Sebab pertanyaan paling penting bukanlah seberapa
meriah kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, melainkan: apakah rakyat
benar-benar merasakan kebangkitan itu dalam hidup mereka sehari-hari?
Indonesia hari ini memang tampak bergerak maju.
Jalan-jalan baru dibangun. Gedung-gedung tinggi menjulang. Teknologi berkembang
cepat. Kota-kota dipenuhi cahaya dan layar digital. Tetapi di balik semua
kemajuan itu, masih ada rakyat kecil yang hidup dalam gelap ketidakpastian. Masih
ada anak-anak di pelosok negeri yang berjalan berkilo-kilometer demi sekolah.
Masih ada guru honorer yang mengabdi puluhan tahun dengan penghasilan yang
bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Masih ada petani yang
bekerja dari pagi hingga petang tetapi tetap miskin di tanahnya sendiri.
Ironisnya, negeri yang kaya raya ini justru sering
membuat rakyat kecil merasa asing di rumahnya sendiri. Tanah-tanah adat
perlahan hilang. Laut diperebutkan. Hutan dibuka tanpa hati. Alam dikeruk atas
nama pembangunan, sementara masyarakat kecil hanya menerima debu, banjir, dan
janji-janji yang cepat dilupakan setelah pesta kekuasaan selesai.
Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi
lupa berbicara tentang pertumbuhan keadilan. Kita membanggakan investasi besar,
tetapi sering lupa bertanya: apakah rakyat kecil ikut merasakan hasilnya?
Ataukah mereka hanya menjadi penonton dari kemajuan yang tidak pernah
benar-benar menyentuh kehidupan mereka?
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya bukan sekadar
peringatan historis. Ia adalah alarm moral bagi bangsa ini. Sebab kebangkitan
sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari keberanian negara
menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Sayangnya, realitas hari ini justru memperlihatkan
jurang yang semakin lebar antara mereka yang berkuasa dan mereka yang berjuang
bertahan hidup. Ketika elite sibuk berbicara tentang angka dan citra, rakyat
kecil sibuk memikirkan harga beras, biaya sekolah, lapangan kerja, dan tagihan
hidup yang semakin berat.
Di tengah semua itu, generasi muda Indonesia tumbuh
dalam kebingungan. Mereka didorong untuk bermimpi tinggi, tetapi sering
dihadapkan pada kenyataan pahit: pendidikan mahal, lapangan kerja sempit, dan
sistem yang kadang lebih menghargai koneksi daripada kemampuan. Banyak anak
muda mulai kehilangan keyakinan bahwa negeri ini benar-benar memberi ruang yang
adil bagi masa depan mereka.
Dan lebih menyedihkan lagi, suara-suara kritis
sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal sejak awal, kebangkitan nasional
lahir justru dari keberanian berpikir dan keberanian melawan ketidakadilan.
Bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang berani mempertanyakan keadaan, bukan
oleh mereka yang memilih diam demi kenyamanan kekuasaan.
Hari ini, kita hidup di era ketika informasi begitu
cepat menyebar, tetapi empati justru semakin langka. Media sosial penuh
kemarahan, fitnah, dan perpecahan. Politik identitas terus dimainkan. Rakyat
diadu satu sama lain demi kepentingan sesaat. Persatuan yang dulu diperjuangkan
dengan darah kini sering dikorbankan demi elektoral dan kekuasaan.
Padahal Indonesia tidak kekurangan sumber daya.
Indonesia juga tidak kekurangan orang pintar. Yang sering hilang adalah
keteladanan, keberanian moral, dan kejujuran dalam memimpin. Negeri ini terlalu
sering dipenuhi pidato tentang rakyat, tetapi terlalu sedikit tindakan nyata
yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Korupsi masih menjadi luka yang belum sembuh. Hukum
masih terasa tajam bagi yang lemah dan lunak bagi yang kuat. Banyak pejabat
berbicara tentang pengabdian, tetapi hidup dalam kemewahan yang sulit dijangkau
rakyat biasa. Sementara itu, masyarakat kecil diminta terus bersabar menghadapi
keadaan yang tidak kunjung berubah.
Lalu di mana makna kebangkitan itu?
Kebangkitan nasional bukan tentang seberapa besar
panggung perayaan dibuat. Bukan tentang baliho, slogan, atau pidato yang indah
didengar. Kebangkitan sejati adalah ketika seorang anak di pelosok memiliki
kesempatan pendidikan yang sama dengan anak di kota besar. Kebangkitan adalah
ketika petani dapat hidup layak dari tanahnya sendiri. Ketika guru dihargai,
tenaga kesehatan dilindungi, hukum ditegakkan dengan adil, dan pemimpin berani
hidup sederhana di tengah penderitaan rakyatnya.
Kebangkitan adalah ketika negara hadir bukan hanya
saat rakyat membayar pajak atau menjelang pemilu, tetapi hadir ketika rakyat
kesulitan makan, kehilangan pekerjaan, terkena bencana, atau membutuhkan
keadilan.
Hari Kebangkitan Nasional ke-118 seharusnya menjadi
momen refleksi besar bagi bangsa ini. Bahwa Indonesia tidak boleh hanya bangga
pada sejarah perjuangan masa lalu, tetapi juga harus jujur melihat apakah
cita-cita perjuangan itu masih hidup hari ini.
Sebab bangsa ini pernah bangkit melawan penjajahan.
Tetapi kini, tantangan kita jauh lebih halus: ketidakadilan, kesenjangan
sosial, kerakusan kekuasaan, hilangnya empati, dan lunturnya keberpihakan
kepada rakyat kecil.
Dan mungkin, yang paling berbahaya bukanlah
kemiskinan atau keterbelakangan, melainkan ketika bangsa ini mulai terbiasa
melihat ketidakadilan sebagai hal yang wajar. Ketika rakyat terlalu lelah untuk
berharap. Ketika generasi muda mulai percaya bahwa kejujuran tidak lagi penting
untuk berhasil.
Jika itu terjadi, maka sesungguhnya bangsa ini
sedang kehilangan ruh kebangkitannya.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tidak boleh
berhenti menjadi nostalgia tahunan. Ia harus menjadi panggilan nurani. Bahwa
Indonesia belum selesai diperjuangkan. Bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya
berarti keadilan. Dan bahwa tugas generasi hari ini bukan hanya mengingat
sejarah, tetapi memastikan rakyat kecil benar-benar merasakan arti menjadi
bagian dari bangsa yang merdeka.
Sebab bangsa yang benar-benar bangkit bukan bangsa
yang paling sering meneriakkan kata “merdeka”, tetapi bangsa yang paling berani
memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
