![]() |
| Anggota Polisi NTT Aipda Arkadius Modestus Arno berlutut di tengah massa bentrok (tangkapan layar Facebook @Hendrik Ilo) |
Dua kelompok warga, yakni dari Gendang Kaca dan
Gendang Bung Leko, sudah saling berhadapan di badan jalan. Ketegangan itu
bahkan sempat terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial
melalui akun Facebook @Hendrik Ilo.
Dalam rekaman tersebut terlihat kedua kubu telah
bersiap dengan berbagai senjata tradisional. Beberapa warga membawa parang,
tongkat panjang yang diduga tombak, hingga batu. Mereka mengenakan pakaian
sehari-hari yang dipadukan dengan atribut adat Manggarai seperti ikat kepala
kain dan peci khas daerah setempat.
Situasi semakin mencekam ketika massa dari kedua
kelompok sudah berada dalam jarak yang sangat dekat dan siap saling serang.
Jalan utama yang biasanya dilalui kendaraan antarwilayah itu pun seketika
berubah menjadi titik rawan konflik.
Namun di tengah situasi yang nyaris berubah menjadi
bentrokan terbuka, kehadiran aparat kepolisian dari Polres Manggarai menjadi
penentu. Para anggota polisi segera turun tangan untuk memisahkan kedua
kelompok dan mencegah pertumpahan darah.
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam video
tersebut adalah ketika seorang anggota polisi terlihat berlutut di atas aspal
di antara dua kelompok warga yang sedang memanas. Dengan kedua tangan terkatup,
dia memohon kepada massa agar menahan diri dan tidak melakukan kekerasan.
Sementara itu, anggota polisi lainnya terus
memberikan imbauan kepada warga agar mundur dan tidak terpancing emosi.
Pendekatan persuasif dan dialogis terus dilakukan untuk meredakan ketegangan
yang sudah berada di titik kritis.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Perlahan,
warga dari kedua belah pihak mulai menahan diri dan situasi yang sebelumnya
sangat tegang berhasil dikendalikan tanpa terjadi bentrokan.
Sosok Polisi
Damai
Polisi yang melakukan aksi tersebut adalah Aipda
Arkadius Modestus Arno. Dia adalah anggota Polres Manggarai yang bertugas
sebagai Bhabinkamtibmas Desa Bulan.
Selama bertugas sebagai Bhabinkamtibmas, Aipda
Arkadius dikenal kerap membaur dengan masyarakat serta memberikan pelayanan
kepada warga. Dia juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan
memberikan edukasi kepada masyarakat.
Saat mengetahui warga dari dua kubu yang merupakan
masyarakat desa binaannya bersiap dengan senjata tajam untuk melakukan perang
tanding, ia memilih hadir di tengah mereka dan melakukan aksi sujud
memohon.
Tindakan itu membuat suasana yang semula tegang
berubah menjadi hening. Melihat Bhabinkamtibmas yang mereka kenal berlutut demi
mencegah pertumpahan darah, kedua kelompok warga akhirnya tersentuh. Mereka
mulai menahan diri, menurunkan senjata yang digenggam, lalu perlahan mundur
dari lokasi.
Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah memuji
tindakan Aipda Arkadius yang mengedepankan pendekatan persuasif dan kemanusiaan
dalam meredam konflik.
“Apresiasi khusus untuk Aipda Arkadius seorang
Bhabinkamtibmas yang hadir di tengah-tengah warga yang berkonflik dengan
melakukan aksi sujud memohon. Polisi hadir sebagai penyejuk yang mampu meredam
konflik,” kata Kapolres Levi.
Prioritaskan
Damai
Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Kepala Bagian
Tata Pemerintahan, Damianus Arjo, mengatakan pemerintah daerah bersama tim dari
kepolisian telah turun langsung ke lokasi untuk menenangkan situasi dan
mengajak kedua kelompok melakukan mediasi.
Menurut Damianus, pemerintah daerah masih mendalami
persoalan sengketa tanah di Lingko Wae Wirit karena masalah tersebut sebelumnya
belum pernah dimediasi secara resmi.
Pemerintah daerah bersama kepolisian masih mencari
waktu yang tepat untuk mempertemukan kedua pihak dalam proses mediasi.
Kehadiran polisi di tengah situasi tersebut tidak
hanya menunjukkan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memperlihatkan sisi
kemanusiaan dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda
NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, mengatakan Polri selalu mengedepankan
pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani potensi konflik di
masyarakat.
Menurutnya, kehadiran aparat kepolisian di lokasi
kejadian semata-mata untuk menjaga keamanan dan melindungi seluruh masyarakat
tanpa berpihak kepada kelompok mana pun.
“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami
di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya
adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat
tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Polisi telah memberikan imbauan kepada seluruh warga
agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang dapat memicu konflik serta mengajak
semua pihak untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di wilayah
Manggarai.
Peristiwa di Desa Bula menjadi pengingat bahwa di
balik seragam yang dikenakan, polisi tidak hanya hadir sebagai aparat penegak
hukum, tetapi juga sebagai penjaga kedamaian yang berupaya meredam konflik
dengan hati nurani.
Di tengah situasi yang nyaris berujung chaos,
pendekatan humanis yang ditunjukkan aparat kepolisian menjadi bukti bahwa
penyelesaian konflik tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan, tetapi bisa
dimulai dari keberanian untuk mengulurkan tangan demi perdamaian. *** liputan 6
