banner Di Balik Larangan Film “Pesta Babi”, Ada Luka Bangsa yang Belum Sembuh

Di Balik Larangan Film “Pesta Babi”, Ada Luka Bangsa yang Belum Sembuh



Suara Numbei News - Indonesia kembali dipertontonkan pada sebuah ironi besar: sebuah film dokumenter diburu seolah-olah ia lebih berbahaya daripada korupsi, ketimpangan, perusakan hutan, atau kemiskinan yang nyata di depan mata. Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan film perang, bukan propaganda bersenjata, bukan pula ajakan makar. Ia hanyalah dokumenter—sekumpulan gambar, suara, dan kesaksian manusia tentang tanah yang sedang terluka. Tetapi justru karena itulah ia dianggap mengganggu.

Di negeri ini, kenyataan memang sering lebih menakutkan daripada kebohongan.

Film karya Dandhy Dwi Laksono itu membuka luka yang selama bertahun-tahun ditutup dengan jargon pembangunan. Ia berbicara tentang Papua Selatan, tentang masyarakat adat yang tanahnya perlahan menyempit, tentang hutan yang hilang, tentang investasi yang datang membawa janji kemajuan tetapi meninggalkan kecemasan bagi warga lokal. Dan seperti biasa, ketika suara-suara kecil mulai terdengar, negara atau kelompok tertentu segera merasa tidak nyaman.

Kita perlu bertanya dengan jujur: mengapa sebuah film dokumenter begitu ditakuti?

Apakah karena film itu bohong? Jika bohong, bantahlah dengan data dan fakta. Jika tidak akurat, lawan dengan penelitian dan dialog terbuka. Tetapi jika respons pertama justru pembubaran diskusi, intimidasi, dan pelarangan pemutaran, publik berhak curiga bahwa ada sesuatu yang memang ingin disembunyikan.

Bangsa yang sehat tidak takut pada kritik. Hanya kekuasaan yang rapuh yang gemetar terhadap kamera dokumenter.

Yang paling menyakitkan dari semua ini adalah cara Indonesia memperlakukan Papua. Selama puluhan tahun, Papua selalu hadir dalam dua wajah ekstrem: dieksploitasi sebagai surga sumber daya alam atau dicurigai sebagai wilayah yang harus terus diawasi. Orang Papua sering dibicarakan, tetapi jarang benar-benar didengar. Mereka dijadikan objek pembangunan, tetapi tidak diberi ruang yang cukup untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Film “Pesta Babi” mencoba mengembalikan suara itu. Ia menghadirkan Papua sebagai manusia, bukan sekadar proyek investasi atau statistik pertumbuhan ekonomi. Tetapi di Indonesia hari ini, suara rakyat kecil sering dianggap ancaman ketika bertabrakan dengan kepentingan besar.

Kita hidup dalam zaman ketika pembangunan diperlakukan seperti agama baru. Jalan raya dibangun, perusahaan masuk, kawasan industri diperluas, dan semua dipamerkan sebagai tanda kemajuan bangsa. Namun tidak banyak yang mau bertanya: berapa harga yang harus dibayar rakyat kecil untuk kemajuan itu?

Berapa banyak hutan adat yang hilang?
Berapa banyak sungai yang tercemar?
Berapa banyak masyarakat lokal yang tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri?

Dan lebih tragis lagi: berapa banyak tangisan yang tidak pernah masuk laporan resmi negara?

Indonesia terlalu sering merayakan pembangunan dari atas meja elite, tetapi lupa mendengar suara dari kampung-kampung yang kehilangan ruang hidupnya. Kita sibuk menghitung angka pertumbuhan ekonomi, tetapi gagal menghitung jumlah orang yang diam-diam kehilangan harapan.

Film ini menggugat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebijakan proyek di Papua. Ia menggugat cara berpikir negara yang sering memandang kritik sebagai ancaman, bukan sebagai alarm moral. Padahal kritik adalah bentuk cinta paling jujur terhadap bangsa. Mereka yang bersuara tentang ketidakadilan bukan berarti membenci Indonesia. Bisa jadi mereka justru sedang berusaha menyelamatkan Indonesia dari kerakusan dan ketulian kekuasaan.

Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan adalah budaya anti-dialog yang perlahan tumbuh di ruang demokrasi kita. Diskusi dibubarkan. Pemutaran film diawasi. Mahasiswa ditekan. Aktivis dicurigai. Padahal universitas seharusnya menjadi tempat paling aman untuk berpikir kritis, bukan tempat yang dipenuhi rasa takut.

Jika kampus saja mulai takut memutar film dokumenter, maka kita sedang menuju masyarakat yang kehilangan keberanian intelektual.

Kita harus jujur mengakui bahwa demokrasi Indonesia hari ini sedang sakit. Kebebasan berekspresi memang masih ada di atas kertas, tetapi dalam praktiknya sering dibatasi oleh tekanan sosial, kepentingan politik, dan ketakutan kolektif terhadap perbedaan pandangan.

Dan yang paling berbahaya bukanlah ketika negara melarang orang berbicara.

Tetapi ketika masyarakat mulai takut berpikir.

Film “Pesta Babi” sesungguhnya hanya sebuah cermin. Masalahnya, Indonesia tampaknya belum siap melihat wajahnya sendiri di dalam cermin itu. Kita ingin dikenal sebagai negara demokratis, tetapi masih mudah panik terhadap kritik. Kita bangga dengan keberagaman, tetapi sering gagal mendengar suara dari wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Papua terlalu lama diperlakukan seperti halaman belakang republik ini—kaya sumber daya, tetapi miskin perhatian kemanusiaan. Ketika masyarakat adat bersuara, mereka dicurigai. Ketika aktivis membela lingkungan, mereka dianggap mengganggu investasi. Ketika jurnalis membuat dokumenter, mereka diperlakukan seperti musuh.

Padahal sejarah selalu membuktikan: bangsa yang besar bukan bangsa yang berhasil membungkam kritik, melainkan bangsa yang berani mendengarkan luka rakyatnya sendiri.

Hari ini mungkin sebuah film dibubarkan.
Besok mungkin sebuah buku dilarang.
Lusa mungkin diskusi dianggap berbahaya.

Dan tanpa sadar, demokrasi mati perlahan bukan karena perang, tetapi karena ketakutan yang dipelihara terus-menerus.

Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang dialog, bukan pembungkaman. Kita membutuhkan keberanian untuk mendengar suara-suara yang tidak nyaman. Sebab dari sanalah demokrasi tumbuh. Dari perdebatan. Dari kritik. Dari keberanian menatap kenyataan, seburuk apa pun itu.

“Pesta Babi” mungkin hanyalah sebuah film dokumenter. Tetapi kegaduhan di sekitarnya telah membuka satu kenyataan pahit: republik ini tampaknya masih terlalu mudah takut pada kebenaran.

Dan ketika sebuah film lebih ditakuti daripada ketidakadilan itu sendiri, mungkin memang ada yang sedang salah dengan cara kita mencintai Indonesia.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama