![]() |
PODCAST POS KUPANG - Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore dan Advokasi Officer YTB, John L. Mau dalam Podcast Pos Kupang bersama host News Editor Pos Kupang, Kamis, (23/4/2026) |
Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore
mengungkapkan hal ini dalam Podcast Pos Kupang, Kamis,
23/04/2026.
"Secara profesi memang pekerja swasta masih
yang tertinggi tapi sebenarnya ada satu yang sangat miris itu adalah ibu rumah tangga
menempati urutan kedua tertinggi terinfeksi HIV di Kota Kupang. Sedangkan kita
tahu bahwa ibu rumah tangga ini dengan dia punya pekerjaan konsentrasi lebih
banyak di rumah, mengurus anak, mengurus suami dan rumah tangga tapi kok dia
menjadi sangat rentan terinfeksi HIV. Dia tidak ke mana-mana tapi kok bisa dia
juga berisiko bahkan urutan kedua tertinggi terinfeksi HIV AIDS.
Dalam pengamatan kami sebagian besar dipengaruhi
oleh perilaku pasangan yang mungkin jajan di luar sehingga virus yang ada di
luar dibawa ke rumah sehingga akhirnya menginfeksi istri," kata James
Bore.
Sementara untuk Pekerja Seks Perempuan (PSP), kata
dia, sampai dengan hari ini datanya delapan persen sehingga menempati urutan
keempat atau kelima secara profesi.
"Memang kalau dilihat satu PSP kalau positif
bisa menularkan ke lima sampai enam orang jadi kalau misalnya angka di luar PSP
itu lebih tinggi wajar karena kalau sudah positif dia bisa menularkan ke
beberapa orang yang sumbernya dari satu PSP saja," ujarnya.
James mengungkapkan, pada tanggal 2 Desember 2025
lalu pihaknya pernah menjemput seorang PSP berumur 19 tahun, dibawa ke
puskesmas Pasir Panjang terus dites dan dinyatakan positif HIV.
"Waktu saya cerita dengan dia sehari bisa dapat
uang satu juta maka dia bisa melayani sampai dengan 15 orang per hari.
Sebagian pakai kondom sebagian tidak. Kalau kita
ambil contoh saja dari 15 yang dilayani kalau rata-rata 5 saja tidak pakai
berarti kurang lebih dalam satu bulan kalau misalnya dia konsisten seperti itu
bisa ada 150 orang. Kalau kali satu tahun 12 bulan berarti ada 1800 orang tidak
pakai kondom yang dilayani walaupun kita tidak pakai angka mutlak tapi artinya
ada orang-orang yang selama sekian lama ada di profesi itu dia layani tanpa
kondom dan dia sendiri baru mengetahui dia positif tanggal dua itu, nah ini
yang berisiko menjadi kasus-kasus baru kedepan dan kita tidak tahu mereka di
mana. Sehingga kalau bicara data kasus HIV itu kan kita ngomong tentang data
fenomena gunung es," kata dia.
Setiap tiga bulan sekali KPAD Kota Kupang
bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang, melakukan kegiatan mobile visiting
voluntary counseling testing untuk tes HIV dan sasaran yang paling utama adalah
kelompok-kelompok populasi kunci terutama para pekerja seks perempuan.
Karena ini kegiatan rutin dan setiap tahun
dilakukan, pihaknya sudah menginformasikan terlebih dahulu ke lokasi-lokasi
bahwa timnya akan turun ke lokasi untuk tes HIV sehingga para PSP diminta tidak
ke mana-mana.
"Mereka mau tidak mau harus dites karena mereka
ada di pekerjaan yang berisiko, mereka bisa tertular kapan saja,"
ujarnya.
Sementara untuk PSP yang berusia 18 tahun kebawah
James mengatakan, semua warga Kota Kupang ataupun warga dari luar tapi
beroperasi, bekerja dan beraktivitas di Kota Kupang tentu menjadi perhatian dan
tanggung jawab pemerintah Kota Kupang apalagi KPA adalah lembaga pemerintah
yang mau tidak mau memang harus menjangkau semua.
"Hanya memang kita juga dapat kendala karena
mereka ini pindah-pindah tempat. Kalau hari ini kita ketemu di kos A, besok
tidak tahu ada di mana lagi.
Kita dengan teman-teman dalam Tim pengendali HIV, bersama dengan YTB,
Inset,Flobamora Jaya Peduli, itu kita bangun kerja sama tujuannya untuk mungkin
belum bisa dijangkau oleh pemerintah tapi dengan bantuan dari teman-teman LSM,
Yayasan, bisa menjangkau mereka-mereka yang kita tidak jangkau,"
jelasnya.
Advokasi Officer Yayasan Tanpa Batas (YTB), John L.
Mau yang hadir dalam kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya memang
menjangkau para pekerja seks perempuan sejak tahun 2009.
Sumber: Pos Kupang
