.
Literasi seharusnya melahirkan kesadaran.
Namun di banyak sekolah, ia justru melahirkan
kepatuhan tanpa makna.
Itulah tragedi yang sedang berlangsung—diam-diam,
setiap hari, di dalam ruang kelas.
