banner Merdeka Belajar atau Merdeka Berjanji? Negara Diuji di Hari Pendidikan

Merdeka Belajar atau Merdeka Berjanji? Negara Diuji di Hari Pendidikan

Upacara Bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 di SD Katolik Naibone Kabupaten Malaka


Suara Numbei News - Setiap 2 Mei, nama Ki Hajar Dewantara kembali dikutip. Kata “merdeka belajar” digaungkan. Upacara digelar. Pidato dibacakan. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang terasa makin nyata: negara terlalu pandai merayakan pendidikan, tetapi lamban membenahinya.

Pemerintah kerap mengklaim keberhasilan lewat angka—angka partisipasi sekolah, angka kelulusan, angka indeks pembangunan manusia. Tapi angka-angka itu sering kali menjadi selimut yang menutupi kenyataan: kualitas pendidikan masih timpang, arah kebijakan sering berubah tanpa fondasi kuat, dan suara guru di lapangan kerap diabaikan. Pendidikan seolah dikelola sebagai proyek, bukan sebagai tanggung jawab peradaban.

Kurikulum berganti, istilah diperbarui, program diluncurkan—namun implementasi di lapangan sering kedodoran. Guru dituntut inovatif, tapi dibebani administrasi yang menumpuk. Sekolah diminta adaptif terhadap teknologi, tapi banyak yang bahkan belum memiliki akses internet stabil. Ini bukan sekadar ironi—ini kegagalan perencanaan yang sistemik.

Lebih mengkhawatirkan, negara terlihat belum serius menutup jurang ketimpangan. Di kota, siswa bicara soal kecerdasan buatan dan globalisasi. Di banyak daerah, siswa masih berjuang dengan buku seadanya dan ruang kelas yang tidak layak. Ketika kesenjangan ini dibiarkan, maka pendidikan bukan lagi alat pemersatu—melainkan mesin yang memperlebar ketidakadilan.



Ada pula kecenderungan pemerintah menjadikan pendidikan sebagai panggung pencitraan. Program diluncurkan dengan gembar-gembor, tetapi evaluasi jujur jarang terdengar. Kritik dianggap gangguan, bukan masukan. Padahal pendidikan tidak butuh slogan baru setiap tahun—yang dibutuhkan adalah konsistensi, keberanian mengakui kegagalan, dan keseriusan memperbaiki.

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momen pemerintah untuk berhenti sejenak dari retorika dan mulai menjawab pertanyaan mendasar:
Apakah pendidikan kita benar-benar memerdekakan?
Ataukah justru menyesuaikan anak-anak untuk bertahan dalam sistem yang belum adil?

Warisan Ki Hajar Dewantara bukan sekadar kutipan indah. Ia adalah kritik terhadap kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat. Maka hari ini, kritik itu harus diarahkan kembali—kepada pemerintah yang memegang kendali kebijakan.

Karena jika negara terus abai, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas sekolah, tetapi masa depan generasi.
Dan sejarah tidak akan mengingat seberapa sering pemerintah berpidato tentang pendidikan—
melainkan seberapa berani ia memperbaikinya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei merupakan media informasi dan opini yang menyajikan berita-berita aktual, akurat, dan terpercaya mengenai berbagai dinamika kehidupan, mulai dari isu lokal, nasional, hingga internasional. Kami percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna, setiap fakta layak disampaikan dengan jernih, dan setiap opini harus dibangun di atas data, etika, serta tanggung jawab. Jernih Melihat Fakta. Tajam Menganalisis. Bijak Menginspirasi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama