banner Hari Kebangkitan Nasional ke-118: Bangkit dari Apa, dan untuk Siapa?

Hari Kebangkitan Nasional ke-118: Bangkit dari Apa, dan untuk Siapa?



Suara Numbei News - Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini kembali berdiri di bawah bendera merah putih sambil mengucapkan kata yang sama: kebangkitan. Kata itu terdengar gagah. Ia dipenuhi sejarah, pengorbanan, dan semangat persatuan. Namun di tengah hiruk-pikuk seremoni Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2026, bangsa ini seharusnya tidak hanya sibuk mengenang masa lalu, tetapi juga berani menatap luka-luka kenyataan yang sedang dihadapi Indonesia hari ini.

Sebab pertanyaan paling penting bukanlah seberapa meriah kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, melainkan: apakah rakyat benar-benar merasakan kebangkitan itu dalam hidup mereka sehari-hari?

Indonesia hari ini memang tampak bergerak maju. Jalan-jalan baru dibangun. Gedung-gedung tinggi menjulang. Teknologi berkembang cepat. Kota-kota dipenuhi cahaya dan layar digital. Tetapi di balik semua kemajuan itu, masih ada rakyat kecil yang hidup dalam gelap ketidakpastian. Masih ada anak-anak di pelosok negeri yang berjalan berkilo-kilometer demi sekolah. Masih ada guru honorer yang mengabdi puluhan tahun dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Masih ada petani yang bekerja dari pagi hingga petang tetapi tetap miskin di tanahnya sendiri.

Ironisnya, negeri yang kaya raya ini justru sering membuat rakyat kecil merasa asing di rumahnya sendiri. Tanah-tanah adat perlahan hilang. Laut diperebutkan. Hutan dibuka tanpa hati. Alam dikeruk atas nama pembangunan, sementara masyarakat kecil hanya menerima debu, banjir, dan janji-janji yang cepat dilupakan setelah pesta kekuasaan selesai.

Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa berbicara tentang pertumbuhan keadilan. Kita membanggakan investasi besar, tetapi sering lupa bertanya: apakah rakyat kecil ikut merasakan hasilnya? Ataukah mereka hanya menjadi penonton dari kemajuan yang tidak pernah benar-benar menyentuh kehidupan mereka?

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya bukan sekadar peringatan historis. Ia adalah alarm moral bagi bangsa ini. Sebab kebangkitan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari keberanian negara menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Sayangnya, realitas hari ini justru memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara mereka yang berkuasa dan mereka yang berjuang bertahan hidup. Ketika elite sibuk berbicara tentang angka dan citra, rakyat kecil sibuk memikirkan harga beras, biaya sekolah, lapangan kerja, dan tagihan hidup yang semakin berat.

Di tengah semua itu, generasi muda Indonesia tumbuh dalam kebingungan. Mereka didorong untuk bermimpi tinggi, tetapi sering dihadapkan pada kenyataan pahit: pendidikan mahal, lapangan kerja sempit, dan sistem yang kadang lebih menghargai koneksi daripada kemampuan. Banyak anak muda mulai kehilangan keyakinan bahwa negeri ini benar-benar memberi ruang yang adil bagi masa depan mereka.

Dan lebih menyedihkan lagi, suara-suara kritis sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal sejak awal, kebangkitan nasional lahir justru dari keberanian berpikir dan keberanian melawan ketidakadilan. Bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang berani mempertanyakan keadaan, bukan oleh mereka yang memilih diam demi kenyamanan kekuasaan.

Hari ini, kita hidup di era ketika informasi begitu cepat menyebar, tetapi empati justru semakin langka. Media sosial penuh kemarahan, fitnah, dan perpecahan. Politik identitas terus dimainkan. Rakyat diadu satu sama lain demi kepentingan sesaat. Persatuan yang dulu diperjuangkan dengan darah kini sering dikorbankan demi elektoral dan kekuasaan.

Padahal Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Indonesia juga tidak kekurangan orang pintar. Yang sering hilang adalah keteladanan, keberanian moral, dan kejujuran dalam memimpin. Negeri ini terlalu sering dipenuhi pidato tentang rakyat, tetapi terlalu sedikit tindakan nyata yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil.

Korupsi masih menjadi luka yang belum sembuh. Hukum masih terasa tajam bagi yang lemah dan lunak bagi yang kuat. Banyak pejabat berbicara tentang pengabdian, tetapi hidup dalam kemewahan yang sulit dijangkau rakyat biasa. Sementara itu, masyarakat kecil diminta terus bersabar menghadapi keadaan yang tidak kunjung berubah.

Lalu di mana makna kebangkitan itu?

Kebangkitan nasional bukan tentang seberapa besar panggung perayaan dibuat. Bukan tentang baliho, slogan, atau pidato yang indah didengar. Kebangkitan sejati adalah ketika seorang anak di pelosok memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan anak di kota besar. Kebangkitan adalah ketika petani dapat hidup layak dari tanahnya sendiri. Ketika guru dihargai, tenaga kesehatan dilindungi, hukum ditegakkan dengan adil, dan pemimpin berani hidup sederhana di tengah penderitaan rakyatnya.

Kebangkitan adalah ketika negara hadir bukan hanya saat rakyat membayar pajak atau menjelang pemilu, tetapi hadir ketika rakyat kesulitan makan, kehilangan pekerjaan, terkena bencana, atau membutuhkan keadilan.

Hari Kebangkitan Nasional ke-118 seharusnya menjadi momen refleksi besar bagi bangsa ini. Bahwa Indonesia tidak boleh hanya bangga pada sejarah perjuangan masa lalu, tetapi juga harus jujur melihat apakah cita-cita perjuangan itu masih hidup hari ini.

Sebab bangsa ini pernah bangkit melawan penjajahan. Tetapi kini, tantangan kita jauh lebih halus: ketidakadilan, kesenjangan sosial, kerakusan kekuasaan, hilangnya empati, dan lunturnya keberpihakan kepada rakyat kecil.

Dan mungkin, yang paling berbahaya bukanlah kemiskinan atau keterbelakangan, melainkan ketika bangsa ini mulai terbiasa melihat ketidakadilan sebagai hal yang wajar. Ketika rakyat terlalu lelah untuk berharap. Ketika generasi muda mulai percaya bahwa kejujuran tidak lagi penting untuk berhasil.

Jika itu terjadi, maka sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan ruh kebangkitannya.

Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh berhenti menjadi nostalgia tahunan. Ia harus menjadi panggilan nurani. Bahwa Indonesia belum selesai diperjuangkan. Bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya berarti keadilan. Dan bahwa tugas generasi hari ini bukan hanya mengingat sejarah, tetapi memastikan rakyat kecil benar-benar merasakan arti menjadi bagian dari bangsa yang merdeka.

Sebab bangsa yang benar-benar bangkit bukan bangsa yang paling sering meneriakkan kata “merdeka”, tetapi bangsa yang paling berani memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama