banner Di Antara Cahaya Monitor dan Sunyi Rumah, Laki-Laki Belajar Bertahan

Di Antara Cahaya Monitor dan Sunyi Rumah, Laki-Laki Belajar Bertahan



Suara Numbei News - Banyak orang bertanya, mengapa laki-laki sering tidur larut malam?Mengapa lampu kamar kerja mereka masih menyala ketika seluruh rumah telah sunyi?

Mengapa mereka masih duduk di depan meja, menatap layar laptop, membuka dokumen pekerjaan, atau sekadar diam memandangi secangkir kopi yang mulai dingin?

Sebagian orang mungkin menjawab ringan: karena terlalu sibuk bermain telepon genggam. Karena tidak bisa lepas dari media sosial. Karena terlalu menikmati dunia malam.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik pintu kamar kerja yang tertutup, sering kali ada laki-laki yang sedang bertarung dengan hidupnya sendiri.

Ada yang sedang menghitung pengeluaran rumah tangga sambil diam-diam takut penghasilannya tak lagi cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Ada yang membuka ulang pekerjaan kantor karena takut dianggap gagal oleh atasannya. Ada yang mencoba mencari tambahan penghasilan di tengah ekonomi yang makin tidak menentu. Ada pula yang hanya duduk diam menatap meja kerja karena pikirannya terlalu penuh untuk dijelaskan.

Kamar kerja bagi banyak laki-laki bukan sekadar ruang bekerja. Ia telah berubah menjadi ruang sunyi tempat mereka menyimpan kecemasan yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.

Di ruang kecil itulah mereka belajar menelan rasa lelah tanpa suara.



Masyarakat sering memuji laki-laki ketika berhasil, tetapi jarang bertanya bagaimana mereka bertahan. Kita terbiasa melihat laki-laki sebagai simbol kekuatan, seolah mereka tidak boleh runtuh. Mereka diajarkan sejak kecil untuk menjadi tangguh, untuk tidak banyak mengeluh, untuk tetap berdiri bahkan ketika hidup sedang menghantam habis-habisan.

Kalimat “laki-laki harus kuat” terdengar sederhana, tetapi diam-diam telah menciptakan generasi laki-laki yang kesulitan mengungkapkan perasaan.

Akhirnya, malam menjadi satu-satunya waktu ketika mereka bisa jujur terhadap diri sendiri.

Di siang hari mereka sibuk memainkan peran: sebagai ayah, suami, anak, pekerja, pemimpin, atau tulang punggung keluarga. Mereka tersenyum, bercanda, dan terlihat baik-baik saja. Tetapi ketika semua orang tidur dan pintu kamar kerja tertutup, topeng itu perlahan dilepas.

Mereka mulai memikirkan hal-hal yang tidak berani mereka ucapkan di depan siapa pun.

Tentang cicilan yang belum lunas.
Tentang anak-anak yang membutuhkan biaya sekolah.
Tentang orang tua yang semakin menua.
Tentang pekerjaan yang sewaktu-waktu bisa hilang.
Tentang mimpi masa muda yang perlahan terasa menjauh.
Tentang rasa takut menjadi gagal.

Dan ironisnya, banyak laki-laki memilih memendam semuanya sendirian.

Sebab dunia sering kali tidak memberi ruang bagi laki-laki untuk terlihat rapuh. Ketika perempuan menangis, masyarakat cenderung memahami. Tetapi ketika laki-laki mulai bercerita tentang kelelahan hidupnya, tidak sedikit yang justru menganggapnya lemah.

Padahal menjadi laki-laki juga melelahkan.

Ada laki-laki yang setiap hari tampak kuat di luar, tetapi diam-diam kehilangan arah hidupnya. Ada yang tetap bekerja meski pikirannya nyaris runtuh. Ada yang tetap tersenyum demi keluarganya, walau dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Kita hidup di zaman ketika kesehatan mental sering dibicarakan, tetapi penderitaan emosional laki-laki masih kerap dianggap sepele. Mereka didorong untuk produktif tanpa henti, tetapi jarang diajarkan cara beristirahat secara batin.

Maka jangan heran bila banyak laki-laki memilih duduk lama di kamar kerja hingga larut malam. Bukan karena mereka tidak ingin tidur. Tetapi karena kepala mereka terlalu ramai.

Kamar kerja akhirnya menjadi tempat paling jujur.
Tempat mereka diam-diam merasa takut.
Tempat mereka menyusun ulang harapan yang hampir runtuh.
Tempat mereka mencoba tetap kuat demi orang-orang yang mereka cintai.

Kadang mereka hanya duduk dalam diam, bukan karena tidak punya teman bicara, tetapi karena merasa tidak ada yang benar-benar mengerti isi kepalanya.

Dan mungkin yang paling menyedihkan adalah: banyak laki-laki baru merasa boleh lelah ketika semua orang sudah tertidur.

Tulisan ini bukan untuk membenarkan kebiasaan tidur larut malam. Tetapi mungkin kita perlu lebih manusiawi dalam memahami laki-laki. Tidak semua laki-laki yang begadang sedang membuang waktu. Tidak semua yang diam berarti baik-baik saja.

Sebab di balik lampu kamar kerja yang masih menyala hingga tengah malam, bisa jadi ada seseorang yang sedang berusaha keras agar keluarganya tetap bahagia meski dirinya sendiri perlahan kehabisan tenaga.

Mungkin malam ini, ketika kita melihat seorang ayah, suami, kakak, atau teman laki-laki masih terjaga di kamar kerjanya, jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi ia sedang memikul beban yang terlalu berat untuk diceritakan.

Dan di dunia yang semakin bising ini, barangkali laki-laki tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan satu hal sederhana: seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.

Sebab tidak semua perjuangan bersuara.
Tidak semua luka terlihat.
Dan tidak semua laki-laki yang terjaga di malam hari sedang baik-baik saja.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama